Integrasi Pelabuhan, Mengantarkan Semanggi Merebut Cuan
Minggu, 19 September 2021 - 23:18 WIB
loading...
A
A
A
Baca juga: Aura Magis dan Rahasia Kecantikan Ken Dedes Pemikat Para Raja
Integrasi pelabuhan ini, katanya, memiliki efek domino pada efisiensi biaya logistik. Semua tahapan akan dilalui dan diarahkan ke sana dalam sisi efisiensi. Bahkan, dirinya memberikan contoh ketika nantinya satu pelabuhan dibawah Pelindo II saja setelah dilakukan transformasi waktu bongkar muat hanya satu hari dari sebelumnya sekitar 5-6 hari.
"Jadi kalau bicara pelabuhan logistik, kapal itu bicara network tidak bicara single port. Makanya kalau di satu sisi baik tapi di pairing port-nya kurang baik, secara network itu tidak optimal tidak maksimal. Integrasi Pelindo dibutuhkan dalam hal ini untuk kemajuan ke depan," katanya.
Direktur Utama PT Pelindo III Boy Robyanto juga optimis dengan integrasi menjadikan langkah cepat dalam penyamaan standar operasional di seluruh pelabuhan dan terciptanya efektifitas connectifity di Indonesia.
Saat ini, katanya, proses integrasi sejauh ini masih terus berjalan di semua lini. Semua pihak memberikan program terbaik mereka akan bisa bisa diaplikasikan di seluruh pelabuhan di Indonesia. "Saat ini masih menggunakan aturan di masing-masing Pelindo," ucapnya.
Makanya, merger pelabuhan yang rencananya dilakukan pada 1 Oktober 2021 menjadi angin segar bagi semua pihak di Indonesia. Bergabungnya keempat perusahaan BUMN ini tentu memiliki andil besar, utamanya dalam perekonomian Indonesia.
Sebagai perusahaan yang bergerak di sektor kepelabuhanan, Pelindo berkaitan erat dengan kegiatan ekspor impor melalui laut. "Karena wilayah kerja Pelindo berkaitan dengan sektor kepelabuhanan, maka merger akan berpengaruh terhadap logistic cost di Indonesia," kata Pakar Ekonomi Pembangunan Fakultas Ekonomi Bisnis (FEB) Universitas Airlangga, Nurul Istifadah.
Baca juga: Kesaktian Sultan Agung, Mampu Kendalikan Makhluk Gaib Jadi Abdi Dalem
Saat ini, lanjutnya, Indonesia memiliki tingkat logistic cost yang cukup tinggi dibanding negara ASEAN lainnya, yakni 23%. Hal ini menyebabkan produk asal Indonesia tidak kompetitif bila bersaing dalam perdagangan global. "Sehingga dapat saya katakan, seefisien apapun proses produksi kita kalau logistic cost begitu tinggi, maka cost untuk pergerakan barang akan sangat mahal," kata Nurul.
Biaya logistik yang cenderung mahal ini dapat berimbas terhadap beralihnya penggunaan jasa kepelabuhanan ke negara lain. "Pelaku usaha pada akhirnya akan memilih jasa pengiriman barang ke pelabuhan yang lebih efisien, misalnya di Singapura," tambahnya.
Berpalingnya produsen lokal berpotensi merugikan dan mempengaruhi catatan ekspor-impor di Indonesia. "Jadinya, catatan barang dalam Certificate Of Origin berasal dari Singapura, padahal sebenarnya produksi asal Indonesia," katanya.
Adanya merger Pelindo, katanya, artinya akan ada penggabungan sumber daya yang mengakibatkan memungkinkan penghematan dan efisiensi kerja. Ekspor barang dari Indonesia pun bisa semakin melejit.
" Penggabungan Pelindo akan berdampak baik terhadap logistic cost, dikarenakan adanya penghematan biaya, dan ada hal-hal yang bisa disatukan dan sharing bersama," jelas dosen Ekonomi Perkotaan dan Transportasi ini.
Baca juga: Perang Bubat, Tragedi Kisah Cinta Hayam Wuruk dan Dyah Pitaloka
Tak hanya soal penentuan tarif logistik, nantinya Pelindo juga harus memperhatikan pengembangan di bidang pelayanan, efisiensi dan juga kecepatan dalam operasional. Salah satu contoh ketika negara lain sudah menerapkan sistem otomatisasi, sehingga menyebabkan dwelling time (waktu bongkar muat) menjadi lebih cepat dibanding Indonesia yang masih menerapkan sistem semi-otomatis.
"Tidak hanya efektifitas sumber daya yang memungkinkan adanya penurunan tarif logistik, Pelindo juga memiliki tugas berat untuk melakukan standarisasi pelayanan operasional, dan otomatisasi, sehingga dwelling time dan pelayanan kepelabuhanan dapat menjadi lebih efisien," jelasnya.
