Jangan Keliru Pahami Vaksinasi COVID-19, Simak Penjelasan Lengkap Epidemiolog
Rabu, 13 Januari 2021 - 14:05 WIB
loading...
A
A
A
Kedua, membentuk kekebalan kelompok. Ketiga, memperkuat sistem kesehatan masyarakat, dan terakhir menjaga produktivitas serta mempercepat pemulihan ekonomi dan sosial.
Sementara itu, Penanggung Jawab Komunikasi Sosial Politik Pelaksana Komite Penanganan COVID-19 dan Pemulihan Ekonomi Nasional (KPCPEN) Dila Amran mengatakan, setelah vaksinasi, masyarakat wajib meningkatkan disiplin prokes dari 3M ke 5M.
"Selain memakai masker, menjaga jarak, mencuci tangan pakai sabun, perlu ditambah menjauhi kerumunan dan membatasi mobilitas," katanya.
Menurutnya, pemerintah saat ini menghadapi tantangan berat karena beberapa survei menyebutkan tingkat penerimaan vaksin masyarakat terus bergerak. Pada Agustus 2020, sebanyak 64,8 persen menerima vaksin, kemudian turun menjadi 39 persen, 37 persen, dan terakhir 31 persen.
(Baca juga: Vaksinasi COVID-19 Perdana Digelar Besok, Ridwan Kamil Sebut Penolak Vaksin Sumber Penyakit)
Menurutnya, untuk menyukseskan vaksinasi, semua elemen dari pusat sampai RT/RW harus bergerak mengampanyekan pesan positif.
"Lokalitas sangat penting, pemda harus lebih agresif. Faskes dan posyandu sangat penting. Jangan sampai orang datang pada suntikan pertama, tapi tidak datang pada penyuntikan kedua,” katanya.
(Baca juga: Tenaga Pendidik di Kota Bandung Positif COVID-19 dan Meninggal, Klaster Pendidikan?)
Menurut Dila, setelah mendapat sertifkasi halal dan suci dari MUI serta izin penggunaan darurat dari BPOM, vaksin Sinovac yang sudah ada di gudang provinsi saat ini sangat aman disuntikkan.
"Tapi jangan lupa setelah divaksin prokes 5M harus dijalankan. Pesannya adalah vaksin aman, imun, dan prokes dijalankan," katanya.
Sementara itu, Penanggung Jawab Komunikasi Sosial Politik Pelaksana Komite Penanganan COVID-19 dan Pemulihan Ekonomi Nasional (KPCPEN) Dila Amran mengatakan, setelah vaksinasi, masyarakat wajib meningkatkan disiplin prokes dari 3M ke 5M.
"Selain memakai masker, menjaga jarak, mencuci tangan pakai sabun, perlu ditambah menjauhi kerumunan dan membatasi mobilitas," katanya.
Menurutnya, pemerintah saat ini menghadapi tantangan berat karena beberapa survei menyebutkan tingkat penerimaan vaksin masyarakat terus bergerak. Pada Agustus 2020, sebanyak 64,8 persen menerima vaksin, kemudian turun menjadi 39 persen, 37 persen, dan terakhir 31 persen.
(Baca juga: Vaksinasi COVID-19 Perdana Digelar Besok, Ridwan Kamil Sebut Penolak Vaksin Sumber Penyakit)
Menurutnya, untuk menyukseskan vaksinasi, semua elemen dari pusat sampai RT/RW harus bergerak mengampanyekan pesan positif.
"Lokalitas sangat penting, pemda harus lebih agresif. Faskes dan posyandu sangat penting. Jangan sampai orang datang pada suntikan pertama, tapi tidak datang pada penyuntikan kedua,” katanya.
(Baca juga: Tenaga Pendidik di Kota Bandung Positif COVID-19 dan Meninggal, Klaster Pendidikan?)
Menurut Dila, setelah mendapat sertifkasi halal dan suci dari MUI serta izin penggunaan darurat dari BPOM, vaksin Sinovac yang sudah ada di gudang provinsi saat ini sangat aman disuntikkan.
"Tapi jangan lupa setelah divaksin prokes 5M harus dijalankan. Pesannya adalah vaksin aman, imun, dan prokes dijalankan," katanya.
(boy)
Lihat Juga :