Cerita Pemburu Patahan Surga Negeri di Atas Awan
Sabtu, 07 November 2020 - 14:21 WIB
loading...
A
A
A
Penerapan protokol kesehatan dilakukan secara ketat di tempat wisata ini. Sejak awal masuk pintu gerbang, semua pengunjung wajib mengenakan masker dan mencuci tangan pakai sabun atau hand sanitizer di posko.(Baca juga: Punya Destinasi Populer Gilimanuk Bangkitkan Wisata Bali Barat )
Beberapa pengelola wisata aktif berkeliling mengingatkan wisatawan untuk selalu menjaga jarak, agar tak terjadi kerumunan. Tempat yang luas di alam terbuka, membuat wisatawan memiliki banyak pilihan tempat berfoto maupun menyaksikan pemandangan.
Wisatawan juga tak diperkenankan saling berkunjung apalagi masuk ke tenda lain. Edukasi yang diberikan adalah menjaga lokasi wisata agar tak menjadi klaster penyebaran Covid-19. Untuk itu, kontak fisik dengan wisatawan dari rombongan lain sangat dihindari. “Kita merasa nyaman dan aman wisata di sini. Kan lokasinya luas alam terbuka jadi untuk jaga jarak antarpengunjung itu mudah dilakukan. Beda kalau lokasi sempit dan indoor, potensi berdesakan akan terjadi,” tutur Sri Wahyuni, wisatawan asal Blora.
“Di sini juga ada posko keamanan sekaligus kesehatan. Tadi saya sudah tanya-tanya ada obat-obatan ringan yang disediakan pengelola. Misalnya kita mendadak ada gejala sakit kan bisa langsung ditangani mereka. Jadi lebih aman lah di sini,” ungkapnya.
Tempat wisata yang dibangun dan dikelola pemuda desa ini menjadi favorit pengunjung, karena tiket masuk cukup terjangkau. Untuk kamping dikenakan Rp20 ribu per orang, sementara wisata hanya perlu merogoh kocek Rp10 ribu per orang.
Sempat tutup dua bulan pada awal masa pandemi Covid-19 , lokasi wisata yang juga disebut Bumi Kahyangan di Atas Awan ini kembali buka dengan menerapkan aturan baru. Meski bisa menampung 500 tenda di alam terbuka, namun kini dibatasi tak lebih dari 250 tenda. “Dengan cara tersebut berwisata bersama keluarga akan menjadi lebih aman dan nyaman. Program Jogo Wisata ini juga sekaligus sebagai upaya mencegah penyebaran virus corona di lokasi wisata,” ujar Yulian, pengelola wisata I’Ampelgading Homeland.
Pada masa pandemi ini, pengelola wisata tetap berkomitmen memberikan pelayanan terbaik pada pengunjung. Kamping hanya dilakukan setiap Sabtu malam atau hari libur. Sejumlah petugas bersiaga untuk melakukan patroli kesehatan.“Setelah tutup awal pandemi kemarin, kini kita bangkit lagi. Wisata ini kan dikelola anak-anak muda, dan ketika buka kembali artinya sumber pendapatan kembali ada. Namun begitu, protokol kesehatan sesuai anjuran pemerintah tetap kita lakukan. Mari kita jaga wisata dan para wisatawan,” ucapnya.
Beberapa pengelola wisata aktif berkeliling mengingatkan wisatawan untuk selalu menjaga jarak, agar tak terjadi kerumunan. Tempat yang luas di alam terbuka, membuat wisatawan memiliki banyak pilihan tempat berfoto maupun menyaksikan pemandangan.
Wisatawan juga tak diperkenankan saling berkunjung apalagi masuk ke tenda lain. Edukasi yang diberikan adalah menjaga lokasi wisata agar tak menjadi klaster penyebaran Covid-19. Untuk itu, kontak fisik dengan wisatawan dari rombongan lain sangat dihindari. “Kita merasa nyaman dan aman wisata di sini. Kan lokasinya luas alam terbuka jadi untuk jaga jarak antarpengunjung itu mudah dilakukan. Beda kalau lokasi sempit dan indoor, potensi berdesakan akan terjadi,” tutur Sri Wahyuni, wisatawan asal Blora.
“Di sini juga ada posko keamanan sekaligus kesehatan. Tadi saya sudah tanya-tanya ada obat-obatan ringan yang disediakan pengelola. Misalnya kita mendadak ada gejala sakit kan bisa langsung ditangani mereka. Jadi lebih aman lah di sini,” ungkapnya.
Tempat wisata yang dibangun dan dikelola pemuda desa ini menjadi favorit pengunjung, karena tiket masuk cukup terjangkau. Untuk kamping dikenakan Rp20 ribu per orang, sementara wisata hanya perlu merogoh kocek Rp10 ribu per orang.
Sempat tutup dua bulan pada awal masa pandemi Covid-19 , lokasi wisata yang juga disebut Bumi Kahyangan di Atas Awan ini kembali buka dengan menerapkan aturan baru. Meski bisa menampung 500 tenda di alam terbuka, namun kini dibatasi tak lebih dari 250 tenda. “Dengan cara tersebut berwisata bersama keluarga akan menjadi lebih aman dan nyaman. Program Jogo Wisata ini juga sekaligus sebagai upaya mencegah penyebaran virus corona di lokasi wisata,” ujar Yulian, pengelola wisata I’Ampelgading Homeland.
Pada masa pandemi ini, pengelola wisata tetap berkomitmen memberikan pelayanan terbaik pada pengunjung. Kamping hanya dilakukan setiap Sabtu malam atau hari libur. Sejumlah petugas bersiaga untuk melakukan patroli kesehatan.“Setelah tutup awal pandemi kemarin, kini kita bangkit lagi. Wisata ini kan dikelola anak-anak muda, dan ketika buka kembali artinya sumber pendapatan kembali ada. Namun begitu, protokol kesehatan sesuai anjuran pemerintah tetap kita lakukan. Mari kita jaga wisata dan para wisatawan,” ucapnya.
Lihat Juga :