Arkeolog Temukan Reruntuhan Diduga Bangkai Kapal Van Der Wijk di Laut Lamongan

Sabtu, 23 Oktober 2021 - 08:52 WIB
loading...
Arkeolog Temukan Reruntuhan Diduga Bangkai Kapal Van Der Wijk di Laut Lamongan
Kapal Van Der Wijk yang diduga tenggelam di sekitar Perairan Brondong, Lamongan, Jawa Timur pada tahun 1936 keberadaannya mulai menemukan titik terang. Foto/iNewsTV/Abdul Wakhid
A A A
LAMONGAN - Keberadaan Kapal Van Der Wijk yang diduga tenggelam di sekitar Perairan Brondong, Lamongan, Jawa Timur pada tahun 1936 kini mulai menemukan titik terang. Tim Arkeolog menemukan bangkai kapal yang diduga Kapal Van Der Wijk yang hilang.

Kapal yang terkenal melalui novel Buya Hamka berjudul Tenggelamnya Kapal Van Der Wijk itu dicari keberadaannya oleh arkeolog untuk dapat ditemukan bukti konkritnya berdasarkan ilmu pengetahuan.

Baca juga: 2 Pesawat Intai TNI AL Bantu Pencarian 17 Kapal Hilang di Perairan Kalbar

Penelitian mulai dari pernyataan masyarakat nelayan, keberadaan monumen tugu peringatan, hingga survei pencarian titik lokasi tenggelamnya kapal.

Arkeolog Badan Pelestarian Cagar Budaya (BPCB) Jawa Timur, Wicaksono Dwi Nugroho menyatakan, survei titik lokasi tenggelamnya kapal sudah dilakukan sejak Juni 2021. Namun karena Perairan Lamongan yang cukup keruh survei kembali dilakukan pada Oktober ini.

"Memang ada kapal karam di titik yang kita duga Van Der Wijk, dari foto-foto dan video yang kita dapatkan kita masih terus processing, dan kemudian melakukan identifikasi perlahan-lahan, jadi kita cocokkan bagian-bagian dengan gambar dari Kapal Van Der Wijk," ungkap Wicaksono.

Dikatakan Wicaksono, saat ini BPCB masuk pada tahapan identifikasi apakah kapal karam yang ditemukan tersebut merupakan bangkai Kapal Van Der Wijk yang telah dikonfirmasi nelayan setempat.

Baca juga: Sukmawati Soekarnoputri Pindah Agama Hindu, Ini Ritual yang Harus Dijalani

Identifikasi terus dilakukan guna pembuktian lebih konkrit, dan untuk tercapainya tujuan tersebut perlu terus dilakukan eksplorasi.

"Ada banyak properti, masyarakat tidak ada yang berani menjarah karena dianggap keramat. Mungkin nanti ke depan kalau itu dieksplorasi, diangkat, atas seizin Bapak Bupati bisa dijadikan museum. Beberapa barang berharga peninggalan sangat bisa dijadikan cerita dari apa yang terjadi tahun 1936, itu bagian dari sejarah yang daerah lain tidak punya,” papar Wicaksono kepada Bupati Lamongan.
Halaman :
Komentar
Copyright © 2022 SINDOnews.com
read/ rendering in 0.1213 seconds (10.177#12.26)