Partai Golkar Buka Suara Terkait Video Viral Hancurkan Risma

loading...
Partai Golkar Buka Suara Terkait Video Viral Hancurkan Risma
Foto tangkapan layar video viral yel-yel hancurkan Risma.
SURABAYA - Beredarnya video viral ' Hancurkan Risma ', membuat Partai Golkar selaku salah satu pengusung Machfud Arifin-Mujiaman buka suara. Ketua Partai Golkar Surabaya Arif Fathoni meminta agar seluruh pihak tidak terpengaruh.

"Kepada masyarakat Surabaya, saya berharap tidak terpengaruh dengan upaya playing victim yang sedang dijalankan tim sebelah dengan mengkonsolidasikan pasukan medsos. Karena ketidakadilan yang sesungguhnya adalah menggunakan uang APBD yang bersumber dari pajak rakyat untuk kepentingan kontestasi".

"Sebagai manusia kita sudah sering ingatkan baik dalam rapat formal di DPRD maupun hal hal lain, dan saya percaya dan tiap tiap kamu adalah seorang pemimpin yang kelak akan dimintai pertanggungjawabannya, bila bisa bersiasat kata pertanggungjawaban di dunia. Di akherat kelak Tuhan yang akan mengadili," ujar Arif Fathoni, Jumat (27/11/2020).(Baca juga: Viral Video “Hancurkan Risma”, Tagar #BelaBuRisma Trending di Medsos )

"Sejak awal Pak Mahfud mendapatkan banyak kampanye negatif yang menjurus ke kampanye hitam. Namun sebagai abdi Bhayangkara, yang memiliki niat tulus untuk membangun kota Surabaya yang telah melahirkan beliau. Pak Mahfud tetap terus bergerak menyapa masyarakat, menyadarkan masyarakat Surabaya agar Surabaya naik level, merata pembangunannya, dan mengakhiri rejim drama," lanjut Toni.



Di sisi lain, Ia pun memiliki analisa sendiri terkait latar belakang munculnya video itu. "Bahwa munculnya video tersebut merupakan ekspresi kekecewaan sebagian masyarakat Surabaya Utara yang selama ini all out memperjuangkan dan mendampingi Risma. Baik dalam momen pemilukada maupun saat Risma mau dimakzulkan oleh DPRD saat itu".

"Namun masyarakat Surabaya utara nyaris tidak pernah mendapatkan manfaat kebijakan pembangunan dari walikota Surabaya. Yang diperindah hanya tengah kota sj, sehingga wajar saat ini masyarakat disana mengalihkan dukungannya ke paslon MAJU, karena menjadi korban PHP pembangunan 10 tahun terakhir," tegas Toni.(Baca juga: Jelang Coblosan Pilkada, Korpri Ingatkan Netralitas ASN Surabaya )

"Video tersebut tidak akan pernah ada, apabila sejak awal walikota memposisikan diri sebagai pemimpin yang mengayomi semua paslon dan bertindak netral. Maka semua masyarakat akan memuja beliau sebagai seorang pemimpin yang bersikap negarawan".



"Namun faktanya Risma bertindak selaku politisi yang justru dalam beberapa kesempatan menyampaikan bahwa surabaya akan rusak jika dipimpin oleh selain Eri. Ini hal biasa dalam politik yang bisa kita sebut sebagai kampanye negatif, dan Pak Mahfud dengan lapang dada dan kesatria membiarkan kejadian tersebut karena bagian dari dinamika politik. Beliau tidak baper apalagi memainkan peran melodramatik seperti yang sedang dijalankan pihak sebelah dengan memanfaatkan politik feminisme," pungkasnya.
(msd)
preload video
TULIS KOMENTAR ANDA!
Top