Terpuruk Akibat Pandemi, Industri UMKM Tekstil di Bandung Butuh Stimulus
Jum'at, 18 September 2020 - 15:35 WIB
loading...
A
A
A
Cucun mengatakan, industri-industri kecil dan juga industri garmen raksasa di wilayah Bandung banyak yang terpaksa merumahkan para pekerjanya tanpa ada kejelasan ke depan seperti apa. "Intinya kan market-nya mati, kemudian nggak ada skema dari Kementerian UMKM yang bisa melihat langsung industri kerakyatan Majalaya ini mau diapakan. Sekarang ini sudah hampir satu tahun, padahal stimulus dari pemerintah sudah ada, tapi mereka belum merasakan," katanya.
Dikatakan Cucun, selama ini pasar industri garmen dari Kabupaten Bandung tidak hanya untuk pasar dalam negeri, tapi juga untuk memenuhi kebutuhan pasar luar negeri. "Negara-negara yang memakai produk Majalaya seperti sarung ini juga banyak dikirim ke Sri Lanka. Kita ke China juga bukan hanya impor, tapi kita juga ekspor ke sana," tuturnya.(Baca: UMKM Jadi Fokus Pemerintah di Tengah Pandemi Covid-19)
Sejak awal kasus Covid-19 di Wuhan, para pelaku industri garmen mulai kesulitan awal yakni mendapatkan bahan baku. Selanjutnya dengan memanfaatkan stok bahan baku yang ada, hasil produksi ternyata tidak bisa dijual. "Yang dekat saja, pasar domestik di Jakarta, Pasar Tanah Abang maupun Pasar Pagi, di-closed sejak Maret. Belum lagi pasar-pasar daerah seperti Makassar, Medan, Surabaya mati, ya otomatis kesininya gak bisa jalan," paparnya.
Karena itu, anggota Komisi III DPR ini berharap agar stimulus UMKM yang disiapkan pemerintah pusat bisa segera turun ke bawah. "Untuk permodalan saja kesulitan kita untuk back up modal kerja, kemudian back up stocking gudang. Mereka juga nggak punya dana cadangan. Apalagi sekarang perbankan kan melihat untuk mendapatkan permodalan, perbankan akan melihat track record. Kalau agak jelek, meski ini diakibatkan pandemi, mereka nggak peduli," katanya.
Menurutnya, stimulus UMKM sangat penting. Sebab, untuk membangun usaha mulai dari nol, sangat susah. "Maka, UMKM ini harus diselematkan. Jangan lupa Indonesia itu kuatnya kan di UMKM. Lihat negara lain, Jepang kuatnya di UMKM maka terus diperhatikan," pungkas Cucun.
Dikatakan Cucun, selama ini pasar industri garmen dari Kabupaten Bandung tidak hanya untuk pasar dalam negeri, tapi juga untuk memenuhi kebutuhan pasar luar negeri. "Negara-negara yang memakai produk Majalaya seperti sarung ini juga banyak dikirim ke Sri Lanka. Kita ke China juga bukan hanya impor, tapi kita juga ekspor ke sana," tuturnya.(Baca: UMKM Jadi Fokus Pemerintah di Tengah Pandemi Covid-19)
Sejak awal kasus Covid-19 di Wuhan, para pelaku industri garmen mulai kesulitan awal yakni mendapatkan bahan baku. Selanjutnya dengan memanfaatkan stok bahan baku yang ada, hasil produksi ternyata tidak bisa dijual. "Yang dekat saja, pasar domestik di Jakarta, Pasar Tanah Abang maupun Pasar Pagi, di-closed sejak Maret. Belum lagi pasar-pasar daerah seperti Makassar, Medan, Surabaya mati, ya otomatis kesininya gak bisa jalan," paparnya.
Karena itu, anggota Komisi III DPR ini berharap agar stimulus UMKM yang disiapkan pemerintah pusat bisa segera turun ke bawah. "Untuk permodalan saja kesulitan kita untuk back up modal kerja, kemudian back up stocking gudang. Mereka juga nggak punya dana cadangan. Apalagi sekarang perbankan kan melihat untuk mendapatkan permodalan, perbankan akan melihat track record. Kalau agak jelek, meski ini diakibatkan pandemi, mereka nggak peduli," katanya.
Menurutnya, stimulus UMKM sangat penting. Sebab, untuk membangun usaha mulai dari nol, sangat susah. "Maka, UMKM ini harus diselematkan. Jangan lupa Indonesia itu kuatnya kan di UMKM. Lihat negara lain, Jepang kuatnya di UMKM maka terus diperhatikan," pungkas Cucun.
(don)
Lihat Juga :