Alat Tes Corona Buatan Unpad-ITB, Akurasi Lebih Tinggi dan Lebih Murah
Kamis, 14 Mei 2020 - 20:02 WIB
loading...
A
A
A
"Sekitar 0,6 persen dari jumlah penduduk Jabar atau 300.000 orang harus dites. Insya Allah kami bisa mengejar target itu. Hadirnya berbagai alat tes medis buatan lokal ini menunjukkan bangsa kita bisa memproduksi alat bioteknologi sendiri," tegas Kang Emil.
(Baca: Rekomendasi Alat Tes Diragukan, 443 orang di Bali Sempat Divonis Corona)
Ketua Tim Riset Diagnostik COVID-19 Unpad Muhammad Yusuf menuturkan, rapid test 2.0 dikembangkan untuk mendeteksi keberadaan virus (antigen) di dalam tubuh.
Keunggulan produk ini lebih murah, akurat, mudah digunakan, cepat, dan bisa didistribusikan ke pelosok daerah. Sebagian besar komponen produk ini pim dikembangkan di dalam negeri, sehingga mengurangi ketergantungan impor dan ketersediaan bahan baku.
"Unpad bermitra dengan PT Tekad Mandiri Citra yang berkomitmen memproduksi antibodi sebagai salah satu komponen utamanya. Juga PT Pakar Biomedika Indonesia yang telah memiliki kapasitas, pengalaman, dan izin produksi rapid tes di dalam negeri," terangnya.
"Kalau PCR mencari kode genetik spesifik lalu diperbanyak sehingga akan diketahui ada tidaknya virus di situ. Jadi, yang dideteksi itu adalah gen yang merepresentasikan adanya virus. Kalau SPR yang dideteksi adalah partikel virusnya," pungkas Yusuf.
(Baca: Rekomendasi Alat Tes Diragukan, 443 orang di Bali Sempat Divonis Corona)
Ketua Tim Riset Diagnostik COVID-19 Unpad Muhammad Yusuf menuturkan, rapid test 2.0 dikembangkan untuk mendeteksi keberadaan virus (antigen) di dalam tubuh.
Keunggulan produk ini lebih murah, akurat, mudah digunakan, cepat, dan bisa didistribusikan ke pelosok daerah. Sebagian besar komponen produk ini pim dikembangkan di dalam negeri, sehingga mengurangi ketergantungan impor dan ketersediaan bahan baku.
"Unpad bermitra dengan PT Tekad Mandiri Citra yang berkomitmen memproduksi antibodi sebagai salah satu komponen utamanya. Juga PT Pakar Biomedika Indonesia yang telah memiliki kapasitas, pengalaman, dan izin produksi rapid tes di dalam negeri," terangnya.
"Kalau PCR mencari kode genetik spesifik lalu diperbanyak sehingga akan diketahui ada tidaknya virus di situ. Jadi, yang dideteksi itu adalah gen yang merepresentasikan adanya virus. Kalau SPR yang dideteksi adalah partikel virusnya," pungkas Yusuf.
(muh)
Lihat Juga :