Cerita Cinta Dari Kampung China, Ratusan Tahun Menyatu Dalam Urat Nadi Manado
Minggu, 23 Mei 2021 - 17:19 WIB
loading...
A
A
A
Di seberang Klenteng Ban Hin Kiong, ada Klenteng Kwan Kong. Klenteng ini dibangun tahun 1967. Nama klenteng ini diambil dari sang pahlawan jujur dan setia bernama Kwan Kong. Sehingga pada hari ke-24 bulan keenam, klenteng ini merayakan hari khusus. Momen itu merupakan ulang tahun yang suci Kwan Kong.
Tak sulit menemukan lokasi pechinan ini, sebab berada di tengah-tengah kota . Ke sini bisa menggunakan angkot jurusan Pasar 45 atau taksi online. Dari bandara berjarak sekitar 20 km. Di sekitar kawasan, banyak terdapat rumah makan atau kedai kopi.
![Cerita Cinta Dari Kampung China, Ratusan Tahun Menyatu Dalam Urat Nadi Manado]()
Budayawan Tionghoa, Sofyan Jimmy Yosadi menggatakan, bahwa kawasan Kampung China ini sejak ratusan tahun silam sudah ada di daerah Kota Manado , yang dahulu kala disebut Wenang.
Awalnya kawasan ini masih berupa rawa-rawa, dibangun di belakang Benteng Fort Amsterdam , yang didirikan oleh bangsa Portugis, dan Spanyol, kemudian dilanjutkan oleh pemerintah Hindia Belanda yang namanya diubah menjadi benteng Fort Nieuw Amsterdam (Amsterdam Baru).
Baca juga: Simalungun Gempar, Minggu Pagi Kobaran Api Melalap Pemukiman Penduduk Hutabayu Raja
"Kemudian di belakang benteng oleh pemerintah Hindia Belanda, dibangun pemukiman-pemukiman yang berdasarkan etnis. Ada China, Arab, termasuk Minahasa, gunanya untuk mudah mengontrolnya," ungkapnya.
"Di belakang benteng ini lahir apa yang disebut dengan pemukiman khusus warga Tionghoa, namanya Kampung China, di sebelahnya ada kampung Arab, ada juga Kampung Tomohon , dan ada bantik," tutur Sofyan.
Tak sulit menemukan lokasi pechinan ini, sebab berada di tengah-tengah kota . Ke sini bisa menggunakan angkot jurusan Pasar 45 atau taksi online. Dari bandara berjarak sekitar 20 km. Di sekitar kawasan, banyak terdapat rumah makan atau kedai kopi.

Budayawan Tionghoa, Sofyan Jimmy Yosadi menggatakan, bahwa kawasan Kampung China ini sejak ratusan tahun silam sudah ada di daerah Kota Manado , yang dahulu kala disebut Wenang.
Awalnya kawasan ini masih berupa rawa-rawa, dibangun di belakang Benteng Fort Amsterdam , yang didirikan oleh bangsa Portugis, dan Spanyol, kemudian dilanjutkan oleh pemerintah Hindia Belanda yang namanya diubah menjadi benteng Fort Nieuw Amsterdam (Amsterdam Baru).
Baca juga: Simalungun Gempar, Minggu Pagi Kobaran Api Melalap Pemukiman Penduduk Hutabayu Raja
"Kemudian di belakang benteng oleh pemerintah Hindia Belanda, dibangun pemukiman-pemukiman yang berdasarkan etnis. Ada China, Arab, termasuk Minahasa, gunanya untuk mudah mengontrolnya," ungkapnya.
"Di belakang benteng ini lahir apa yang disebut dengan pemukiman khusus warga Tionghoa, namanya Kampung China, di sebelahnya ada kampung Arab, ada juga Kampung Tomohon , dan ada bantik," tutur Sofyan.

Lihat Juga :