Puluhan Wayang dan Gong Batu dari Era Mataram Kuno Ditemukan di Jenar Sragen
Kamis, 17 Maret 2022 - 10:13 WIB
loading...
A
A
A
Dia mengakui situs itu memang sudah lama. namun kurang dilestarikan warga. Bahkan ada yang sudah dipecah warga untuk bahan bangunan. Saat ini pihaknya masih mengumpulkan sisa-sisa batunya.
Dijelaskannya, untuk yang ditatah bentuk gong lebih 50 batu. Sementara ini ada sekitar 103 batu yang sudah terdeteksi. Masih ada beberapa lokasi yang belum diteliti. Untuk melestarikan kawasan tersebut pihaknya menggandeng Muspika Jenar.
"Kami telah menandatangani berita acara dugaan situs cagar budaya kandang wayang. Ditandatangani kades, BPD, Camat, Kapolsek, Danramil, dan Ketua Yayasan Palapa Mendira Harja Cabang Sragen, serta disaksikan tokoh masyarakat," bebernya.
Baca juga: Presiden Jokowi Beri Kejutan untuk Pebalap Mario Aji, Khofifah Bangga
Dia menyampaikan, situs tersebut diduga peninggalan pada massa Hindu dan Budha. Lokasi tersebut, diduga merupakan tempat pemujaan. "Bahkan sampai saat ini Banyak orang berkunjung ke sini, dengan membawa menyan dan dupa," terang Lilik.
Selanjutnya dia bekerjasama dengan pemerintah untuk menutup lokasi tersebut menggunakan garis pengaman. Diharapkan, batu-batu tersebut tidak dibawa orang. Kemudian ada tindak lanjut dari BPCB Jawa Tengah, untuk melakukan penelitian.
Dijelaskannya, untuk yang ditatah bentuk gong lebih 50 batu. Sementara ini ada sekitar 103 batu yang sudah terdeteksi. Masih ada beberapa lokasi yang belum diteliti. Untuk melestarikan kawasan tersebut pihaknya menggandeng Muspika Jenar.
"Kami telah menandatangani berita acara dugaan situs cagar budaya kandang wayang. Ditandatangani kades, BPD, Camat, Kapolsek, Danramil, dan Ketua Yayasan Palapa Mendira Harja Cabang Sragen, serta disaksikan tokoh masyarakat," bebernya.
Baca juga: Presiden Jokowi Beri Kejutan untuk Pebalap Mario Aji, Khofifah Bangga
Dia menyampaikan, situs tersebut diduga peninggalan pada massa Hindu dan Budha. Lokasi tersebut, diduga merupakan tempat pemujaan. "Bahkan sampai saat ini Banyak orang berkunjung ke sini, dengan membawa menyan dan dupa," terang Lilik.
Selanjutnya dia bekerjasama dengan pemerintah untuk menutup lokasi tersebut menggunakan garis pengaman. Diharapkan, batu-batu tersebut tidak dibawa orang. Kemudian ada tindak lanjut dari BPCB Jawa Tengah, untuk melakukan penelitian.
(eyt)
Lihat Juga :