Wisuda 1.249 Petani Milenial, Ini Impian Ridwan Kamil di Sektor Pertanian Jabar
Jum'at, 25 Maret 2022 - 06:28 WIB
loading...
A
A
A
Adapun peserta program Petani Milenial berasal dari berbagai latar belakang, mulai keluarga petani hingga sarjana non-pertanian seperti sarjana psikologi, sastra, mahasiswa, dosen, seniman, bahkan ibu rumah tangga.
"Para petani milenial yang diwisuda sebagian besar peserta laki-laki mencapai 88 persen dan 12 persen sisanya perempuan. Sedangkan dari kategori umur, usia 19-24 tahun sebanyak 19 persen, usia 25-29 tahun 26 persen, dan paling banyak peserta di usia 30-39 tahun yang mencapai 55 persen," paparnya.
Kang Emil menegaskan bahwa Petani Milenial bukanlah program 'karpet merah' yang secara instan bisa langsung menghasilkan keuntungan tanpa rintangan. Sebaliknya, program ini diibaratkan pendakian gunung yang harus selalu didampingi pemerintah lewat pelatihan, anggaran, lahan, teknologi sampai pemasaran. Baca juga: Urai Kemacetan, Pembangunan Underpass Dewi Sartika Depok Ditarget Rampung 10 Bulan
"Saya bilang program ini bukan program karpet merah yang bisa langsung sukses, melainkan program mendaki gunung yang didampingi pemerintah melalui pelatihan, anggaran, lahan, peralatan, dan pemasaran," tegasnya.
Meski begitu, Kang Emil optimistis, di tahun-tahun berikutnya, jumlah petani milenial yang berhasil dan diwisuda akan semakin bertambah yang tentunya diiringi evaluasi di sejumlah sektor yang dianggap masih kurang.
"Jadi, ada keberhasilan ada juga kekurangsempurnaan yang terus kita perbaiki. Tapi saya optimistis, boleh dicek dengan provinsi lain yang paling produktif melahirkan anak muda kembali bertani di desa adalah Jabar," kata Kang Emil meyakinkan.
"Para petani milenial yang diwisuda sebagian besar peserta laki-laki mencapai 88 persen dan 12 persen sisanya perempuan. Sedangkan dari kategori umur, usia 19-24 tahun sebanyak 19 persen, usia 25-29 tahun 26 persen, dan paling banyak peserta di usia 30-39 tahun yang mencapai 55 persen," paparnya.
Kang Emil menegaskan bahwa Petani Milenial bukanlah program 'karpet merah' yang secara instan bisa langsung menghasilkan keuntungan tanpa rintangan. Sebaliknya, program ini diibaratkan pendakian gunung yang harus selalu didampingi pemerintah lewat pelatihan, anggaran, lahan, teknologi sampai pemasaran. Baca juga: Urai Kemacetan, Pembangunan Underpass Dewi Sartika Depok Ditarget Rampung 10 Bulan
"Saya bilang program ini bukan program karpet merah yang bisa langsung sukses, melainkan program mendaki gunung yang didampingi pemerintah melalui pelatihan, anggaran, lahan, peralatan, dan pemasaran," tegasnya.
Meski begitu, Kang Emil optimistis, di tahun-tahun berikutnya, jumlah petani milenial yang berhasil dan diwisuda akan semakin bertambah yang tentunya diiringi evaluasi di sejumlah sektor yang dianggap masih kurang.
"Jadi, ada keberhasilan ada juga kekurangsempurnaan yang terus kita perbaiki. Tapi saya optimistis, boleh dicek dengan provinsi lain yang paling produktif melahirkan anak muda kembali bertani di desa adalah Jabar," kata Kang Emil meyakinkan.
Lihat Juga :