Komunitas di Palopo Siapkan Makanan Gratis untuk Warga Terdampak Pandemi
Selasa, 03 November 2020 - 18:19 WIB
loading...
A
A
A
NA Mappinawang, menceritakan awalnya dia mendapat ajakan dari rekannya sesama tukang ojek . "Di sini saya lihat tidak ada batasan individu, orang dewasa maupun anak kecil semua bisa dilayani bahkan bukan hanya kami tukang ojek dan tukang becak," katanya.
"Ada satu hal yang menarik yakni kebersamaan, satu rasa dan silaturahmi. Kami mendoakan semoga eksistensi keberadaan kegiatan sosial ini dan semoga makin ditambahkan dan berkah rejekinya, amin," doa Mappinawang.
Mappinawang menambahkan, kesulitan ekonomi dampak COVID-19 sangat Mappinawang dan rekannya rasakan. Sehingga dengan hadirnya makan siang gratis di Kota Palopo, diakuinya meringankan beban mereka.
Baca juga: Hati-hati Gelombang Kedua Covid-19
"Sebelum COVID pada bulan Januari dan Februari pendapat kami rata-rata mencapai Rp150 ribu per harinya, setelah COVID pendapatan kami menurun drastis paling tinggi sekali Rp35 ribu, itu masih kotor belum terhitung bensin," sebutnya.
"Paling terasa dampak COVID ini pada bulan Juni sampai September saat diberlakukan larangan keluar. Kami juga tukang ojek saat itu tidak bisa dipaksa tinggal di rumah karena ini menyangkut kehidupan keluarga kami, kebutuhan sehari hari untuk hidup meski kami sadar akan bahaya COVID itu sendiri," lanjutnya.
Mappinawang mengaku, sebagai warga yang masuk dalam kategori kurang mampu, dirinya mendapat bantuan KKS dari pemerintah Kota Palopo berupa beras 10 kilogram dan telur satu rak setiap bulannya.
"Ada satu hal yang menarik yakni kebersamaan, satu rasa dan silaturahmi. Kami mendoakan semoga eksistensi keberadaan kegiatan sosial ini dan semoga makin ditambahkan dan berkah rejekinya, amin," doa Mappinawang.
Mappinawang menambahkan, kesulitan ekonomi dampak COVID-19 sangat Mappinawang dan rekannya rasakan. Sehingga dengan hadirnya makan siang gratis di Kota Palopo, diakuinya meringankan beban mereka.
Baca juga: Hati-hati Gelombang Kedua Covid-19
"Sebelum COVID pada bulan Januari dan Februari pendapat kami rata-rata mencapai Rp150 ribu per harinya, setelah COVID pendapatan kami menurun drastis paling tinggi sekali Rp35 ribu, itu masih kotor belum terhitung bensin," sebutnya.
"Paling terasa dampak COVID ini pada bulan Juni sampai September saat diberlakukan larangan keluar. Kami juga tukang ojek saat itu tidak bisa dipaksa tinggal di rumah karena ini menyangkut kehidupan keluarga kami, kebutuhan sehari hari untuk hidup meski kami sadar akan bahaya COVID itu sendiri," lanjutnya.
Mappinawang mengaku, sebagai warga yang masuk dalam kategori kurang mampu, dirinya mendapat bantuan KKS dari pemerintah Kota Palopo berupa beras 10 kilogram dan telur satu rak setiap bulannya.
(luq)
Lihat Juga :