Perhatian! Berita ini memuat konten dewasa.
Apakah anda sudah berusia 17 tahun atau lebih?

Debat Pamungkas Pilwali Surabaya, Berebut Swing Voters Potensial

loading...
Debat Pamungkas Pilwali Surabaya, Berebut Swing Voters Potensial
ilustrasi
SURABAYA - Kampanye hari terakhir masih menyisakan debat pamungkas Pilkada Surabaya yang digelar nanti malam, Sabtu (5/12/2020). Pasangan calon (paslon) Eri Cahyadi-Armuji maupun Machfud Arifin-Mujiaman harus tampil maksial untuk bisa merebut swing voters yang jumlahnya mencapai 45 persen.

Pakar Politik Universitas Trunojoyo Madura Surokim Abdussalam menuturkan, secara umum debat paslon masih punya pengaruh 6,5 persen. Secara keseluruhan kendati yang menonton debat ada di kisaran 24 persen.

(Baca juga: Debat Terakhir Pilkada Surabaya 2020, WS: Insya Allah Saya Hadir )

“Dalam posisi head to head menurut saya itu cukup berpengaruh signifikan pada masyarakat perkotaan, khususnya pemilih swing yang masih 45 persen dan undecided voters yang masih 12 persen serta pemilih rasional 27 persen,” kata Surokim, Sabtu (5/12/2020).



Ia melanjutkan, potensi lainnya masih ada pemilih yang akan memutuskan pilihan di masa tenang sebanyak 23,7 persen dan hari H sebanyak 22,5 persen. Sementara masih ada separuh lagi yang mungkin masih bisa berubah pilihan.

Dekan Fakultas Ilmu Budaya dan Politik ini menambahkan, orang bisa berubah pilihan karena visi dan misi program masih 36,2 persen. Sehingga kampanye di hari terakhir masih menentukan. “Kalau efektivitas kampanye digital melalui medsos 16,1 persen, jadi perlu pelengkap dan penguat yang lain,” sambungnya.

Dalam beberapa hari terakhir banyak keluar hasil survei yang menunjukan beragam angka bagi kedua paslon. Hasil hasil survei akan berpengaruh dan tidaknya pemilih rasional kritis serta memiliki efek terpaan yang lumayan.

“Disamping ada fenomena anut grubyuk dan efek echo ruang gema politik. Biasanya orang akan ikut pada yang punya peluang menang dan majority,” jelasnya.

Untuk angka golput sendiri, katanya, berada dalam situasi normal kisarannya 10-15 persen. Biasanya 11 atau 12 persen dan tidak akan terlalu mengubah peta. Dalam situasi pandemi memang problem tidak hadir di TPS akan jadi masalah jika selama ini angka partisipasi pilkada normal 50 persen sampai 60 persen.

“Jika menggunakan logika umum decrease 20 persen akibat pandemi yang berlaku di semua sektor, maka angka partisipasi masih bisa 40 persen. Menurut saya jika melihat budaya masyarakat timur yang guyup dan anut grubyuk, saya pikir tidak akan terlampau jatuh dan mengubah drastis petanya,” ungkapnya
(msd)
preload video
TULIS KOMENTAR ANDA!
Top