Melihat Tradisi Sambut Ramadhan Daring Warga Tulungagung
Senin, 20 April 2020 - 17:06 WIB
loading...
A
A
A
Sementara wajah warga muncul di kotak kotak layar dengan ukuran lebih kecil. Dengan sistem daring, warga tidak lagi berkumpul di musala. Mereka cukup di rumah masing masing, dan cukup melakukan interaksi melalui via telepon selular atau laptop.
Saat doa keselamatan, kesehatan, termasuk memohon wabah Corona segera berlalu dilangitkan, warga bersama sama membalas dengan ucapan "amin". "Ini (daring) merupakan terobosan yang bagus. Untuk menjaga tradisi keagamaan jalinan ukuwah maupun syiar, "kata Gus Syauki.
Usai berdoa, disaksikan wajah wajah warga yang muncul di layar monitor, Gus Syauki secara seremonial memotong tumpeng nasi kuning. Selanjutnya 100 nasi kotak megengan yang diamini jamaah secara daring itu dibagi bagikan ke warga perumahan dan sekitarnya. "Meski situasinya darurat, alhamdulillah tradisi megengan masih bisa kita laksanakan, "tambah Gus Syauki.
Suwarso Haryoso, tokoh masyarakat RT/RW 05 Perum Puri Jepun Permai II menuturkan jika megengan daring tersebut merupakan kesepakatan masyarakat. Warga menolak meninggalkan tradisi yang sudah berjalan bertahun tahun. Namun disisi lain harus tetap menjaga social distancing dan physical distancing sebagai antisipasi penyebaran Covid-19.
Sebagai jalan tengah warga kemudian memutuskan menggelar megengan dalam jaringan berbasis internet (daring). "Intinya kami tetap ingin bersedekah antarwarga maupun kepada warga sekitar perumahan sebagai bentuk penghormatan kita sebagai umat Islam dalam menyambut datangnya bulan suci ramadan, "ujarnya.
Saat doa keselamatan, kesehatan, termasuk memohon wabah Corona segera berlalu dilangitkan, warga bersama sama membalas dengan ucapan "amin". "Ini (daring) merupakan terobosan yang bagus. Untuk menjaga tradisi keagamaan jalinan ukuwah maupun syiar, "kata Gus Syauki.
Usai berdoa, disaksikan wajah wajah warga yang muncul di layar monitor, Gus Syauki secara seremonial memotong tumpeng nasi kuning. Selanjutnya 100 nasi kotak megengan yang diamini jamaah secara daring itu dibagi bagikan ke warga perumahan dan sekitarnya. "Meski situasinya darurat, alhamdulillah tradisi megengan masih bisa kita laksanakan, "tambah Gus Syauki.
Suwarso Haryoso, tokoh masyarakat RT/RW 05 Perum Puri Jepun Permai II menuturkan jika megengan daring tersebut merupakan kesepakatan masyarakat. Warga menolak meninggalkan tradisi yang sudah berjalan bertahun tahun. Namun disisi lain harus tetap menjaga social distancing dan physical distancing sebagai antisipasi penyebaran Covid-19.
Sebagai jalan tengah warga kemudian memutuskan menggelar megengan dalam jaringan berbasis internet (daring). "Intinya kami tetap ingin bersedekah antarwarga maupun kepada warga sekitar perumahan sebagai bentuk penghormatan kita sebagai umat Islam dalam menyambut datangnya bulan suci ramadan, "ujarnya.
(msd)
Lihat Juga :