Perhatian! Berita ini memuat konten dewasa.
Apakah anda sudah berusia 17 tahun atau lebih?

Langgar Gipo Surabaya Diusulkan Menjadi Cagar Budaya

loading...
Langgar Gipo Surabaya Diusulkan Menjadi Cagar Budaya
Warga membersihkan Langgar Gipo di Kalimas Surabaya. Foto/SINDONews/Ali Masduki
SURABAYA - Belakangan masyarakat ramai, termasuk di media sosial, membicarakan keberadaan Langgar Gipo, berada di Kalimas Udik, sekitar kawasan religi Ampel itu memiliki nilai sejarah yang tinggi.

Tidak hanya sejarah NU karena ada jejak KH. Hasan Gipo sebagai Ketua Umum PBNU pertama, tapi juga bagi bangsa ini. Namun kondisi Langgar Gipo saat ini kurang terawat.

Wakil Ketua DPRD Jawa Timur, Anik Maslachah, menaruh perhatian pada keberadaan Langgar Gipo ini. Menurut kader Muslimat NU ini, bila melihat nilai sejarahnya, Langgar Gipo ini adalah bangunan bersejarah atau bagian dari situs sejarah karena layak dijadikan cagar budaya.

Langgar Gipo Surabaya Diusulkan Menjadi Cagar Budaya


"Langgar Gipo menjadi tonggak sejarah pengembangan keagamaan, sekaligus ruang diskusi melawan penjajah. Maka sudah sepatutnya pemerintah Kota Surabaya menjadikannya sebagai cagar budaya," tutur Anik Maslachah, Rabu (17/6/2020).

Politisi PKB ini mengungkapkan, jejak sejarah bangunan Langgar Gipo begitu tinggi nilainya. Mulai sebagai tempat ibadah, ruang diskusi (pengembangan ilmu, sosial, budaya, ekonomi) serta politik (strategi melawan penjajah). Bahkan pernah menjadi tempat asrama haji pertama, sebelum diberangkatkan dengan kapal laut melalui Pelabuhan Tanjung Perak.



Karena itu, pihaknya berharap pada pemerintah Kota Surabaya intervensi melakukan revitalisasi dengan menfungsikan kembali Langgar Gipo sebagai tempat ibadah, sekaligus cagar budaya. Dengan begitu dapat menjadi referensi sejarah yang bisa diketahui oleh seluruh masyarakat, sekaligus akan membuka akses perekonomian sekitarnya.

Langgar Gipo Surabaya Diusulkan Menjadi Cagar Budaya


"Saya kira perlu dilakukan revitalisasi Langgar Gipo agar bisa dipergunakan kembali sebagai tempat ibadah. Sekaligus nantinya menjadi situs sejarah dan destinasi wisata yang nanti pengembangannya bisa sejalan dengan kawasan wisata teligi Ampel. Tentunya langkah-langkah itu bisa melibatkan ahli sejarah, pihak pemprov dan juga ahli waris," imbuh Anik.
halaman ke-1
preload video
TULIS KOMENTAR ANDA!
Top