A.M Thalib, Rela Bumi Hanguskan Semua Fasilitas Demi Pertahankan Wilayah Sumsel dari Belanda

Senin, 16 Agustus 2021 - 05:05 WIB
loading...
A.M Thalib, Rela Bumi...
AM Thalib bersama pejuang kemerdekaan RI. Foto: Istimewa
A A A
Pahlawan adalah sosok yang menonjolkan sisi patriotisme, pemberani dan gigih membela negara. Mereka berani menyerahkan hidup hingga titik darah penghabisan demi membela bangsa menuju kebebasan.

Bumi Sriwijaya juga memiliki sejumlah pahlawan kemerdekaan. Salah satunya yakni A.M Thalib, pejuang asal Palembang yang lahir pada 23 Februari 1922.

Bersama rakyat, A.M Thalib berjuang di Sumsel mengangkat senjata melawan pasukan Belanda yang sedang melakukan agresi militer di tahun 1949. Ketika itu, dia dan jajaran militer Sumsel melakukan gerakan bumi hangus. Semua fasilitas yang dapat dimanfaatkan Belanda akan dihancurkan termasuk gedung, jalan raya, jembatan, bahkan perkebunan.

Baca juga: Darah Tertumpah di Bandung Utara, Kisah Kegelisahan Trio Sersan saat Diminta Melucuti Senjata

Semasa hidup, A.M Thalib tak kenal lelah melawan serangan Belanda. Dirinya dan semua pejuang gigih memperjuangkan Bumi Sriwijaya hingga titik darah penghabisan. Ketika menjabat sebagai Kepala Intel di militer, A.M Thalib berhasil menguasai radio setempat dan menyiarkan perang besar-besaran antara pejuang Republik Indonesia dan agresor Belanda di Sumsel.

Pada tahun 1957, di Sumatra Selatan terjadi sejumlah pergerakan yang dilakukan oleh beberapa kelompok kecil yang sporadis dengan tujuan disintegrasi bangsa. Oleh karenanya, A.M Thalib beserta Mr Malikuswari Mochtar dapat meyakinkan Letkol Barlian (Panglima) dan Mayor Alamsyah yang pada saat itu akan berangkat ke Sungai Dareh Sumatera Barat. Dengan begitu, tentara Sriwijaya/Sumsel tidak ikut dalam gerakan PRRI.

A.M Thalib bersama dengan delegasi dan tokoh-tokoh Sumatra Selatan, seperti Letkol Barlian selaku Panglima TT II Sriwijaya, Mr M Ali Amin selaku pejabat Gubernur Sumsel, Residen Rozak, Mr Malikuswari Mochtar dan lainnya berangkat ke Kota Padang.

Baca juga: Tuan Rondahaim, Satu-Satunya Raja Simalungun yang Tak Dapat Ditaklukkan Belanda

Pertemuan tersebut dilakukan atas ajakan dewan Banteng yang ingin memutuskan hubungan dengan pemerintah pusat (Jakarta). Namun, AM Thalib beserta rombongan tidak ingin hal tersebut terjadi karena hanya akan menyengsarakan penduduk Sumsel secara keseluruhan.

Pada saat itu, A.M Thalib berbicara langsung mewakili delegasi dan atas nama rakyat Sumsel menolak ajakan tersebut. AM Thalib secara detail dan gamblang menerangkan tentang kerugian bila rencana Dewan Banteng dilanjutkan. Akhirnya, A.M Thalib bersama rombongannya secara tegas menolak ajakan Dewan Banteng.

Pasca-Proklamasi Kemerdekaan RI tanggal 17 Agustus 1945, penjajah Indonesia yang dulu pernah menguasai tanah Indonesia kembali datang. Belanda dengan berbagai kekuatan tempurnya melancarkan agresi militer di beberapa wilayah Indonesia, salah satunya di Sumatera Selatan.

Pada pagi tanggal 29 Desember 1948, informasi datang dari Intel pusat bahwa akan terjadi penyerangan besar-besaran yang dilakukan oleh Belanda. Pasalnya, Belanda sudah melancarkan agresinya di Pulau Jawa. Maka tidak menutup kemungkinan juga akan menyerang wilayah lain di Indonesia. Akhirnya terbukti benar, Belanda menyerang Sumsel dengan menurunkan pasukan dari angkatan darat dan angkatan udaranya.

Namun sebelum Belanda datang untuk melancarkan agresi di Sumatera Selatan, AM Thalib beserta jajaran teras militer di Sumatra Selatan telah bersepakat untuk melakukan strategi bumi hangus, yaitu dengan slogan ‘Kita Bakar Sumatra Selatan’.

Artinya, semua fasilitas yang bisa digunakan oleh Belanda akan dihancurkan secara total, baik itu gedung-gedung, jalan raya, jembatan, bahkan sejumlah perkebunan juga tidak luput dibumihanguskan. Secara tidak langsung perekonomian yang dikelola oleh kaum kapitalis, juga sebagian dari sisa-sisa juragan Belanda menjadi kolaps dan gulung tikar.

Baca juga: Kisah Heroik Bocah Kediri, Bertaruh Nyawa Jadi Kurir Proklamasi Kemerdekaan 1945

Sementara itu, Belanda akhirnya datang dan menyerang Sumsel dengan membabi buta. Namun, A.M Thalib dengan semua pejuang di sana tetap gigih berjuang melawan penjajah Belanda hingga titik darah penghabisan.

A.M Thalib yang juga menjadi kepala Intel di militer Sumatra Selatan berhasil menguasai radio setempat dan menyiarkan jika di Sumatera Selatan telah terjadi perang besar-besaran antara para pejuang RI dengan agresor Belanda. Saat itu, ibukota Indonesia berada di Kota Yogyakarta.