Pihaknya yakin, kini langkah tepat dan strategis dilakukan dengan pengabungan Pelindo ini. Semua ini membuka tabir dan kesempatan bagi produk dari Indonesia untuk melahap pasar internasional.
Integrasi pelabuhan ini, katanya, memiliki efek domino pada efisiensi biaya logistik. Semua tahapan akan dilalui dan diarahkan ke sana dalam sisi efisiensi. Bahkan, dirinya memberikan contoh ketika nantinya satu pelabuhan dibawah Pelindo II saja setelah dilakukan transformasi waktu bongkar muat hanya satu hari dari sebelumnya sekitar 5-6 hari.
"Jadi kalau bicara pelabuhan logistik, kapal itu bicara network tidak bicara single port. Makanya kalau di satu sisi baik tapi di pairing port-nya kurang baik, secara network itu tidak optimal tidak maksimal. Integrasi Pelindo dibutuhkan dalam hal ini untuk kemajuan ke depan," katanya.
Direktur Utama PT Pelindo III Boy Robyanto juga optimis dengan integrasi menjadikan langkah cepat dalam penyamaan standar operasional di seluruh pelabuhan dan terciptanya efektifitas connectifity di Indonesia.
Saat ini, katanya, proses integrasi sejauh ini masih terus berjalan di semua lini. Semua pihak memberikan program terbaik mereka akan bisa bisa diaplikasikan di seluruh pelabuhan di Indonesia. "Saat ini masih menggunakan aturan di masing-masing Pelindo," ucapnya.
Makanya, merger pelabuhan yang rencananya dilakukan pada 1 Oktober 2021 menjadi angin segar bagi semua pihak di Indonesia. Bergabungnya keempat perusahaan BUMN ini tentu memiliki andil besar, utamanya dalam perekonomian Indonesia.
Sebagai perusahaan yang bergerak di sektor kepelabuhanan, Pelindo berkaitan erat dengan kegiatan ekspor impor melalui laut. "Karena wilayah kerja Pelindo berkaitan dengan sektor kepelabuhanan, maka merger akan berpengaruh terhadap logistic cost di Indonesia," kata Pakar Ekonomi Pembangunan Fakultas Ekonomi Bisnis (FEB) Universitas Airlangga, Nurul Istifadah.
Baca juga: Kesaktian Sultan Agung, Mampu Kendalikan Makhluk Gaib Jadi Abdi Dalem
Saat ini, lanjutnya, Indonesia memiliki tingkat logistic cost yang cukup tinggi dibanding negara ASEAN lainnya, yakni 23%. Hal ini menyebabkan produk asal Indonesia tidak kompetitif bila bersaing dalam perdagangan global. "Sehingga dapat saya katakan, seefisien apapun proses produksi kita kalau logistic cost begitu tinggi, maka cost untuk pergerakan barang akan sangat mahal," kata Nurul.
Biaya logistik yang cenderung mahal ini dapat berimbas terhadap beralihnya penggunaan jasa kepelabuhanan ke negara lain. "Pelaku usaha pada akhirnya akan memilih jasa pengiriman barang ke pelabuhan yang lebih efisien, misalnya di Singapura," tambahnya.
Berpalingnya produsen lokal berpotensi merugikan dan mempengaruhi catatan ekspor-impor di Indonesia. "Jadinya, catatan barang dalam Certificate Of Origin berasal dari Singapura, padahal sebenarnya produksi asal Indonesia," katanya.
Adanya merger Pelindo, katanya, artinya akan ada penggabungan sumber daya yang mengakibatkan memungkinkan penghematan dan efisiensi kerja. Ekspor barang dari Indonesia pun bisa semakin melejit.
" Penggabungan Pelindo akan berdampak baik terhadap logistic cost, dikarenakan adanya penghematan biaya, dan ada hal-hal yang bisa disatukan dan sharing bersama," jelas dosen Ekonomi Perkotaan dan Transportasi ini.
Baca juga: Perang Bubat, Tragedi Kisah Cinta Hayam Wuruk dan Dyah Pitaloka
Tak hanya soal penentuan tarif logistik, nantinya Pelindo juga harus memperhatikan pengembangan di bidang pelayanan, efisiensi dan juga kecepatan dalam operasional. Salah satu contoh ketika negara lain sudah menerapkan sistem otomatisasi, sehingga menyebabkan dwelling time (waktu bongkar muat) menjadi lebih cepat dibanding Indonesia yang masih menerapkan sistem semi-otomatis.
"Tidak hanya efektifitas sumber daya yang memungkinkan adanya penurunan tarif logistik, Pelindo juga memiliki tugas berat untuk melakukan standarisasi pelayanan operasional, dan otomatisasi, sehingga dwelling time dan pelayanan kepelabuhanan dapat menjadi lebih efisien," jelasnya.
Pihaknya yakin, kini langkah tepat dan strategis dilakukan dengan pengabungan Pelindo ini. Semua ini membuka tabir dan kesempatan bagi produk dari Indonesia untuk melahap pasar internasional.
(eyt)
Lihat Juga :