Health Talk Bogor Bahas Keterkaitan GERD dan Kecemasan, Hadirkan Protokol 5R
Sabtu, 25 April 2026 - 13:28 WIB
loading...
Ilustrasi/Foto: iStock.
A
A
A
BOGOR - Momen makan sering kali berubah menjadi horor yang memicu kecemasan hebat bagi para pejuang GERD (Gastroesophageal Reflux Disease) dan maag kronis. Fenomena ‘lingkaran setan’ antara gangguan pencernaan dan kesehatan mental dibedah secara tuntas dalam gelaran Health Talk bertajuk Memutus Lingkaran Setan GERD dan Anxiety di The Mirah Hotel Bogor, Sabtu (18/4/2026).
Caregiver penyintas GERD Dera Nur Tresna, M.Kes., berbagi kisah haru yang menjadi titik balik inovasi nutrisi. Brand owner produk Nutriged ini mengenang tahun 2019 sebagai masa terberat saat suaminya dihantam serangan panik akibat lambung.
"Malam itu, jam 2 pagi, rasanya seperti perpisahan terakhir," kenang Dera emosional.
Baca juga: 5 Tips Buka Puasa untuk Penderita GERD Agar Tetap Nyaman
Dera sempat terjebak dalam pola pikir konvensional dengan menyajikan makanan ‘anyep’ atau hambar demi kesehatan lambung sang suami. Namun secara saintifik, makanan sehat yang tidak enak justru menjadi bumerang—memicu stres tambahan, menurunkan nafsu makan, dan memperparah kondisi psikis pasien.
Kondisi inilah disebutnya yang melatarbelakangi lahirnya Nutriged, sebuah sereal multigrain yang dirancang sebagai comfort food. "Kami ingin menciptakan solusi di mana pengidap asam lambung tetap bisa makan enak dan nyaman tanpa rasa khawatir," kata Dera.
Secara medis, dokter gizi Ratri Saumi menjelaskan bahwa masalah utama GERD adalah melonggarnya katup esofagus, bukan karena asam lambung yang harus dimusuhi. “Asam lambung itu penting untuk mencerna protein. Masalahnya adalah ketika ia 'muncrat' ke tempat yang salah," katanya.
Ketika lambung teriritasi, ia mengirim sinyal bahaya ke otak melalui mekanisme Gut-Brain Axis. Psikolog Klinis Mutia Qoriana, M.Psi., menjelaskan bahwa sinyal ini memicu hormon kortisol (stres), yang kemudian memerintahkan lambung memproduksi lebih banyak asam.
Hasilnya? Muncul ketakutan akan kematian (Thanatophobia) yang dipicu oleh sensasi sesak di dada. Untuk memutus rantai ini, dr. Ratri memperkenalkan Protokol 5R (Remove, Replace, Reinoculate, Repair, Rebalance) sebagai strategi restorasi lambung yang komprehensif, bukan sekadar menekan asam dengan obat-obatan kimia secara terus-menerus.
Hadir menjawab standar medis yang dipaparkan dr Ratri, dan juga tantangan makanan sehat yang biasanya ‘tidak enak’, Nutraceutical Researcher Ramdani Husnul Huluq meracik Nutriged dengan pendekatan yang unik. Ia melibatkan anaknya yang berusia 3 tahun sebagai panelis rasa perdana.
"Jika anak kecil suka, maka orang dewasa yang sedang sakit pun akan merasa bahagia saat memakannya," ujar Ramdani.
Nutriged merupakan perpaduan kearifan lokal dan sains modern yang berfungsi melindungi dan membangun kembali lapisan mukosa lambung. Inovasi ini menjadi jembatan bagi pasien yang ingin kembali mendapatkan gizi optimal tanpa harus merasa tersiksa oleh rasa makanan yang hambar.
Melalui sinergi antara nutrisi yang tepat, manajemen stres dengan teknik pernapasan, dan empati dari pendamping, "lingkaran setan" GERD dan Anxiety bukan lagi sebuah kepastian. Kini, para pejuang lambung memiliki kesempatan untuk kembali menikmati hidup—satu suapan nyaman di satu waktu.
Caregiver penyintas GERD Dera Nur Tresna, M.Kes., berbagi kisah haru yang menjadi titik balik inovasi nutrisi. Brand owner produk Nutriged ini mengenang tahun 2019 sebagai masa terberat saat suaminya dihantam serangan panik akibat lambung.
"Malam itu, jam 2 pagi, rasanya seperti perpisahan terakhir," kenang Dera emosional.

Baca juga: 5 Tips Buka Puasa untuk Penderita GERD Agar Tetap Nyaman
Dera sempat terjebak dalam pola pikir konvensional dengan menyajikan makanan ‘anyep’ atau hambar demi kesehatan lambung sang suami. Namun secara saintifik, makanan sehat yang tidak enak justru menjadi bumerang—memicu stres tambahan, menurunkan nafsu makan, dan memperparah kondisi psikis pasien.
Kondisi inilah disebutnya yang melatarbelakangi lahirnya Nutriged, sebuah sereal multigrain yang dirancang sebagai comfort food. "Kami ingin menciptakan solusi di mana pengidap asam lambung tetap bisa makan enak dan nyaman tanpa rasa khawatir," kata Dera.
Secara medis, dokter gizi Ratri Saumi menjelaskan bahwa masalah utama GERD adalah melonggarnya katup esofagus, bukan karena asam lambung yang harus dimusuhi. “Asam lambung itu penting untuk mencerna protein. Masalahnya adalah ketika ia 'muncrat' ke tempat yang salah," katanya.
Ketika lambung teriritasi, ia mengirim sinyal bahaya ke otak melalui mekanisme Gut-Brain Axis. Psikolog Klinis Mutia Qoriana, M.Psi., menjelaskan bahwa sinyal ini memicu hormon kortisol (stres), yang kemudian memerintahkan lambung memproduksi lebih banyak asam.
Hasilnya? Muncul ketakutan akan kematian (Thanatophobia) yang dipicu oleh sensasi sesak di dada. Untuk memutus rantai ini, dr. Ratri memperkenalkan Protokol 5R (Remove, Replace, Reinoculate, Repair, Rebalance) sebagai strategi restorasi lambung yang komprehensif, bukan sekadar menekan asam dengan obat-obatan kimia secara terus-menerus.
Hadir menjawab standar medis yang dipaparkan dr Ratri, dan juga tantangan makanan sehat yang biasanya ‘tidak enak’, Nutraceutical Researcher Ramdani Husnul Huluq meracik Nutriged dengan pendekatan yang unik. Ia melibatkan anaknya yang berusia 3 tahun sebagai panelis rasa perdana.
"Jika anak kecil suka, maka orang dewasa yang sedang sakit pun akan merasa bahagia saat memakannya," ujar Ramdani.
Nutriged merupakan perpaduan kearifan lokal dan sains modern yang berfungsi melindungi dan membangun kembali lapisan mukosa lambung. Inovasi ini menjadi jembatan bagi pasien yang ingin kembali mendapatkan gizi optimal tanpa harus merasa tersiksa oleh rasa makanan yang hambar.
Melalui sinergi antara nutrisi yang tepat, manajemen stres dengan teknik pernapasan, dan empati dari pendamping, "lingkaran setan" GERD dan Anxiety bukan lagi sebuah kepastian. Kini, para pejuang lambung memiliki kesempatan untuk kembali menikmati hidup—satu suapan nyaman di satu waktu.
(rca)
Lihat Juga :