Riset Urban Policy: Kebijakan Penanganan Corona di Kota Depok Lemah
Selasa, 05 Mei 2020 - 20:48 WIB
loading...
Foto/dok.SINDOnews
A
A
A
JAKARTA -
Urban Policy mengungkapkan kebijakan penanganan virus Corona (COVID-19) di Kota Depok, Jawa Barat cenderung lemah. Hal itu didapat melalui riset dan simulasi eksponensial untuk mengetahui efektivitas PSBB I dan II di daerah tersebut.
“Penelitian ini membandingkan angka riil pergerakan kasus positif Kota Depok dengan tiga skema skenario kebijakan, yaitu kebijakan penanganan lemah, moderat dan ketat,” kata Direktur Eksekutif Urban Policy, Nurfahmi Islami Kaffah, dalam keterangan tertulis kepada SINDOnews, Selasa (5/5/2020).
Kelemahan PSBB Kota Depok terlihat dari perbandingan tren penambahan kasus positif selama enam hari pertama PSBB I dan II di Kota Depok. Rerata penularan PSBB I berjumlah 9,67 orang terinfeksi setiap harinya. Sementara di fase awal PSBB II tercatat rata-rata penularan 9,16 orang terinfeksi setiap harinya.
Selain itu, rekor puncak pasien positif masih terjadi di masing-masing fase PSBB. Puncak pasien positif tertinggi pada PSBB I terjadi di hari ke-8 yang berjumlah 24 orang dalam sehari. Sementara, pada PSBB II terjadi di hari ke-2 yaitu sebanyak 23 pasien positif dalam sehari.
“Hal ini mengindikasikan instrumen kebijakan PSBB I dan II di Kota Depok belum optimal menekan laju pertambahan kasus positif secara signifikan,” ujar dia.
(Baca: Kabupaten Tasikmalaya Nihil, Depok Paling Tinggi Jumlah Positif Corona)
Urban Policy mengungkapkan kebijakan penanganan virus Corona (COVID-19) di Kota Depok, Jawa Barat cenderung lemah. Hal itu didapat melalui riset dan simulasi eksponensial untuk mengetahui efektivitas PSBB I dan II di daerah tersebut.
“Penelitian ini membandingkan angka riil pergerakan kasus positif Kota Depok dengan tiga skema skenario kebijakan, yaitu kebijakan penanganan lemah, moderat dan ketat,” kata Direktur Eksekutif Urban Policy, Nurfahmi Islami Kaffah, dalam keterangan tertulis kepada SINDOnews, Selasa (5/5/2020).
Kelemahan PSBB Kota Depok terlihat dari perbandingan tren penambahan kasus positif selama enam hari pertama PSBB I dan II di Kota Depok. Rerata penularan PSBB I berjumlah 9,67 orang terinfeksi setiap harinya. Sementara di fase awal PSBB II tercatat rata-rata penularan 9,16 orang terinfeksi setiap harinya.
Selain itu, rekor puncak pasien positif masih terjadi di masing-masing fase PSBB. Puncak pasien positif tertinggi pada PSBB I terjadi di hari ke-8 yang berjumlah 24 orang dalam sehari. Sementara, pada PSBB II terjadi di hari ke-2 yaitu sebanyak 23 pasien positif dalam sehari.
“Hal ini mengindikasikan instrumen kebijakan PSBB I dan II di Kota Depok belum optimal menekan laju pertambahan kasus positif secara signifikan,” ujar dia.
(Baca: Kabupaten Tasikmalaya Nihil, Depok Paling Tinggi Jumlah Positif Corona)
Lihat Juga :