Buruh Serabutan Sawit di Pesisir Barat Keluhkan Bansos Pemerintah
Senin, 22 Februari 2021 - 00:05 WIB
loading...
ilustrasi
A
A
A
PESISIR BARAT - Jarum jam tepat menunjukkan pukul 06.00 WIB, Sabtu pagi (20/2/2021). Ketika sebagian besar penduduk Pekon Sukanegara, Kecamatan Ngambur, Pesisir Barat, masih lelap, pasangan suami istri Muhammad Toha (28) dan Dewi Sartika (25) sudah beranjak dari rumah papannya yang sederhana.
Berbekal dodos (sejenis pisau berbentuk sekop dengan gagang sangat panjang) dan egrek, sejoli ini bergegas menuju areal perkebunan sawit yang berjarak sekitar 5 kilometer dari rumah mereka. Di sana, mereka mengais rejeki sebagai buruh kasar pemetik sawit.
Bukan pekerjaan yang mudah terlebih bagi Dewi yang berkelamin perempuan. Upahnya pun minim. Hanya Rp150 perkilo. Harga itu merupakan upah borongan, mulai dari memetik buah menggunakan dodos, membersihkan pelepah dengan egrek, hingga mengangkut buah menggunakan motor menuju titik pengepul.
Baca juga: Asyik Pesta Seks di Tepi Pantai, Pasangan Mesum Digerebek Polisi Saat Masih Telanjang
Dalam sehari, Toha dan Dewi bisa memanen sampai 1 ton buah sawit atau meraup upah Rp150 ribu. Jika saja pekerjaan ini berlangsung tiap hari, niscaya keluarga ini kecukupan memenuhi kebutuhan dasar hidup mereka. Sialnya, pekerjaan ini hanya bisa dilakoni delapan kali dalam sebulan. Artinya, Toha dan bininya hanya berpenghasilan Rp1,2 juta sebulan. Jumlah yang sangat minim bagi kehidupan Toha, Dewi, dua anak mereka, serta ibu kandung Toha yang merupakan lansia dan tinggal serumah dengan mereka.
Kondisi inilah yang membuat hati Muhammad Toha terus resah. Raut wajahnya menunjukkan kegelisahan saat ditemui awak media di sela-sela kesibukannya mengunduh sawit. Apalagi, sebagai OTM (Orang Tidak Mampu) ia sekeluarga tidak masuk DTKS Kemensos. Akibatnya, semua program pemerintah untuk penanganan kesejahteraan sosial, tak pernah singgah ke rumahnya.
Berbekal dodos (sejenis pisau berbentuk sekop dengan gagang sangat panjang) dan egrek, sejoli ini bergegas menuju areal perkebunan sawit yang berjarak sekitar 5 kilometer dari rumah mereka. Di sana, mereka mengais rejeki sebagai buruh kasar pemetik sawit.
Bukan pekerjaan yang mudah terlebih bagi Dewi yang berkelamin perempuan. Upahnya pun minim. Hanya Rp150 perkilo. Harga itu merupakan upah borongan, mulai dari memetik buah menggunakan dodos, membersihkan pelepah dengan egrek, hingga mengangkut buah menggunakan motor menuju titik pengepul.
Baca juga: Asyik Pesta Seks di Tepi Pantai, Pasangan Mesum Digerebek Polisi Saat Masih Telanjang
Dalam sehari, Toha dan Dewi bisa memanen sampai 1 ton buah sawit atau meraup upah Rp150 ribu. Jika saja pekerjaan ini berlangsung tiap hari, niscaya keluarga ini kecukupan memenuhi kebutuhan dasar hidup mereka. Sialnya, pekerjaan ini hanya bisa dilakoni delapan kali dalam sebulan. Artinya, Toha dan bininya hanya berpenghasilan Rp1,2 juta sebulan. Jumlah yang sangat minim bagi kehidupan Toha, Dewi, dua anak mereka, serta ibu kandung Toha yang merupakan lansia dan tinggal serumah dengan mereka.
Kondisi inilah yang membuat hati Muhammad Toha terus resah. Raut wajahnya menunjukkan kegelisahan saat ditemui awak media di sela-sela kesibukannya mengunduh sawit. Apalagi, sebagai OTM (Orang Tidak Mampu) ia sekeluarga tidak masuk DTKS Kemensos. Akibatnya, semua program pemerintah untuk penanganan kesejahteraan sosial, tak pernah singgah ke rumahnya.
Lihat Juga :