Bestprofit Surabaya Yakin Emas Masih Berkilau Hingga Akhir 2020
Jum'at, 25 September 2020 - 18:11 WIB
loading...
PT Bestprofit Futures (BPF) saat menggelar media gathering di Surabaya.Foto/SINDONews/Lukman Hakim
A
A
A
SURABAYA - Komoditas emas selama pandemi COVID -19 akan tetap menjadi instrumen investasi yang menjanjikan. Harga emas mulai melompat tinggi di perdagangan awal 2020 menuju level USD1.576/troy ons setelah Amerika Serikat (AS) dan China menyepakati perjanjian dagang fase satu setelah bersitegang dalam 18 bulan terakhir.
Ditambah dengan ketegangan politik Amerika Serikat dengan Iran. Tak lama kemudian, emas semakin berotot ketika wabah COVID-19 menyebar hampir ke seluruh negara hingga membuat harganya menembus level tertinggi USD2.074/troy ons pada tanggal 2 Agustus 2020.
Saat ini, pergerakan emas dalam kondisi volatilitas tinggi. Artinya naik dan turun secara signifikan. Ancaman resesi ekonomi, dan kepastian finalisasi vaksin menjadi sentimen yang mempengaruhi terkoreksinya harga emas hingga di level kisaran USD1.900-an/troy ons saat ini.
Pimpinan Cabang PT Bestprofit Futures (BPF) cabang Surabaya, Kiki mengatakan, sepanjang delapan bulan terakhir, total volume transaksi di BPF didominasi oleh kontrak berjangka emas. Jumlahnya mencapai 80% dari keseluruhan volume transaksi yang sampai 31 Agustus 2020 sebesar 29.810 lot. Angka itu naik 35% dibandingkan tahun lalu pada posisi yang sama.
“Sementara itu, peningkatan nasabah baru di BPF Surabaya selama delapan bulan terakhir mencapai 149 nasabah, meningkat 119,12%,” katanya saat media gathering di Surabaya, Jumat (25/9/2020).
(Baca juga: Gandeng Disperindag, Bank Jatim Maksimalkan Misi Dagang )
Selama pandemi, imbuhnya, investasi kontrak berjangka emas diminati, karena tren harga yang positif juga instrumen emas cukup awam di kalangan masyarakat. Kontrak berjangka emas, kata dia, berbeda dengan investasi emas berwujud logam mulia. Pada kontrak berjangka emas, nasabah menempatkan dananya sebagai margin untuk melakukan trading di pasar berjangka.
Ditambah dengan ketegangan politik Amerika Serikat dengan Iran. Tak lama kemudian, emas semakin berotot ketika wabah COVID-19 menyebar hampir ke seluruh negara hingga membuat harganya menembus level tertinggi USD2.074/troy ons pada tanggal 2 Agustus 2020.
Saat ini, pergerakan emas dalam kondisi volatilitas tinggi. Artinya naik dan turun secara signifikan. Ancaman resesi ekonomi, dan kepastian finalisasi vaksin menjadi sentimen yang mempengaruhi terkoreksinya harga emas hingga di level kisaran USD1.900-an/troy ons saat ini.
Pimpinan Cabang PT Bestprofit Futures (BPF) cabang Surabaya, Kiki mengatakan, sepanjang delapan bulan terakhir, total volume transaksi di BPF didominasi oleh kontrak berjangka emas. Jumlahnya mencapai 80% dari keseluruhan volume transaksi yang sampai 31 Agustus 2020 sebesar 29.810 lot. Angka itu naik 35% dibandingkan tahun lalu pada posisi yang sama.
“Sementara itu, peningkatan nasabah baru di BPF Surabaya selama delapan bulan terakhir mencapai 149 nasabah, meningkat 119,12%,” katanya saat media gathering di Surabaya, Jumat (25/9/2020).
(Baca juga: Gandeng Disperindag, Bank Jatim Maksimalkan Misi Dagang )
Selama pandemi, imbuhnya, investasi kontrak berjangka emas diminati, karena tren harga yang positif juga instrumen emas cukup awam di kalangan masyarakat. Kontrak berjangka emas, kata dia, berbeda dengan investasi emas berwujud logam mulia. Pada kontrak berjangka emas, nasabah menempatkan dananya sebagai margin untuk melakukan trading di pasar berjangka.
Lihat Juga :