Cerita Berandal Lokajaya di atas Kanvas Limbah Kulit Sapi Seniman Tulungagung
Senin, 30 November 2020 - 05:00 WIB
loading...
A
A
A
Kemudian pohon aren dengan buah kolang kaling yang secara ajaib berubah jadi emas setelah kena tunjuk tongkat Sunan Bonang, juga muncul dalam lukisan. Lokajaya adalah nama samaran Raden Sahid, putra Adipati Tuban yang kelak kemudian bersalin nama menjadi Sunan Kalijaga.
"Nah ini kolang kalingnya," celetuk Supriyo sembari menunjuk gambar sebuah pohon aren dengan buah kecil kecil yang mendompol. Lukisan kulit sapi bertema Brandal Lokajaya karya Supriyo tersebut, sudah ada pemesannya. Dengan waktu pengerjaan dua minggu serta tingkat kerumitan yang cukup lumayan, lukisan berkanvas tersebut dipatok harga Rp 1 juta - Rp 2 juta.
"Harga jual tergantung dari tingkat kerumitan dan waktu pengerjaan," ujar Deni Susanto yang selama ini mengurusi marketing dan penjualan. Selain Brandal Lokajaya, ada juga lukisan bertema punakawan dan fragmen pewayangan. Semua telah dipesan. Menurut Deni, hampir seluruh karya seni garapan Supriyo mengambil tema sejarah dan cerita babad.
"Kita belum berani membuat tema milenial. Khawatirnya tidak laku," tutur Deni. Yang tidak banyak orang tahu, kerajinan seni lukis kulit sapi tersebut sebenarnya perluasan usaha kerajinan bedug. Untuk satu bedug seharga Rp 12 juta, Deni membutuhkan dua ekor sapi. Sebelum muncul ide lukisan, sisa kulit sapi pembuatan bedug berdiameter satu meter tersebut, hanya disimpan.
Karena memang berasal dari sisa pembuatan bedug, tidak salah jika lukisan kulit sapi yang ditekuni ayahnya sejak tahun 2010 itu disebut berasal dari limbah. "Sekarang tidak hanya lukisan. Limbah kulit sapi itu juga kami jadikan kerajinan wayang kecil untuk gantungan kunci," terang Deni. Tidak hanya karya seni dari limbah kulit sapi. (Baca: Remaja Putri Ini Dicabuli Ayah Tiri sekaj SD hingga SMP).
Deni beserta ayahnya juga membuat karya seni dari limbah kayu sisa pembuatan mebelair. Ia cerita, mebelair sebagai usaha pertama keluarga yang dimulai sejak tahun 1985. Karena sulit dibawa ke ajang pameran karena dianggap terlalu umum, munculah ide membuat karya seni alternatif dengan memanfaatkan sisa bahan baku yang ada.
"Nah ini kolang kalingnya," celetuk Supriyo sembari menunjuk gambar sebuah pohon aren dengan buah kecil kecil yang mendompol. Lukisan kulit sapi bertema Brandal Lokajaya karya Supriyo tersebut, sudah ada pemesannya. Dengan waktu pengerjaan dua minggu serta tingkat kerumitan yang cukup lumayan, lukisan berkanvas tersebut dipatok harga Rp 1 juta - Rp 2 juta.
"Harga jual tergantung dari tingkat kerumitan dan waktu pengerjaan," ujar Deni Susanto yang selama ini mengurusi marketing dan penjualan. Selain Brandal Lokajaya, ada juga lukisan bertema punakawan dan fragmen pewayangan. Semua telah dipesan. Menurut Deni, hampir seluruh karya seni garapan Supriyo mengambil tema sejarah dan cerita babad.
"Kita belum berani membuat tema milenial. Khawatirnya tidak laku," tutur Deni. Yang tidak banyak orang tahu, kerajinan seni lukis kulit sapi tersebut sebenarnya perluasan usaha kerajinan bedug. Untuk satu bedug seharga Rp 12 juta, Deni membutuhkan dua ekor sapi. Sebelum muncul ide lukisan, sisa kulit sapi pembuatan bedug berdiameter satu meter tersebut, hanya disimpan.
Karena memang berasal dari sisa pembuatan bedug, tidak salah jika lukisan kulit sapi yang ditekuni ayahnya sejak tahun 2010 itu disebut berasal dari limbah. "Sekarang tidak hanya lukisan. Limbah kulit sapi itu juga kami jadikan kerajinan wayang kecil untuk gantungan kunci," terang Deni. Tidak hanya karya seni dari limbah kulit sapi. (Baca: Remaja Putri Ini Dicabuli Ayah Tiri sekaj SD hingga SMP).
Deni beserta ayahnya juga membuat karya seni dari limbah kayu sisa pembuatan mebelair. Ia cerita, mebelair sebagai usaha pertama keluarga yang dimulai sejak tahun 1985. Karena sulit dibawa ke ajang pameran karena dianggap terlalu umum, munculah ide membuat karya seni alternatif dengan memanfaatkan sisa bahan baku yang ada.
Lihat Juga :