Dikulik Idang Rasjidi, Bocah Tulungagung Ini Pukau Penggemar Musik Jazz
Kamis, 01 April 2021 - 18:30 WIB
loading...
A
A
A
Sementara proses pembuatan album "Hanya Ilusi" yang baru saja dirilis tersebut, berjalan cukup ajaib. Tujuh lagu digarap hanya dalam waktu dua bulan. Selama proses penciptaan, mulai akhir Desember 2020, kata Marsha dirinya banyak di Bogor, Jawa Barat, tempat musisi Idang Rasjidi, berada.
Mulai ngobrol, latihan, sampai take lagu atau perekaman, semuanya dilakukan di tempat musisi jazz Idang Rasjidi. "Beberapa kali pulang ke Tulungagung karena harus sekolah," tambah Marsha yang mengatakan mengenal musik jazz pertama kali dari kakaknya.
Promo marketing album "Hanya Ilusi" Marsha memakai platform digital, termasuk memproduksi sejumlah CD untuk diputar di stasiun radio. Dari tujuh lagu yang ia nyanyikan, kata Marsha, lagu berjudul "Peradaban" yang paling sulit.
Lagu "Peradaban" bercerita tentang seseorang yang lebih memikirkan diri sendiri tanpa peduli nasib orang lain. Sedangkan lagu yang paling asyik, dan merasa dirinya banget, menurut Marsha lagu "Resah" dan "Narsis". "Namun pada intinya semua lagu andalan. Lagu Peradaban paling berat, tapi fun," kata Marsha yang berharap bisa terus berkarya.
Sandra Fitriani, eksekutif produser mengaku puas dengan album "Hanya Ilusi" yang dinyanyikan putrinya. Dengan mengambil platform digital sebagai strategi promo marketing, ia berharap karya Marsha bisa diterima masyarakat luas.
Sandra juga mengatakan, meski datang dari daerah kecil, yakni Kabupaten Tulungagung, potensi yang dimiliki anak daerah tidak kalah dengan anak anak yang tumbuh di kota kota besar. "Semoga Marsha bisa terus berkarya, berkarya dan berkarya lebih baik lagi," kata Sandra.
Mulai ngobrol, latihan, sampai take lagu atau perekaman, semuanya dilakukan di tempat musisi jazz Idang Rasjidi. "Beberapa kali pulang ke Tulungagung karena harus sekolah," tambah Marsha yang mengatakan mengenal musik jazz pertama kali dari kakaknya.
Promo marketing album "Hanya Ilusi" Marsha memakai platform digital, termasuk memproduksi sejumlah CD untuk diputar di stasiun radio. Dari tujuh lagu yang ia nyanyikan, kata Marsha, lagu berjudul "Peradaban" yang paling sulit.
Lagu "Peradaban" bercerita tentang seseorang yang lebih memikirkan diri sendiri tanpa peduli nasib orang lain. Sedangkan lagu yang paling asyik, dan merasa dirinya banget, menurut Marsha lagu "Resah" dan "Narsis". "Namun pada intinya semua lagu andalan. Lagu Peradaban paling berat, tapi fun," kata Marsha yang berharap bisa terus berkarya.
Sandra Fitriani, eksekutif produser mengaku puas dengan album "Hanya Ilusi" yang dinyanyikan putrinya. Dengan mengambil platform digital sebagai strategi promo marketing, ia berharap karya Marsha bisa diterima masyarakat luas.
Sandra juga mengatakan, meski datang dari daerah kecil, yakni Kabupaten Tulungagung, potensi yang dimiliki anak daerah tidak kalah dengan anak anak yang tumbuh di kota kota besar. "Semoga Marsha bisa terus berkarya, berkarya dan berkarya lebih baik lagi," kata Sandra.
(shf)
Lihat Juga :