Cerita Berandal Lokajaya di atas Kanvas Limbah Kulit Sapi Seniman Tulungagung
Senin, 30 November 2020 - 05:00 WIB
loading...
A
A
A
"Yang pertama justru kerajinan dari limbah kayu yang kemudian dalam perjalanannya berkembang ke limbah kulit sapi," kenang Deni. Dari limbah kayu sisa pembuatan mebelair, terciptalah kerajinan patung, ukiran pintu, dekorasi rumah, sampai lukisan relief dengan metode seni cukil.
Deni memperlihatkan lukisan cukil bertema "Jaka Tarub" yang tengah mengendap endap hendak mencuri selendang bidadari Nawangwulan. Lukisan dengan ukuran 75 cm X 175 cm itu terlihat begitu hidup. Bentuknya tiga dimensi. Untuk karya seni yang digarap Supriyo sekitar tiga bulan itu, Deni mematok harga Rp 20 juta. (Baca: Atas Nama Kemanusiaan, Keluarga Minta Pemerintah Bebaskan Abu Bakar Baasyir).
"Dibeli oleh orang Wonosobo. Bagi yang tahu seni dan membutuhkan, harga segitu tidak mahal," papar Deni menambahkan jika pembuatan mebelainya hingga kini juga masih berjalan. Tidak hanya melayani pasar lokal. Yakni eks karsidenan Kediri dan luar daerah. Tidak sedikit pembeli karya seni limbah kayu dan kulit tersebut datang dari luar negeri.
Sebut saja Taiwan, Hongkong dan Malaysia. Hanya dari karya seni limbah kayu dan kulit rata rata omzet keuntungan mencapai Rp 10 juta per bulan. Di awal pandemi COVID-19, yakni selama tiga bulan, kata Deni, usahanya sempat tidak mendapat pemasukan sama sekali. Hal itu dipengaruhi faktor daya beli masyarakat yang anjlok.
Deni tetap bertahan semampunya. Meski kuantitasnya dikurangi, produksi tetap berjalan sambil ia terus melakukan perluasan pasar. "Kalau sekarang mulai berangsur menuju normal. Setidaknya rata rata setiap bulan sudah Rp 3- 5 juta," pungkas Deni.
Deni memperlihatkan lukisan cukil bertema "Jaka Tarub" yang tengah mengendap endap hendak mencuri selendang bidadari Nawangwulan. Lukisan dengan ukuran 75 cm X 175 cm itu terlihat begitu hidup. Bentuknya tiga dimensi. Untuk karya seni yang digarap Supriyo sekitar tiga bulan itu, Deni mematok harga Rp 20 juta. (Baca: Atas Nama Kemanusiaan, Keluarga Minta Pemerintah Bebaskan Abu Bakar Baasyir).
"Dibeli oleh orang Wonosobo. Bagi yang tahu seni dan membutuhkan, harga segitu tidak mahal," papar Deni menambahkan jika pembuatan mebelainya hingga kini juga masih berjalan. Tidak hanya melayani pasar lokal. Yakni eks karsidenan Kediri dan luar daerah. Tidak sedikit pembeli karya seni limbah kayu dan kulit tersebut datang dari luar negeri.
Sebut saja Taiwan, Hongkong dan Malaysia. Hanya dari karya seni limbah kayu dan kulit rata rata omzet keuntungan mencapai Rp 10 juta per bulan. Di awal pandemi COVID-19, yakni selama tiga bulan, kata Deni, usahanya sempat tidak mendapat pemasukan sama sekali. Hal itu dipengaruhi faktor daya beli masyarakat yang anjlok.
Deni tetap bertahan semampunya. Meski kuantitasnya dikurangi, produksi tetap berjalan sambil ia terus melakukan perluasan pasar. "Kalau sekarang mulai berangsur menuju normal. Setidaknya rata rata setiap bulan sudah Rp 3- 5 juta," pungkas Deni.
(nag)
Lihat Juga :