Mabar Milenial Terselip Gerakan Radikal
Senin, 14 September 2020 - 13:05 WIB
loading...
A
A
A
Septian tak pernah menaruh curiga, akun yang dipilih pun tak ada yang mencurigakan dari namanya. Waktu yang dipilih untuk mabar juga acak, tapi paling sering malam hari sampai Subuh menjelang.
"Ketika awal masuk masih normal saja, semua yang dibicarakan adalah permainan. Di tengah percakapan, terutama ketika bertarung kadang emosi kita diaduk. Ada kata-kata yang tak biasa seperti ajakan jihad ," ungkapnya.
Eks napiter yang juga penulis Buku Internetistan Arif Budi Setiawan menjelaskan, berbagai cara dilakukan kelompok radikal untuk membangun narasi yang tujuannya mempengaruhi masyarakat. Pola yang dipakai beragam serta sistemik.
Mereka juga masuk ke ruang-ruang digital untuk mempengaruhi dan menyebar ideologi . Kelompok radikal mencari cela yang bisa dilakukan untuk masuk ke kemunitas atau individu yang bisa dipengaruhi. Apalagi masa pandemi saat ini yang intensitas seseorang dengan internet lebih panjang drasinya. "Setiap hari mereka membangun narasi dan menyebar ideologi itu lewat internet," katanya.
Berbagai tahapan, katanya, juga dilakukan untuk memecah belah sasaran. Mulai dari perang fisik serta narasi yang terus diproduksi. Semua disesuaikan dengan sasaran yang didampingi. Model narasi yang digunakan pun beragam, ada yang masuk propaganda ideologi , narasi kegelisahan, sampai pada narasi perlawan.
Pada tahapan game online saja, mereka akan melihat dan mempelajari terlebih dahulu. Biasanya diawali dengan narasi ringan biar tidak ada kecurigaan. Setelah berhasil, mereka melanjutkan dengan propaganda ideologi. "Dibuat kepikiran, setelah itu baru dibuatkan narasi perlawanan," imbuhnya.
Narasi-narasi perlawanan itu dibangun untuk memperkuat kembali jejaring mereka di berbagai daerah. Dimensi ruang digital tanpa batas memudahkan jejaring mereka untuk terus menambah sasaran. (Baca juga: 18 Anak Terjaring Operasi Konten Pornografi di Warkop )
Kasi Partisipasi Masyarakat Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT) Letkol Setyo Pranowo menuturkan, banyak cara yang dilakukan kelompok radikal untuk bisa melakukan rekrutmen baru di berbagai tempat. Salah satunya dengan masuk ke ruang-ruang yang disukai para milenial.
Kelompok radikal juga ikut bermain game online serta menyesuaikan diri dengan kebiasaan kelompok muda. Mereka juga menyasar kelompok muda yang rentan serta belum mengetahui secara pasti maksud dan tujuan hidup mereka. ”Sasaran empuk mereka adalah kelompok rentan dan mereka yang baru belajar agama,” jelasnya.
Kondisi itu, katanya, dimanfaatkan betul oleh kelompok radikal untuk menanamkan benih dari serangkaian aksi terorisme sebagai bagian dari agama. Makanya para remaja yang galau menjadi mangsa empuk bagi mereka. Sebab, pikiran dan fokusnya labil.
Dalam situasi ini, pihaknya berharap betul kelompok mileniel maupun generasi alpha lebih kritis. Mereka harus memperkaya literasi yang bisa menjadi benteng dari hasutan serta serangan ideologi radikal lewat ruang-ruang digital.
"Literasi harus kuat dan belajar agama yang benar tentunya. Ini bisa menjadi cara untuk mencegah mereka terpapar paham radikal," katanya.
Tiap tahun, kelompok radikal selalu tak lagi sama dengan sebelumnya. Mereka mengubah berbagai perwajahan, lebih muda dan klemis. Mereka juga lebih milenial dan kekinian dalam berbagai cara yang dilakukan.
Eks napiter tiga zaman Saifuddin Umar alias Abu Fida mengatakan, gerakan radikal saat ini menyasar banyak kelompok milenial yang dianggap potensial saat ini. Tren hijrah pun terus didengungkan untuk bisa membangun sebuah narasi bagi kelompok milenial supaya mau melirik serta ikut dalam nafas yang sama.
