Imam Besar Perjuangan Salawat Wahidiyah Kedunglo Kediri Mangkat, Seperti Apa Sosoknya?
Senin, 23 November 2020 - 17:08 WIB
loading...
Situasi saat proses pemakaman jenazah almarhum KH Abdul Latif Madjid, pengasuh Perjuangan Salawat Wahidiyah dan Pondok Pesantren Kedunglo, Bandar Lor, Mojoroto, Kota Kediri. Foto/Ist.
A
A
A
KEDIRI - Di tangan pengasuh Perjuangan Salawat Wahidiyah KH Abdul Latif Madjid, wajah Pondok Pesantren Kedunglo, Bandar Lor, Kecamatan Mojoroto, Kota Kediri , Jawa Timur, banyak berbenah. Untuk pertama kalinya di tahun 1998, Pondok Pesantren Kedunglo memiliki Sekolah Ilmu Ekonomi Wahidiyah. Hanya selisih empat tahun kemudian (2002), menyusul berdiri Sekolah Tinggi Ilmu Syariah. (Baca juga: KH Abdul Latif Madjid, Imam Besar Salawat Wahidiyah Kediri Wafat )
Sebagaimana pesantren salafiyah yang hanya mengajarkan kitab kuning, sejak itu Pondok Pesantren Kedunglo praktis mempunyai kampus yang diberi nama Universitas Wahidiyah. Sebelumnya pada tahun 1990, Kiai Abdul Latif Madjid juga memprakarsai berdirinya pembangunan gedung baru SMP dan SMA. Hebatnya, biaya pembangunan yang tembus Rp1 miliar berasal dari sukarela jamaah pengamal salawat Wahidiyah.
Di era kepemimpinan Kiai Abdul Latif, pembangunan infrastruktur pendidikan di lingkungan Pondok Pesantren Kedunglo nyaris tidak berhenti. Pada tahun 1996 berdiri sekolah dasar (SD). Menyusul dua tahun kemudian atau 1998, pembukaan pesantren khusus anak-anak. Pada Senin (23/11/2020) sekitar pukul 06.30 WIB, Imam Besar Salawat Wahidiyah yang sejak tahun 1989 mengasuh Pondok Pesantren Kedunglo tersebut, tutup usia.
"Meninggal dunia pada usia 68 tahun," tutur Ketua Departemen Urusan Wilayah Perjuangan Wahidiyah, Aminudin kepada wartawan, Senin (23/11/2020). Kiai Abdul Latif merupakan putra almarhum KH Abdul Madjid Ma'roef yang wafat pada tahun 1989. Sebelum wafat di usia 71 tahun, Kiai Abdul Madjid memimpin Pondok Pesantren Kedunglo selama 34 tahun. (Baca juga: Awal 2021 Dimulai Pembelajaran Tatap Muka, Pemprov Jatim Masih Lakukan Finalisasi )
Sebagaimana pesantren salafiyah yang hanya mengajarkan kitab kuning, sejak itu Pondok Pesantren Kedunglo praktis mempunyai kampus yang diberi nama Universitas Wahidiyah. Sebelumnya pada tahun 1990, Kiai Abdul Latif Madjid juga memprakarsai berdirinya pembangunan gedung baru SMP dan SMA. Hebatnya, biaya pembangunan yang tembus Rp1 miliar berasal dari sukarela jamaah pengamal salawat Wahidiyah.
Di era kepemimpinan Kiai Abdul Latif, pembangunan infrastruktur pendidikan di lingkungan Pondok Pesantren Kedunglo nyaris tidak berhenti. Pada tahun 1996 berdiri sekolah dasar (SD). Menyusul dua tahun kemudian atau 1998, pembukaan pesantren khusus anak-anak. Pada Senin (23/11/2020) sekitar pukul 06.30 WIB, Imam Besar Salawat Wahidiyah yang sejak tahun 1989 mengasuh Pondok Pesantren Kedunglo tersebut, tutup usia.
"Meninggal dunia pada usia 68 tahun," tutur Ketua Departemen Urusan Wilayah Perjuangan Wahidiyah, Aminudin kepada wartawan, Senin (23/11/2020). Kiai Abdul Latif merupakan putra almarhum KH Abdul Madjid Ma'roef yang wafat pada tahun 1989. Sebelum wafat di usia 71 tahun, Kiai Abdul Madjid memimpin Pondok Pesantren Kedunglo selama 34 tahun. (Baca juga: Awal 2021 Dimulai Pembelajaran Tatap Muka, Pemprov Jatim Masih Lakukan Finalisasi )
Lihat Juga :