Sejarah Kota Natal dan Hubungannya dengan Kerajaan Pagaruyung
Senin, 15 Juni 2020 - 05:00 WIB
loading...
A
A
A
Pengamatan dilanjutkan dengan mengendarai kuda yang turut mereka bawa dalam pelayaran itu. Dengan mengendarai kuda Pangeran Indra Sutan dan rombongan lebih leluasa melakukan penelitian terhadap kondisi alam yang mereka singgahi.
Dalam pengembaraan itu, mereka menemukan lahan daratan yang cukup luas. Tampaknya wilayah itu belum berpenghuni. "Tampaknya inilah wilayah yang cocok untuk kita tinggal membangun kerajaan di sini," kata Pangeran Indra Sutan kepada pengikutnya.
Guna merayakan penemuan itu, Pangeran Indra Sutan melaksanakan upacara ritual menimbang tanah. Ia masukkan sekepal tanah yang dibawa dari Kerajaan Indrapura ke dalam rongga labu kering.
Setelah itu, Pangeran Indra Sutan mengambil segenggam tanah daratan yang baru ditemukan kemudian memasukkannya ke rongga labu kering yang sudah dipersiapkan sejak keberangkatannya dulu.
Labu kering yang berisi sekapal tanah kelahiran dan sekepal tanah daratan yang baru didatanngi itu, ditimang-timang menggunakan kedua tangannya. Ritual ini mereka sebut sebagai ritual menimbang tanah, sebagai simbolis pembukaan lahan baru di tanah rantau.
"Sesuai kondisinya yang luas dan landai, tanah ini kita namai Ranah Nan Data," ucapPangeran Indra Sutan disambut tepuk tangan dan sorak sorai pengikutnya.
Mereka optimis Ranah Nan Data dengan potensi alamnya merupakan daerah yang akan membawa kemakmuran penghuninya kelak. Air sungai yang mengalir di areal lahan yang luas bisa menopang pertanian.
Sungai itu cukup lebar bermuara ke laut, bisa dijadikan jalur transportasi mengangkut hasil bumi dan perdagangan. Sementara muara sungai akan dijadikan pelabuhan perniagaan.
Sejak saat itu daerah yang landai dan luas itu memiliki nama Ranah Nan Data, artinya tanah yang datar. Lama kelamaan, sebutan Ranah Nan Data oleh penduduk disingkat menjadi 'Nata'.
Seiring masuknya penjajahan dan hubungan perdagangan, oleh pengaruh lidah asing sebutan 'Nata' berganti dengan 'Natal' sampai sekarang.
Dikisahkan, Pangeran Indra Sutan dan Datuk Imam meluaskan pengembaraan di daerah sekitarnya sehingga menemukan daerah baru lagi yang mereka berinama Lingga Bayu yang terletak di hulu Ranah Nan Data cikal bakal Natal.
Dua sahabat pengembara itu kemudian sepakat membagi wilayah kekuasaan. Kerajaan Natal dipimpin Datuk Imam, sementara Pangeran Indra Sutan dan pengikutnya menguasai Lingga Bayu yang kaya dengan bahan tambang emas. Mereka bersumpah, Natal dan Lingga Bayu menjadi dua kerajaan yang bersaudara dan memelihara perdamaian selamanya.
Versi lain menyebutkan, asal usul Natal karena daerah itu kerap dijadikan persinggahan warga yang bepergian dengan mengendarai kuda.
Penduduk yang umumnya tinggal di daerah pegunungan saat melintasi kawasan itu, tepatnya di daerah Tor Pangolat, sering beristirahat karena takjub melihat pemandangan yang indah. Dari situ terlihat tanah yang landai dan luas, terlihat hingga bertemu dengan lautan.
Karena takjub, warga hampir tak percaya dengan apa yang dilihatnya di depan mata. 'Ahha, do na tari doi?'. Artinya, apakah gerangan yang kita lihat itu?