"Ketika awal masuk masih normal saja, semua yang dibicarakan adalah permainan. Di tengah percakapan, terutama ketika bertarung kadang emosi kita diaduk. Ada kata-kata yang tak biasa seperti ajakan jihad ," ungkapnya.
Eks napiter yang juga penulis Buku Internetistan Arif Budi Setiawan menjelaskan, berbagai cara dilakukan kelompok radikal untuk membangun narasi yang tujuannya mempengaruhi masyarakat. Pola yang dipakai beragam serta sistemik.
Mereka juga masuk ke ruang-ruang digital untuk mempengaruhi dan menyebar ideologi . Kelompok radikal mencari cela yang bisa dilakukan untuk masuk ke kemunitas atau individu yang bisa dipengaruhi. Apalagi masa pandemi saat ini yang intensitas seseorang dengan internet lebih panjang drasinya. "Setiap hari mereka membangun narasi dan menyebar ideologi itu lewat internet," katanya.
Berbagai tahapan, katanya, juga dilakukan untuk memecah belah sasaran. Mulai dari perang fisik serta narasi yang terus diproduksi. Semua disesuaikan dengan sasaran yang didampingi. Model narasi yang digunakan pun beragam, ada yang masuk propaganda ideologi , narasi kegelisahan, sampai pada narasi perlawan.
Pada tahapan game online saja, mereka akan melihat dan mempelajari terlebih dahulu. Biasanya diawali dengan narasi ringan biar tidak ada kecurigaan. Setelah berhasil, mereka melanjutkan dengan propaganda ideologi. "Dibuat kepikiran, setelah itu baru dibuatkan narasi perlawanan," imbuhnya.
Narasi-narasi perlawanan itu dibangun untuk memperkuat kembali jejaring mereka di berbagai daerah. Dimensi ruang digital tanpa batas memudahkan jejaring mereka untuk terus menambah sasaran. (Baca juga: 18 Anak Terjaring Operasi Konten Pornografi di Warkop )
Kasi Partisipasi Masyarakat Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT) Letkol Setyo Pranowo menuturkan, banyak cara yang dilakukan kelompok radikal untuk bisa melakukan rekrutmen baru di berbagai tempat. Salah satunya dengan masuk ke ruang-ruang yang disukai para milenial.
Kelompok radikal juga ikut bermain game online serta menyesuaikan diri dengan kebiasaan kelompok muda. Mereka juga menyasar kelompok muda yang rentan serta belum mengetahui secara pasti maksud dan tujuan hidup mereka. ”Sasaran empuk mereka adalah kelompok rentan dan mereka yang baru belajar agama,” jelasnya.
Kondisi itu, katanya, dimanfaatkan betul oleh kelompok radikal untuk menanamkan benih dari serangkaian aksi terorisme sebagai bagian dari agama. Makanya para remaja yang galau menjadi mangsa empuk bagi mereka. Sebab, pikiran dan fokusnya labil.
Dalam situasi ini, pihaknya berharap betul kelompok mileniel maupun generasi alpha lebih kritis. Mereka harus memperkaya literasi yang bisa menjadi benteng dari hasutan serta serangan ideologi radikal lewat ruang-ruang digital.
"Literasi harus kuat dan belajar agama yang benar tentunya. Ini bisa menjadi cara untuk mencegah mereka terpapar paham radikal," katanya.
Tiap tahun, kelompok radikal selalu tak lagi sama dengan sebelumnya. Mereka mengubah berbagai perwajahan, lebih muda dan klemis. Mereka juga lebih milenial dan kekinian dalam berbagai cara yang dilakukan.
Eks napiter tiga zaman Saifuddin Umar alias Abu Fida mengatakan, gerakan radikal saat ini menyasar banyak kelompok milenial yang dianggap potensial saat ini. Tren hijrah pun terus didengungkan untuk bisa membangun sebuah narasi bagi kelompok milenial supaya mau melirik serta ikut dalam nafas yang sama.
Lihat Juga :