Kisah Wali Terapung Mbah Mudzakir, Berjihad Melawan Sekutu dalam Pertempuran 10 November
Senin, 08 November 2021 - 03:32 WIB
loading...
Makam Mbah Mudzakir yang berada di pesisir pantai utara Dukuh Tambaksari, Desa Bedono, Kecamatan Sayung, Kabupaten Demak. Foto/iNews TV/Sukmawijaya
A
A
A
DEMAK - Ada pemandangan menarik di pesisir pantai utara tepatnya di Dukuh Tambaksari, Desa Bedono, Kecamatan Sayung, Kabupaten Demak, Jateng. Sebuah makam berdiri kokoh di tepian laut Jawa.
Baca juga: Minim Catatan Sejarah, Bangunan Makam di Jalan Majapahit Kota Malang Masih Misteri
Orang-orang di kawasan itu menyebutnya sebagai makam wali terapung. Makam yang telah menjadi tempat wisata religi dan banyak dikunjungi masyarakat tersebut, merupakan makam Mbah Mudzakir.
Sebelum wafat sekitar tahun 1950-an, Mbah Mudzakir dikenal sebagai tokoh agama berpengaruh di kawasan tersebut. Namun, hingga kini belum ada catatan lengkap tentang masa hidup Mbah Mudzakir yang wafat pada usia antara 72-75 tahun tersebut.
Baca juga: Siasat Jayakatwang Hancurkan Singasari Lewat Serangan 2 Arah, dan Bunuh Kertanagara saat Pesta Terlarang
Keberadaan makam wali terapung sendiri, awalnya berada di tengah permukiman padat penduduk. Tetapi, akibat terjadinya abrasi di pesisir utara sejak tahun 1995, telah menggerus daratan hingga sejauh 2 km.
Dari seluruh daratan yang hilang, hanya lokasi makam Mbah Mudzakir yang tetap terlihat. Venomena alam telah menciptakan makam Mbah Mudzakir seperti bunga teratai di lautan. Warga pun menyebut makam ini sebagai makam wali terapung.
Cucu Mbah Mudzakir, Gus Ubab Ibrahim mengungkapkan, hingga kini belum terlalu banyak catatat tentang perjalanan hidup Mbah Mudzakir. Tetapi, warga di kawasan tersebut mengenalnya sebagai tokoh agama dan pejuang yang turut merasakan ganasnya pertempuran 10 November di Surabaya.
Baca juga: Gara-gara Sapi yang Dinaiki Ngamuk, Putra Bupati Sleman Terpelanting dan Jatuh
Mbah Mudzakir mempunyai guru, yaitu Kiai Sholah Darat Semarang, dan KH. Abbas Buntet Cirebon. Sebagai murid yang taat, perjuangan Mbah Mudzakir tidak lepas dari keberadaan para guru tersebut.
Gus Ubab Ibrahim mengungkapkan, kakeknya turut berangkat ke Surabaya, setelah adanya fatwa resolusi jihad yang dikeluarkan pendiri Nahdlatul Ulama (NU), KH. Hasyim Asy'ari, untuk melawan penjajah Belanda.
Mbah Mudzakir memiliki banyak rumah di kawasan Kecamatan Satung, yaitu di Desa Loireng, Desa Kalisari, dan di Desa Bedono. Keempat istrinya pun bermukiman di rumah tersebut. Sejak tahun 1930-an, atas perintah gurunya Mbah Mudzakir pun bermukim di pesisir pantai utara Dukuh Tambaksari, Desa Bedono.
Baca juga: Pengakuan Sopir Vanessa Angel Melaju 120 Km per Jam Jadi Bukti Awal Polisi
Di pesisir pantai ini, Mbah Mudzakir melakukan tradisi unik, yakni selalu memasang caping (topi dari anyaman bambu) di atas tonggak kayu. Hal itu sebagai siasatnya mengelabuhi pasukan Belanda.
