Sejarah Mudik di Indonesia, Urbanisasi Sebagai Cikal Bakal Orang Rindu Kampung Halaman
Jum'at, 07 Mei 2021 - 10:45 WIB
loading...
A
A
A
Terkait dengan asal-usul bahasanya, mudik berasal dari kata udik yang berarti ujung. “Jadi orang desa dianggap udik gitu, jadi kita kembali kepada ujung. Sehingga kalau kita pulang kampung dikatakan mudik atau ‘menuju ke udik,” tutur dosen Program Studi Ilmu Sejarah tersebut.
Sementara itu terkait tradisi yang biasa terjadi dalam mudik, Prof. Purnawan menuturkan bahwa yang utama yakni bersilaturrahim dan reuni yang diikuti dengan makan-makan bersama. Di samping itu, terdapat pula tradisi ziarah kubur serta berkebun bagi yang memiliki kebun.
Meskipun dalam masa pandemi beberapa aktivitas dapat dilakukan dalam jaringan, namun tidak berlaku bagi mudik. “Terkait dengan ucapan selamat (Hari Raya Idul Fitri, Red) ya bisa lewat telepon, tapi itu bukan berarti mudik. Mudik tetap harus datang langsung karena tidak ada mudik online, makanya dengan adanya pandemi ini kan ya kita disuruh untuk menunda mudik bukan mengganti, ” ungkapnya. Baca: BPS Lansir 12 Wisman Masuk Riau, Kemenhumham Sebut Mereka Pekerja.
Mengenai penundaan mudik, Prof. Purnawan menuturkan bahwa hal itu terlepas dari konteks Hari Raya Idul Fitri. “Kan bisa saja gak pas lebaran, saya tak mudik gitu yang artinya pulang ke tempat asal kita,” ungkapnya. Baca: Lebaran Tanpa Mudik pada 1963, Aksi Calo dan Jalan Berliku Membeli Tiket Kereta Api di Jakarta.
Prof. Purnawan juga menambahkan bahwa mudik di hari raya tetap dianggap sebagai sesuatu yang spesial. Karena mayoritas masyarakat Indonesia beragama Islam maka momen tersebut juga dijadikan sebagai tradisi meminta maaf kepada keluarga, sanak saudara, dan sebagainya. Baca Juga: Halau Emak-emak Belanja Berkerumun, Puluhan Petugas Bakal Sisir Pusat Perbelanjaan di Bandung.
Sementara itu mudik, tidak hanya terjadi di Indonesia. “Fenomena semacam itu terjadi di banyak negara juga. Jadi ketika ada liburan-liburan tertentu yang dianggap bisa untuk ketemu keluarga ya mereka berbondong-bondong untuk pulang,” kata dekan FIB Universitas Airlangga ini
Sementara itu terkait tradisi yang biasa terjadi dalam mudik, Prof. Purnawan menuturkan bahwa yang utama yakni bersilaturrahim dan reuni yang diikuti dengan makan-makan bersama. Di samping itu, terdapat pula tradisi ziarah kubur serta berkebun bagi yang memiliki kebun.
Meskipun dalam masa pandemi beberapa aktivitas dapat dilakukan dalam jaringan, namun tidak berlaku bagi mudik. “Terkait dengan ucapan selamat (Hari Raya Idul Fitri, Red) ya bisa lewat telepon, tapi itu bukan berarti mudik. Mudik tetap harus datang langsung karena tidak ada mudik online, makanya dengan adanya pandemi ini kan ya kita disuruh untuk menunda mudik bukan mengganti, ” ungkapnya. Baca: BPS Lansir 12 Wisman Masuk Riau, Kemenhumham Sebut Mereka Pekerja.
Mengenai penundaan mudik, Prof. Purnawan menuturkan bahwa hal itu terlepas dari konteks Hari Raya Idul Fitri. “Kan bisa saja gak pas lebaran, saya tak mudik gitu yang artinya pulang ke tempat asal kita,” ungkapnya. Baca: Lebaran Tanpa Mudik pada 1963, Aksi Calo dan Jalan Berliku Membeli Tiket Kereta Api di Jakarta.
Prof. Purnawan juga menambahkan bahwa mudik di hari raya tetap dianggap sebagai sesuatu yang spesial. Karena mayoritas masyarakat Indonesia beragama Islam maka momen tersebut juga dijadikan sebagai tradisi meminta maaf kepada keluarga, sanak saudara, dan sebagainya. Baca Juga: Halau Emak-emak Belanja Berkerumun, Puluhan Petugas Bakal Sisir Pusat Perbelanjaan di Bandung.
Sementara itu mudik, tidak hanya terjadi di Indonesia. “Fenomena semacam itu terjadi di banyak negara juga. Jadi ketika ada liburan-liburan tertentu yang dianggap bisa untuk ketemu keluarga ya mereka berbondong-bondong untuk pulang,” kata dekan FIB Universitas Airlangga ini
(nag)
Lihat Juga :