Perpindahan tersebut bertujuan untuk menyelamatkan Indonesia dari kehancuran. Hal itu dikarenakan, sebuah negara dapat diakui jika memiliki ibukota negara. Oleh karena itu, pemerintah yang dipimpin oleh Soekarno-Hatta memindahkan ibukota negara dari Jakarta ke Yogyakarta.

Berita tersebut hingga tersiar ke luar negeri, yaitu India. Mengetahui terjadi agresi seperti itu yang dilancarkan Belanda, Perdana Menteri India saat itu, yaitu Jawaharlal Nehru mendesak Dewan Keamanan PBB untuk mengutuk tindakan agresi militer yang dilancarkan Belanda tersebut.

Baca juga: KH Muhyidin, Ulama Subang dan Sejarah Perjuangan Kemerdekaan Indonesia

Atas desakan Konferensi New Delhi pada tanggal 29 Januari 1949, Dewan Keamanan PBB, akhirnya mengeluarkan resolusi keras terhadap Belanda, diantaranya yakni melakukan gencatan senjata di Indonesia. Kemudian, Belanda harus secepatnya membebaskan para pemimpin RI yang ditangkap. Termasuk pemerintahan di Yogyakarta sebagai ibukota RI saat itu harus pulih kembali. Serta mendesak pihak Belanda untuk segera mempersiapkan persidangan Meja Bundar yang bertujuan untuk mengesahkan kedaulatan Indonesia.

Sementara itu, selaku jawatan intel SUB-KOSS, pada tahun 1948, A.M Thalib ditugaskan oleh markas besar TNI yang berkedudukan di Yogyakarta melalui Panglima Kolonel Simbolon, untuk mempersatukan kelompok-kelompok laskar pejuang yang bermunculan di berbagai daerah di Sumsel. Akhirnya beberapa laskar pejuang, seperti Napindo, Pesindo, Hisbullah, dan TKR melebur menjadi TNI.

Tidak hanya dikenal sebagai mantan tokoh militer Indonesia dan pengusaha, A.M Thalib juga diketahui pernah menjadi jurnalis sekaligus wirausahawan.

Selama meniti karir, A.M Thalib juga sempat menjadi Kepala Penerangan Gubernur Militer Sumatera Selatan (Sumsel) sembari merangkap di bidang Intel, hingga akhirnya wafat di usia 78 tahun pada 17 Juni 2000 silam di Jakarta. (berbagai sumber/wikipedia)
(nic)
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!
Lanjut Baca Berita Terkait Lainnya
Berita Terkait
Gagas Forum Dialog,...
Gagas Forum Dialog, AHY Ajak Profesor dan Gen Z Rumuskan Masa Depan Indonesia
Di Balik Kesaktian Pangeran...
Di Balik Kesaktian Pangeran Diponegoro, Ada Keris Pusaka Bernama Kiai Bondoyudo
Kedipan Mata Komandan...
Kedipan Mata Komandan Brimob Bikin Tawanan Tewas Ditembak dari Jarak 5 Meter
Kisah Cinta Sutan Sjahrir...
Kisah Cinta Sutan Sjahrir dan Maria Mieske, Dipisahkan Penjara hingga Politik Kolonial Belanda
196 Tahun Keris Kanjeng...
196 Tahun Keris Kanjeng Kiai Nogo Siluman, Pusaka Pangeran Diponegoro Simbol Kepemimpinan Tanah Jawa
Kisah Jenderal Kopassus...
Kisah Jenderal Kopassus Soegito Pertaruhkan Nyawa saat Hadapi Pemberontak Fretilin
Kisah Heroik Try Sutrisno,...
Kisah Heroik Try Sutrisno, Jadi Informan bagi Pejuang Kemerdekaan saat Melawan Penjajah
Peringati 80 Tahun Peristiwa...
Peringati 80 Tahun Peristiwa Merah Putih, GPPMP Kenang Perjuangan Pahlawan
Menko AHY Paparkan 5...
Menko AHY Paparkan 5 Strategi Utama Agar Indonesia Tangguh dan Siap Hadapi Masa Depan
Rekomendasi
Pigai Sebut Masyarakat...
Pigai Sebut Masyarakat Indonesia Belum Siap Terima LGBT
Tutup Akun Kredivo via...
Tutup Akun Kredivo via Link Sembarangan? Awas Risiko Phishing
Ini Makna Logo HUT ke-81...
Ini Makna Logo HUT ke-81 RI yang Telah Resmi Diluncurkan
Berita Terkini
JKF Fun Padel Competition...
JKF Fun Padel Competition 2026 Perkuat Kolaborasi Lintas Sektor Instansi di Jakarta
Isak Tangis Keluarga...
Isak Tangis Keluarga Kecelakaan Maut di Bekasi Timur: Saya Nggak Kuat Anaknya Masih Kecil
Manfaat MBG Dirasakan...
Manfaat MBG Dirasakan Petani dan Pedagang di Pedesaan dan Daerah 3T
Jro Bima, Memperluas...
Jro Bima, Memperluas Pengabdian untuk Bali lewat Jalur Politik
Polisi Amankan Sopir...
Polisi Amankan Sopir Truk Kecelakaan Maut di Bekasi
Kronologi Kecelakaan...
Kronologi Kecelakaan Maut Truk Rem Blong di Bekasi Timur, 1 Orang Tewas dan 5 Luka
Infografis
7 Wilayah AS yang Diperoleh...
7 Wilayah AS yang Diperoleh dengan Membeli dan Merebut dari Negara Lain
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved