Kisah Mbah Harjo Suwito, Pengungsi Gunung Merapi Tertua yang Pernah Ikut Romusha
Rabu, 11 November 2020 - 20:19 WIB
loading...
A
A
A
Setelah racikan dinilai pas, selanjutnya kedua tanganyna mulai mengulung kertas tembakau untuk dijadikan gulungan rokok. “Ya beginilah kegiatan kami di pengungsian ini, duduk di depan barak, jika sudah lelah ke bilik beristirahat,” kata Harjo Suwito yang nama kecilnya Pardin.
Mbah Harjo mengaku selama mengungsi di barak tidak ada masalah, termasuk tidak ada gangguan kesehatan. Apalagi sudah setahun ini tidak kuat lagi berjalan jauh, sehingga sehari-harinya hanya di rumah saja. Sebelumnya saat masih sehat, kegiatan seharinya mencari rumput untuk makanan ternak sapinya. Saat ini Harjo memiliki dua ternak sapi. “Saat ini saya kalau berjalan harus pakai tongkat. Yang mencari rumput anak saya,” terangnya.
Mengungsi di barak, bukan yang pertama bagi Mbah Harjo. Sebab sebelumnya saat erupsi Merapi juga mengungsi di barak. Namun ia lupa sudah berapa kali mengungsi di barak. Ia sendiri mengungsi bersama istrinya Parmikem, yang usianya juga sudah satu abad.
Dia bersama istrinya menempati bilik 22. Pasangan tersebut memiliki 4 anak laki-laki. Dari jumlah itu 3 anak laki-lakinya berada di luar daerah, dan tinggal seorang anak yang masih bersama dirinya.
Mbah Harjo meski sudah berusia lebih dari satu abad, namun ingatan, pendengaran dan penglihatannya belum ada gangguan. Terbukti, ia masih dapat mengingat dengan jelas bagaimana kehidupannya saat masih muda, yaitu ketika Jepang berkuasa. Saat pendudukan Jepang, ia bersama para pemuda lain di Kalitengah Lor harus mengikuti kerja paksa (romusha).
Mbah Harjo mengaku selama mengungsi di barak tidak ada masalah, termasuk tidak ada gangguan kesehatan. Apalagi sudah setahun ini tidak kuat lagi berjalan jauh, sehingga sehari-harinya hanya di rumah saja. Sebelumnya saat masih sehat, kegiatan seharinya mencari rumput untuk makanan ternak sapinya. Saat ini Harjo memiliki dua ternak sapi. “Saat ini saya kalau berjalan harus pakai tongkat. Yang mencari rumput anak saya,” terangnya.
Mengungsi di barak, bukan yang pertama bagi Mbah Harjo. Sebab sebelumnya saat erupsi Merapi juga mengungsi di barak. Namun ia lupa sudah berapa kali mengungsi di barak. Ia sendiri mengungsi bersama istrinya Parmikem, yang usianya juga sudah satu abad.
Dia bersama istrinya menempati bilik 22. Pasangan tersebut memiliki 4 anak laki-laki. Dari jumlah itu 3 anak laki-lakinya berada di luar daerah, dan tinggal seorang anak yang masih bersama dirinya.
Mbah Harjo meski sudah berusia lebih dari satu abad, namun ingatan, pendengaran dan penglihatannya belum ada gangguan. Terbukti, ia masih dapat mengingat dengan jelas bagaimana kehidupannya saat masih muda, yaitu ketika Jepang berkuasa. Saat pendudukan Jepang, ia bersama para pemuda lain di Kalitengah Lor harus mengikuti kerja paksa (romusha).
Lihat Juga :