Perhatian! Berita ini memuat konten dewasa.
Apakah anda sudah berusia 17 tahun atau lebih?

Kearifan Lokal dan Keberagaman Perkuat Toleransi Masyarakat Papua

loading...
Kearifan Lokal dan Keberagaman Perkuat Toleransi Masyarakat Papua
Diskusi tentang toleransi dan kearifan lokal saat webinar Tolerance in Indonesia (Papua) and Morocca: Experience perspective. Foto/Ist
JAYAPURA - Tokoh agamawan Papua, Prof H Idrus Al Hamid menyebut bahwa perjumpaan agama-agama di Papua selama ini telah melahirkan harmoni, kebersamaan dan toleransi yang baik.

Baca juga: Gubernur Papua: Masyarakat Tenang, Ini Pembelajaran untuk Aparat Penegak Hukum

Dengan memahami masyarakat Papua yang memiliki topografi yang berbeda-beda, yaitu pesisir, rawa, lereng gunung dan pegunungan, maka dia optimistis kearifan lokal masing-masing dan masyarakat Papua mampu membangun kehidupan yang penuh toleransi.

Baca juga: Masyarakat Jangan Mau Diprovokasi, Situasi Kondusif Papua Harus Dijaga



"Keberadaan agama justru menjadi bagian yang tidak menjadi pembeda. Bahkan dalam beberapa hal, kegiatan keagamaan dijadikan sebagai kegiatan bersama walaupun berbeda-beda agama," ujar salah satu penggagas zona integritas kerukunan umat beragama dan budaya Papua tersebut saat saat Webinar Internasional bertajuk Tolerance in Indonesia (Papua) and Morocca: Experience perspective, dikutip Jumat (30/7/2021).

Webinar ini digelar dengan tujuan dunia internasional tidak melihat Indonesia, khususnya Papua dengan stigma kekerasan, mencekam dan penuh konflik. Namun, justru yang terjadi telah menumbuhkan semangat persatuan dan kerukunan masyarakat, terutama generasi muda serta menanamkan nilai dan arti dari universalisme agama dalam kemanusiaan.

Idrus Al Hamid menambahkan, meskipun terkadang terjadi gesekan antara masyarakat adat dan metropolis, antara pribumi dengan perantau, dan politisasi identitas, namun telah dirintis pencanangan zona integritas kerukunan umat beragama, membangun interreligius diaof dan melakukan penguatan toleransi berbasis kearifan lokal.

"Yang terpenting jangan menyakiti jika tidak ingin disakiti. Pahamilah bahwa manusia adalah sumber peradaban," ujarnya.

Sementara, Dr Muhammad Sofin menyatakan bahwa masyarakat Papua sejak dahulu terbuka dalam menerima orang yang datang ke tanahnya. Perbedaan agama dan suku tidak menghalangi mereka untuk menebar perdamaian dengan wajah ceria dan mengulurkan tangan. Kerjasama untuk hidup berdampingan secara damai.
halaman ke-1
preload video
TULIS KOMENTAR ANDA!
Top