Kritis, Ruang Isolasi ICU COVID-19 di Sleman Tinggal Tersisa 1 Bed
Jum'at, 18 Juni 2021 - 19:20 WIB
loading...
A
A
A
Kepala Dinas Kesehatan (Dinkes) Sleman Joko Hastaryo mengakui ruang isolasi kritikal COVID-19 di Sleman sudah kritis. Sebab sesuai permenkes jika ketersedian bed kritikal sudah dipakai di atas 80% sudah mengkhawatirkan. “Isolasi kritikal kritis,” kata Joko, Jumat (18/6/2021).
Joko menjelaskan sebagai solusinya meminta rumah sakit rujukan menambah bed kritikal dan bagi pasien COVID-19 yang kondisinya tidak terlalu berat diturunkan ke non kritikal. Selain itu juga berkoordinasi dengan RS daerah sekitar untuk dapat mengirimkan pasien jika bed kritikalnya banyak yang kosong.
“Ini juga pernah dilakukan daerah lain, yang mengirimkan pasien COVID-19 ke rumah sakit rujukan di Sleman saat bed kritikal tidak terpakai atau kosong,” paparnya.
Dia memaparkan, untuk penambahan bed kritikal ini yang memungkinkan dilakukan di RSA UGM. Sebab dari 40 ruang yang ada, baru dioperasionalkan 23 ruang. Selain itu di RSUP Dr Sardjito dan RSUD Sleman.
Namun jika menambah ruang, yang menjdi kendala keterbatasan sumber daya manusia (SDM) tenaga medis. Sebab, membutuhkan tambahan tenaga medis yang terlatih. Padahal perlu pelatihan selama enam bulan dan dokternya harus spesialis.
Joko menjelaskan sebagai solusinya meminta rumah sakit rujukan menambah bed kritikal dan bagi pasien COVID-19 yang kondisinya tidak terlalu berat diturunkan ke non kritikal. Selain itu juga berkoordinasi dengan RS daerah sekitar untuk dapat mengirimkan pasien jika bed kritikalnya banyak yang kosong.
“Ini juga pernah dilakukan daerah lain, yang mengirimkan pasien COVID-19 ke rumah sakit rujukan di Sleman saat bed kritikal tidak terpakai atau kosong,” paparnya.
Dia memaparkan, untuk penambahan bed kritikal ini yang memungkinkan dilakukan di RSA UGM. Sebab dari 40 ruang yang ada, baru dioperasionalkan 23 ruang. Selain itu di RSUP Dr Sardjito dan RSUD Sleman.
Namun jika menambah ruang, yang menjdi kendala keterbatasan sumber daya manusia (SDM) tenaga medis. Sebab, membutuhkan tambahan tenaga medis yang terlatih. Padahal perlu pelatihan selama enam bulan dan dokternya harus spesialis.
Lihat Juga :