Kisah Persahabatan Eks Tentara Pelajar Indonesia dengan Perwira Belanda
Minggu, 22 November 2020 - 10:36 WIB
loading...
A
A
A
"Saat itu saya berpikir akan ditembak Belanda dan mati saat itu juga, tapi akhirnya senjata saya dirampas dan saya ditangkap dibawa ke sebuah tangsi dimasukkan dalam sel. Saat itu saya mengenal seorang tentara Letnan Arnold de Lange, perwira yang memimpin di Tiger Brigade. Selama berjam-jam saya diinterogasi dan saya jawab dengan berbahasa Belanda,” keta Soegiarno, belum lama ini.
Berkat kemampuan berbahasa Belanda ini lah yang membuatnya longgar di tempat penawanan. “Setiap pagi saya membersihkan ruang penawanan dan sesekali diajak ngobrol Arnold. Saya bercerita tentang perang. Banyak orang tak suka perang, tapi tidak bisa menghindar ketika negara membutuhkan kita untuk perang,” katanya. (Baca: Mantap, Dosen Unpad Ini Ciptakan Aplikasi Pengukur Stres dari Ponsel).
Ia mengatakan, Arnold yang umurnya berpaut sekitar 6 tahun darinya pun memintanya untuk meneruskan sekolah daripada berperang yang bisa berisiko membuang nyawa. Arnold juga sependapat bahwa hanya orang yang tidak waras saja yang suka berperang.
Setelah beberapa hari ditawan, Soegi pun dibebaskan, disuruh keluar markas untuk kembali ke masyarakat. Namun Soegi tak begitu saja mengiyakan. Berulang kali Arnold meminta Soegi pulang, namun Soegi tak mau karena takut itu hanya alasan untuk menembaknya dari belakang dan beralibi Soegi melarikan diri untuk ditembak. Akhirnya Arnold pun mengantar Soegi dengan mobil jeep diturunkan di sekitar pasar Ambarawa dan kemudian pulang.
Waktu telah berlalu belasan bahkan puluhan tahun. Soegi yang tinggal di Jalan Siliwangi No 468, tepatnya depan makam Belanda Kalibanteng Semarang tak sengaja bertemu dengan rombongan orang-orang Belanda yang sedang ziarah. Dengan spontan dia menggunakan kemampuannya berbahasa belanda untuk bercakap-cakap. Mereka, menurut Soegi, ada yang bekas tentara Belanda dan umumnya pernah bertugas di Semarang dan Ambarawa.
Dari cerita kisah masa lalu Soegi pada orang-orang Belanda tersebut, sampai lah kepada Arnold de Lange yang tinggal di Belanda. Dalam kurun waktu yang tak lama, Arnold de Lange berkunjung ke Indonesia dan mampir ke Semarang.
Berkat kemampuan berbahasa Belanda ini lah yang membuatnya longgar di tempat penawanan. “Setiap pagi saya membersihkan ruang penawanan dan sesekali diajak ngobrol Arnold. Saya bercerita tentang perang. Banyak orang tak suka perang, tapi tidak bisa menghindar ketika negara membutuhkan kita untuk perang,” katanya. (Baca: Mantap, Dosen Unpad Ini Ciptakan Aplikasi Pengukur Stres dari Ponsel).
Ia mengatakan, Arnold yang umurnya berpaut sekitar 6 tahun darinya pun memintanya untuk meneruskan sekolah daripada berperang yang bisa berisiko membuang nyawa. Arnold juga sependapat bahwa hanya orang yang tidak waras saja yang suka berperang.
Setelah beberapa hari ditawan, Soegi pun dibebaskan, disuruh keluar markas untuk kembali ke masyarakat. Namun Soegi tak begitu saja mengiyakan. Berulang kali Arnold meminta Soegi pulang, namun Soegi tak mau karena takut itu hanya alasan untuk menembaknya dari belakang dan beralibi Soegi melarikan diri untuk ditembak. Akhirnya Arnold pun mengantar Soegi dengan mobil jeep diturunkan di sekitar pasar Ambarawa dan kemudian pulang.
Waktu telah berlalu belasan bahkan puluhan tahun. Soegi yang tinggal di Jalan Siliwangi No 468, tepatnya depan makam Belanda Kalibanteng Semarang tak sengaja bertemu dengan rombongan orang-orang Belanda yang sedang ziarah. Dengan spontan dia menggunakan kemampuannya berbahasa belanda untuk bercakap-cakap. Mereka, menurut Soegi, ada yang bekas tentara Belanda dan umumnya pernah bertugas di Semarang dan Ambarawa.
Dari cerita kisah masa lalu Soegi pada orang-orang Belanda tersebut, sampai lah kepada Arnold de Lange yang tinggal di Belanda. Dalam kurun waktu yang tak lama, Arnold de Lange berkunjung ke Indonesia dan mampir ke Semarang.
Lihat Juga :