Desa Tematik Jadi Pemantik Ekonomi Warga di Masa Paceklik
Jum'at, 25 Juni 2021 - 15:49 WIB
loading...
A
A
A
Beberapa desa di Pamekasan sudah mulai menunjukkan perwajahan baru. Sebut saja Desa Pasanggar, Desa Klampar, dan Desa Larangan Badung yang kini menjadi sentra produksi berbagai jenis barang.
Desa Pasangar misalnya, dahulu ekonomi masyarakat hanya mengandalkan pertanian saja, itu pun terbatas di sektor tembakau dan durian. Kini, desa tematik itu terus berkembang dan membentangkan potensinya. Di sana para warga mulai menekuni usaha produksi sepatu, setelah beberapa orang warga mengikuti pelatihan WUB Pemkab Pamekasan.
Dengan nama Sepatu PSG Production, mereka kini menjadi produsen sepatu yang populer. Desa tematik di sana kini dikenal dengan produksi sepatu berkualitas. Meramaikan industri alas kaki di Indonesia.
baca juga: Bawa Ganja, WNA Finlandia Dibekuk Polisi Saat Santai di Bunaken
Efek domino WUB pun mulai terasa. Penghasilan masyarakat tidak hanya bertumpu pada bidang pertanian, tapi juga berupa keterampilan membuat sepatu. Berbagai jenis sepatu, mulai dari sepatu resmi, olahraga, hingga model terbaru yang trend digunakan kalangan generasi milenial sudah bisa diproduksi di PSG Production ini dengan harga yang cukup bersaing dengan sepatu yang dijual di pasaran.
Percepatan teknologi juga memainkan kunci dalam kolaborasi di desa tematik . Para milenial serta influencer iku menata sistem pemasaran yang tak lagi dilakukan secara manual, penjualan banyak dilakukan secara online. Platform seperti marketplace di media sosial seperti facebook dan instagram, serta WhatshApp dimanfaat dengan baik untuk pemasaran hasil produk desa tematik.
Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Pamekasan, juga ikut membantu memasarkan produk hasil kerajinan pelaku usaha Pamekasan melalui jaringan Kadin yang tersebar di seluruh Indonesia. Menyempurnakan model pemasaran yang dilakukan buat produk desa tematik.
Baca juga: Semua Pasien COVID-19 Varian Delta Sembuh, Ini yang Dilakukan RS Lapangan Indrapura
Ketua Kadin Pamekasan, Suhartono menuturkan, selain mampu menekan angka pengangguran , program pembentukan wirausaha baru itu, juga berpotensi mencipkan pelaku usaha mandiri yang pada akhirnya akan mampu menumbuhkan perekomian Pamekasan yang merata dan tersebar di semua desa dan kecamatan.
Melalui program ini, sebaran perputaran ekonomi di Pamekasan tidak akan hanya terpusat di perkotaan saja, tapi juga ke desa-desa. Apalagi pada saat yang sama, Pemkab Pamekasan juga menerapkan program desa tematik, yakni desa harus menetapkan tema pengembangan program berbasis potensi ekonomi desa.
Desa-desa tematik itu kini menjadi pertahanan ekonomi di tengah pandemi COVID-19 . Masyarakat tetap berdaya dengan produk unggulan yang terus diciptakan dari berbagai kampung kecil di Pamekasan. Mereka menjadikan kampungnya sebagai pusat sarung, songkok, batik, alpukat, sepatu sampai tenun. Dan produk desa tematik itu tak hanya membanjiri pangsa pasar nasional, karena mereka juga rutin untuk memenuhi pasar di luar negeri.
Desa Pasangar misalnya, dahulu ekonomi masyarakat hanya mengandalkan pertanian saja, itu pun terbatas di sektor tembakau dan durian. Kini, desa tematik itu terus berkembang dan membentangkan potensinya. Di sana para warga mulai menekuni usaha produksi sepatu, setelah beberapa orang warga mengikuti pelatihan WUB Pemkab Pamekasan.
Dengan nama Sepatu PSG Production, mereka kini menjadi produsen sepatu yang populer. Desa tematik di sana kini dikenal dengan produksi sepatu berkualitas. Meramaikan industri alas kaki di Indonesia.
baca juga: Bawa Ganja, WNA Finlandia Dibekuk Polisi Saat Santai di Bunaken
Efek domino WUB pun mulai terasa. Penghasilan masyarakat tidak hanya bertumpu pada bidang pertanian, tapi juga berupa keterampilan membuat sepatu. Berbagai jenis sepatu, mulai dari sepatu resmi, olahraga, hingga model terbaru yang trend digunakan kalangan generasi milenial sudah bisa diproduksi di PSG Production ini dengan harga yang cukup bersaing dengan sepatu yang dijual di pasaran.
Percepatan teknologi juga memainkan kunci dalam kolaborasi di desa tematik . Para milenial serta influencer iku menata sistem pemasaran yang tak lagi dilakukan secara manual, penjualan banyak dilakukan secara online. Platform seperti marketplace di media sosial seperti facebook dan instagram, serta WhatshApp dimanfaat dengan baik untuk pemasaran hasil produk desa tematik.
Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Pamekasan, juga ikut membantu memasarkan produk hasil kerajinan pelaku usaha Pamekasan melalui jaringan Kadin yang tersebar di seluruh Indonesia. Menyempurnakan model pemasaran yang dilakukan buat produk desa tematik.
Baca juga: Semua Pasien COVID-19 Varian Delta Sembuh, Ini yang Dilakukan RS Lapangan Indrapura
Ketua Kadin Pamekasan, Suhartono menuturkan, selain mampu menekan angka pengangguran , program pembentukan wirausaha baru itu, juga berpotensi mencipkan pelaku usaha mandiri yang pada akhirnya akan mampu menumbuhkan perekomian Pamekasan yang merata dan tersebar di semua desa dan kecamatan.
Melalui program ini, sebaran perputaran ekonomi di Pamekasan tidak akan hanya terpusat di perkotaan saja, tapi juga ke desa-desa. Apalagi pada saat yang sama, Pemkab Pamekasan juga menerapkan program desa tematik, yakni desa harus menetapkan tema pengembangan program berbasis potensi ekonomi desa.
Desa-desa tematik itu kini menjadi pertahanan ekonomi di tengah pandemi COVID-19 . Masyarakat tetap berdaya dengan produk unggulan yang terus diciptakan dari berbagai kampung kecil di Pamekasan. Mereka menjadikan kampungnya sebagai pusat sarung, songkok, batik, alpukat, sepatu sampai tenun. Dan produk desa tematik itu tak hanya membanjiri pangsa pasar nasional, karena mereka juga rutin untuk memenuhi pasar di luar negeri.
(eyt)
Lihat Juga :