Gombloh, Ada Warisan Kemanusiaan dan Nasionalisme dalam Lirik Lagumu
Rabu, 28 Oktober 2020 - 13:08 WIB
loading...
A
A
A
“Gombloh dekat dengan wong cilik, rakyat jelatah, bahkan sering blusukan ke lokalisasi untuk membantu para PSK. Dia pernah membeli celana dalam sangat banyak untuk dibagikan gratis kepada para PSK,” jelasnya.
Lokalisasi Dolly, katanya, bahkan bisa dibilang lekat dengan Gombloh. Gombloh dulu sering datang ke Lokalisasi Dolly untuk memberikan bermacam bantuan kepada para PSK. “Intinya, Gombloh adalah pejuang kemanusiaan. Dia ingin membantu para PSK agar bisa melepaskan diri dari jerat prostitusi,” katanya.
Dimas juga menceritakan tentang jiwa solidaritas Gombloh kepada rekan-rekan sejawat dan orang-orang di sekelilingnya. “Gombloh sering menggunakan uang hasil dari honor pentas untuk membelikan makanan bagi orang-orang yang tidak mampu,” jelasnya.
Kini, perjalanan waktu tak melupakan kehadirannya. Lagu-lagu Gombloh tetap abadi. Diperdengarkan di warung kopi, perlintasan kereta sampai di perempatan jalan. Pekik suaranya selalu mengajarkan kerendahan hati dan merawat nasionalisme.
BACA JUGA: Seniman banjiri konser 'Tribute to Gombloh' di Surabaya
Termasuk bagi para pemuda yang hari ini melanjutkan perjuangan bangsa ini. Tak ada kata menyerah dalam lirik Gombloh, baginya perjuangan akan terus hidup dan bersemi di peraduan.
Seperti lirik lagunya yang menghiasi perjalanan bangsa ini, Biarpun bumi berguncang; Kau tetap Indonesiaku; Andaikan matahari terbit dari barat; Kau pun Indonesiaku ;Tak sebilah pedang yang tajam; Dapat palingkan daku darimu; Kusingsingkan lengan; Rawe-rawe rantas; Malang-malang tuntas….
Lokalisasi Dolly, katanya, bahkan bisa dibilang lekat dengan Gombloh. Gombloh dulu sering datang ke Lokalisasi Dolly untuk memberikan bermacam bantuan kepada para PSK. “Intinya, Gombloh adalah pejuang kemanusiaan. Dia ingin membantu para PSK agar bisa melepaskan diri dari jerat prostitusi,” katanya.
Dimas juga menceritakan tentang jiwa solidaritas Gombloh kepada rekan-rekan sejawat dan orang-orang di sekelilingnya. “Gombloh sering menggunakan uang hasil dari honor pentas untuk membelikan makanan bagi orang-orang yang tidak mampu,” jelasnya.
Kini, perjalanan waktu tak melupakan kehadirannya. Lagu-lagu Gombloh tetap abadi. Diperdengarkan di warung kopi, perlintasan kereta sampai di perempatan jalan. Pekik suaranya selalu mengajarkan kerendahan hati dan merawat nasionalisme.
BACA JUGA: Seniman banjiri konser 'Tribute to Gombloh' di Surabaya
Termasuk bagi para pemuda yang hari ini melanjutkan perjuangan bangsa ini. Tak ada kata menyerah dalam lirik Gombloh, baginya perjuangan akan terus hidup dan bersemi di peraduan.
Seperti lirik lagunya yang menghiasi perjalanan bangsa ini, Biarpun bumi berguncang; Kau tetap Indonesiaku; Andaikan matahari terbit dari barat; Kau pun Indonesiaku ;Tak sebilah pedang yang tajam; Dapat palingkan daku darimu; Kusingsingkan lengan; Rawe-rawe rantas; Malang-malang tuntas….
(vit)
Lihat Juga :