alexametrics

Kebijakan New Normal Tak Serta Merta Bangkitkan Perekonomian

loading...
Kebijakan New Normal Tak Serta Merta Bangkitkan Perekonomian
Foto/Ilustrasi/SINDOnews
A+ A-
JAKARTA - Langkah pemerintah pusat yang akan menerapkan kebijakan new normal diyakini tidak akan serta merta membangkitkan perekonomian nasional. Di kuartal I kemarin ekonomi Indonesia memang terpuruk dengan pertumbuhan hanya sebesar 2.97%.

Kepala Ekonom PT Bank Negara Indonesia Tbk, Ryan Kiryanto, mengatakan perekonomian Indonesia tidak akan langsung bangkit meskipun kegiatan ekonomi akan dibuka dalam waktu dekat. Menurutnya, aktivitas ekonomi akan lebih dahulu beradaptasi dengan kondisi new normal. (Baca:Nikmatnya Jadi PNS, Setelah THR Mereka Akan Menerima Gaji ke-13)

"Kita masih dalam kerangka transisi. Jadi jangan terlalu banyak berharap hal itu akan membantu perekonomian untuk tumbuh secara cepat," kata Ryan di acara Market Review IDX Channel di Jakarta, Rabu (27/5/2020).



Ia menjelaskan bahwa di kuartal II dan kuartal III, Indonesia masih dalam proses berjuang untuk lepas dari krisis ekonomi yang ditimbulkan oleh Covid-19. Jika berhasil melalui proses itu, katanya, ekonomi Indonesia baru akan mengalami rebound.

"Ekonomi Indonesia baru akan rebound pada kuartal IV. Jadi tidak bisa langsung seketika ekonomi itu akan rebound saat new normal dijalankan," terangnya.

Ia memprediksi bahwa di kuartal II ini, pertumbuhan produk domestik bruto (PDB) akan minus atau negatif. Sedangkan pada kuartal III baru akan tumbuh lebih baik.

Meski begitu, Ryan menegaskan agar pemerintah tetap berhati-hati dalam pemulihan aktivitas kegiatan ekonomi. Sebab, kegiatan ekonomi bisa menimbulkan gelombang kedua dari wabah Covid-19.

"Prioritas utama itu tetap kesehatan masyarakat. Pemerintah harus menerapkan protokol kesehatan secara ketat dalam aktivitas kegiatan ekonomi. Hal ini harus benar-benar diperhatikan oleh pemerintah," pungkasnya.
(ihs)
preload video
TULIS KOMENTAR ANDA!
Top
Aktifkan notifikasi browser anda untuk mendapatkan update berita terkini SINDOnews.
Aktifkan
Tidak