Beberapa peningalan Mbah Mudzakir telah banyak yang hilang karena bencana abrasi. Di antaranya kitab-kitab karangan Mbah Mudzakir, yang turut hanyut di telan laut. Pihak keluarga hanya memiliki ornamen kayu sebagai tutup pilar musala buatan Mbah Mudzakir, dan lesung kayu.
Baca juga: Minim Catatan Sejarah, Bangunan Makam di Jalan Majapahit Kota Malang Masih Misteri
Orang-orang di kawasan itu menyebutnya sebagai makam wali terapung. Makam yang telah menjadi tempat wisata religi dan banyak dikunjungi masyarakat tersebut, merupakan makam Mbah Mudzakir.
Sebelum wafat sekitar tahun 1950-an, Mbah Mudzakir dikenal sebagai tokoh agama berpengaruh di kawasan tersebut. Namun, hingga kini belum ada catatan lengkap tentang masa hidup Mbah Mudzakir yang wafat pada usia antara 72-75 tahun tersebut.
Baca juga: Siasat Jayakatwang Hancurkan Singasari Lewat Serangan 2 Arah, dan Bunuh Kertanagara saat Pesta Terlarang
Keberadaan makam wali terapung sendiri, awalnya berada di tengah permukiman padat penduduk. Tetapi, akibat terjadinya abrasi di pesisir utara sejak tahun 1995, telah menggerus daratan hingga sejauh 2 km.
Dari seluruh daratan yang hilang, hanya lokasi makam Mbah Mudzakir yang tetap terlihat. Venomena alam telah menciptakan makam Mbah Mudzakir seperti bunga teratai di lautan. Warga pun menyebut makam ini sebagai makam wali terapung.
Cucu Mbah Mudzakir, Gus Ubab Ibrahim mengungkapkan, hingga kini belum terlalu banyak catatat tentang perjalanan hidup Mbah Mudzakir. Tetapi, warga di kawasan tersebut mengenalnya sebagai tokoh agama dan pejuang yang turut merasakan ganasnya pertempuran 10 November di Surabaya.
Baca juga: Gara-gara Sapi yang Dinaiki Ngamuk, Putra Bupati Sleman Terpelanting dan Jatuh
Mbah Mudzakir mempunyai guru, yaitu Kiai Sholah Darat Semarang, dan KH. Abbas Buntet Cirebon. Sebagai murid yang taat, perjuangan Mbah Mudzakir tidak lepas dari keberadaan para guru tersebut.
Gus Ubab Ibrahim mengungkapkan, kakeknya turut berangkat ke Surabaya, setelah adanya fatwa resolusi jihad yang dikeluarkan pendiri Nahdlatul Ulama (NU), KH. Hasyim Asy'ari, untuk melawan penjajah Belanda.
Mbah Mudzakir memiliki banyak rumah di kawasan Kecamatan Satung, yaitu di Desa Loireng, Desa Kalisari, dan di Desa Bedono. Keempat istrinya pun bermukiman di rumah tersebut. Sejak tahun 1930-an, atas perintah gurunya Mbah Mudzakir pun bermukim di pesisir pantai utara Dukuh Tambaksari, Desa Bedono.
Baca juga: Pengakuan Sopir Vanessa Angel Melaju 120 Km per Jam Jadi Bukti Awal Polisi
Di pesisir pantai ini, Mbah Mudzakir melakukan tradisi unik, yakni selalu memasang caping (topi dari anyaman bambu) di atas tonggak kayu. Hal itu sebagai siasatnya mengelabuhi pasukan Belanda.
Beberapa peningalan Mbah Mudzakir telah banyak yang hilang karena bencana abrasi. Di antaranya kitab-kitab karangan Mbah Mudzakir, yang turut hanyut di telan laut. Pihak keluarga hanya memiliki ornamen kayu sebagai tutup pilar musala buatan Mbah Mudzakir, dan lesung kayu.
(eyt)
Lihat Juga :