Rayakan Ulang Tahun Bung Karno, Perupa Blitar Kumpul di Istana Gebang
Minggu, 06 Juni 2021 - 14:44 WIB
loading...
A
A
A
Baca juga: Tangis Histeris Pecah di Alor, Sambut Kedatangan Korban Penembakan Sadis Teroris KKB
Kemudian oleh MURI dinyatakan memecahkan rekor. Pada ultah Bung Karno ke 114, Soni melukis 114 karakter Bung Karno di atas kain sepanjang 114 meter. Di tahun 1995. Saat pertama kali memutuskan diri menjadi perupa, obyek pertamanya adalah Bung Karno.
"Di antara lukisan yang saya buat, melukis Bung Karno paling tidak mudah," katanya. Bagi Soni, angle Bung Karno close up adalah yang tersulit. Hal detil mengenai anatomi Bung Karno harus benar-benar ia perhatikan. Termasuk semua yang tidak simetris.
Misalnya ukuran telinga yang tidak sama. Pelupuk mata tidak sama. Alis tidak sama. Struktur gigi Bung Karno muda dan tua yang tidak sama. Juga kulit wajah berlobang-lobang yang diduga bekas cacar atau jerawat. Menurut Soni harus muncul sebagai ekspresi yang apa adanya.
Baca juga: Dalam Semalam Sesar Cimandiri dan Lempeng Eurasia Akibatkan Selatan Jawa Barat Bergetar
Justru bukan lagi Bung Karno bila ketidaksimetrisan itu disempurnakan dalam lukisan. "Karenanya, karena ada rasa tanggung jawab membuat karya sebelum melukis biasaya nyekar dulu, berdoa dulu di makamnya," terang Soni.
Pada perayaan ultah Bung Karno kali ini, para seniman Blitar Raya mengambil tema Kepedulian Generasi Muda Terhadap Bung Karno . Selain perupa hadir juga seniman musik. Kemudian juga sejumlah aktivis mahasiswa yang membaca puisi.
Terdengar bait bait puisi berjudul Putra Sang Fajar dibacakan. Aktivitas ini, kata Soni bersifat spontan. Semua persiapan dan kebutuhan dipikul bersama dengan cara patungan. "Tidak ada campur tangan pemerintah," pungkasnya.
Kemudian oleh MURI dinyatakan memecahkan rekor. Pada ultah Bung Karno ke 114, Soni melukis 114 karakter Bung Karno di atas kain sepanjang 114 meter. Di tahun 1995. Saat pertama kali memutuskan diri menjadi perupa, obyek pertamanya adalah Bung Karno.
"Di antara lukisan yang saya buat, melukis Bung Karno paling tidak mudah," katanya. Bagi Soni, angle Bung Karno close up adalah yang tersulit. Hal detil mengenai anatomi Bung Karno harus benar-benar ia perhatikan. Termasuk semua yang tidak simetris.
Misalnya ukuran telinga yang tidak sama. Pelupuk mata tidak sama. Alis tidak sama. Struktur gigi Bung Karno muda dan tua yang tidak sama. Juga kulit wajah berlobang-lobang yang diduga bekas cacar atau jerawat. Menurut Soni harus muncul sebagai ekspresi yang apa adanya.
Baca juga: Dalam Semalam Sesar Cimandiri dan Lempeng Eurasia Akibatkan Selatan Jawa Barat Bergetar
Justru bukan lagi Bung Karno bila ketidaksimetrisan itu disempurnakan dalam lukisan. "Karenanya, karena ada rasa tanggung jawab membuat karya sebelum melukis biasaya nyekar dulu, berdoa dulu di makamnya," terang Soni.
Pada perayaan ultah Bung Karno kali ini, para seniman Blitar Raya mengambil tema Kepedulian Generasi Muda Terhadap Bung Karno . Selain perupa hadir juga seniman musik. Kemudian juga sejumlah aktivis mahasiswa yang membaca puisi.
Terdengar bait bait puisi berjudul Putra Sang Fajar dibacakan. Aktivitas ini, kata Soni bersifat spontan. Semua persiapan dan kebutuhan dipikul bersama dengan cara patungan. "Tidak ada campur tangan pemerintah," pungkasnya.
(eyt)
Lihat Juga :