Awalnya sebutan 'Nataridoi' akrab untuk menyebutkan daerah tak bernama itu. Lama kelamaan 'natarido'” disingkat menjadi 'Natar' kemudian pengaruh lidah asing 'Natar' penyebutannya bergeser menjadi 'Natal'.
Sumber:
wikipedia
pemkomedan.go.id
Dalam pengembaraan itu, mereka menemukan lahan daratan yang cukup luas. Tampaknya wilayah itu belum berpenghuni. "Tampaknya inilah wilayah yang cocok untuk kita tinggal membangun kerajaan di sini," kata Pangeran Indra Sutan kepada pengikutnya.
Guna merayakan penemuan itu, Pangeran Indra Sutan melaksanakan upacara ritual menimbang tanah. Ia masukkan sekepal tanah yang dibawa dari Kerajaan Indrapura ke dalam rongga labu kering.
Setelah itu, Pangeran Indra Sutan mengambil segenggam tanah daratan yang baru ditemukan kemudian memasukkannya ke rongga labu kering yang sudah dipersiapkan sejak keberangkatannya dulu.
Labu kering yang berisi sekapal tanah kelahiran dan sekepal tanah daratan yang baru didatanngi itu, ditimang-timang menggunakan kedua tangannya. Ritual ini mereka sebut sebagai ritual menimbang tanah, sebagai simbolis pembukaan lahan baru di tanah rantau.
"Sesuai kondisinya yang luas dan landai, tanah ini kita namai Ranah Nan Data," ucapPangeran Indra Sutan disambut tepuk tangan dan sorak sorai pengikutnya.
Mereka optimis Ranah Nan Data dengan potensi alamnya merupakan daerah yang akan membawa kemakmuran penghuninya kelak. Air sungai yang mengalir di areal lahan yang luas bisa menopang pertanian.
Sungai itu cukup lebar bermuara ke laut, bisa dijadikan jalur transportasi mengangkut hasil bumi dan perdagangan. Sementara muara sungai akan dijadikan pelabuhan perniagaan.
Sejak saat itu daerah yang landai dan luas itu memiliki nama Ranah Nan Data, artinya tanah yang datar. Lama kelamaan, sebutan Ranah Nan Data oleh penduduk disingkat menjadi 'Nata'.
Seiring masuknya penjajahan dan hubungan perdagangan, oleh pengaruh lidah asing sebutan 'Nata' berganti dengan 'Natal' sampai sekarang.
Dikisahkan, Pangeran Indra Sutan dan Datuk Imam meluaskan pengembaraan di daerah sekitarnya sehingga menemukan daerah baru lagi yang mereka berinama Lingga Bayu yang terletak di hulu Ranah Nan Data cikal bakal Natal.
Dua sahabat pengembara itu kemudian sepakat membagi wilayah kekuasaan. Kerajaan Natal dipimpin Datuk Imam, sementara Pangeran Indra Sutan dan pengikutnya menguasai Lingga Bayu yang kaya dengan bahan tambang emas. Mereka bersumpah, Natal dan Lingga Bayu menjadi dua kerajaan yang bersaudara dan memelihara perdamaian selamanya.
Versi lain menyebutkan, asal usul Natal karena daerah itu kerap dijadikan persinggahan warga yang bepergian dengan mengendarai kuda.
Penduduk yang umumnya tinggal di daerah pegunungan saat melintasi kawasan itu, tepatnya di daerah Tor Pangolat, sering beristirahat karena takjub melihat pemandangan yang indah. Dari situ terlihat tanah yang landai dan luas, terlihat hingga bertemu dengan lautan.
Karena takjub, warga hampir tak percaya dengan apa yang dilihatnya di depan mata. 'Ahha, do na tari doi?'. Artinya, apakah gerangan yang kita lihat itu?
Awalnya sebutan 'Nataridoi' akrab untuk menyebutkan daerah tak bernama itu. Lama kelamaan 'natarido'” disingkat menjadi 'Natar' kemudian pengaruh lidah asing 'Natar' penyebutannya bergeser menjadi 'Natal'.
Sumber:
wikipedia
pemkomedan.go.id
(nag)
Lihat Juga :