Alat Deteksi COVID-19 Karya Profesor ITS i-Nose C-19 Diujicoba di RSI Surabaya
Senin, 22 Februari 2021 - 23:47 WIB
loading...
A
A
A
Riyanarto Sarno juga menuturkan, perhatiannya pada masa pandemi ini menuntut untuk segera menghadirkan inovasi baru sebagai bentuk usaha bertahan di situasi ini. Namun, ia menambahkan bahwa untuk menghidupkan inovasi tidaklah mudah, tanpa penelitian yang lanjut maka bisa tertinggal dengan yang lain. "Sama halnya dengan alat skrining COVID-19 , yang semakin hari semakin banyak macam dan metodenya dari rapid antigen sampai PCR," ucapnya.
Baca juga: Medan Gempar, Wanita Muda Berkulit Mulus Mengenakan Pakaian Loreng Macan Tewas Misterius
Guru besar Teknik Informatika ITS ini menegaskan, inovasi alat skrining COVID-19 melalui bau keringat ketiak ini bukan sebagai pengganti tes swab PCR. Tetapi hanya alat skrining atau deteksi awal COVID-19 sebelum seseorang melakukan swab PCR dan sebagai alternatif untuk mempercepat proses skrining. "Cara kerja i-Nose C-19 pun berbeda dengan rapid test berbasis antibodi maupun rapid antigen," kata Ryan, panggilan akrabnya.
Tak hanya sampai di situ, ia melanjutkan bahwa i-Nose C-19 saat ini keefektifannya sudah mencapai minimum 91 persen. "Diharapkan dengan semakin banyaknya sampel yang diuji cobakan pada alat ini nantinya semakin dapat membantu keakuratannya," ungkapnya.
Baca juga: TTS Gempar, Belasan Warga Diterjang Banjir Bandang Saat Gotong Jenazah
Mengingat, i-Nose C-19 mendeteksi bau yang berasal dari Volatile Organic Compound (VOC) yang terdapat dalam keringat ketiak, pengambilan sampel dilakukan dengan menghisap bau keringat melalui selang kecil. Kemudian disalurkan ke deretan sensor (sensor array) pada i-Nose C-19 . Setelah itu, gas bau tersebut diubah menjadi sinyal listrik dan diolah menggunakan kecerdasan buatan (artificial intelligence).
Baca juga: Medan Gempar, Wanita Muda Berkulit Mulus Mengenakan Pakaian Loreng Macan Tewas Misterius
Guru besar Teknik Informatika ITS ini menegaskan, inovasi alat skrining COVID-19 melalui bau keringat ketiak ini bukan sebagai pengganti tes swab PCR. Tetapi hanya alat skrining atau deteksi awal COVID-19 sebelum seseorang melakukan swab PCR dan sebagai alternatif untuk mempercepat proses skrining. "Cara kerja i-Nose C-19 pun berbeda dengan rapid test berbasis antibodi maupun rapid antigen," kata Ryan, panggilan akrabnya.
Tak hanya sampai di situ, ia melanjutkan bahwa i-Nose C-19 saat ini keefektifannya sudah mencapai minimum 91 persen. "Diharapkan dengan semakin banyaknya sampel yang diuji cobakan pada alat ini nantinya semakin dapat membantu keakuratannya," ungkapnya.
Baca juga: TTS Gempar, Belasan Warga Diterjang Banjir Bandang Saat Gotong Jenazah
Mengingat, i-Nose C-19 mendeteksi bau yang berasal dari Volatile Organic Compound (VOC) yang terdapat dalam keringat ketiak, pengambilan sampel dilakukan dengan menghisap bau keringat melalui selang kecil. Kemudian disalurkan ke deretan sensor (sensor array) pada i-Nose C-19 . Setelah itu, gas bau tersebut diubah menjadi sinyal listrik dan diolah menggunakan kecerdasan buatan (artificial intelligence).
Lihat Juga :