Kabupaten Bandung Ekspor 30 Ton Ubi Jalar Cileumbu ke Hongkong
Selasa, 08 September 2020 - 19:25 WIB
loading...
A
A
A
Kang Emil berharap Kabupaten Bandung fokus pada pertanian dan pariwisata. Pandemi COVID-19 mengajarkan bahwa sektor ekonomi yang mamppu bertahan adalah pertanian. "Saya mendorong pemuda mulai terjun di pertanian jadi petani milenial, tinggal di desa, rezeki kota, dan bisnis mendunia," kata Kang Emil.
Bupati Bandung Dadang M Naser menuturkan, petani Kabupaten Bandung bertani ubi jalar Cileumbu. Hampir di 8 kecamatan, petani membudidayakan umbi Cileumbu.
Hongkong, sebagai salah satu tujuan ekspor kali ini memang memiliki gaya hidup konsumsi ubi dan talas. "Di luar negeri, sumber konsumsi karbohidrat sudah bergeser pada ubi dan talas, diolah jadi berbagai masakan dan tepung. Ke depan ekspor tidak hanya gelondongan tapi kami siapkan dalam bentuk tepung," tutur Dadang.
Sementara itu, Direktur Aneka Kacang dan Umbi Kementan Amirudin Pohan mengatakan, di tengah pandemi COVID-19, ekspor pertanian masih bisa tumbuh 14 persen. Sesuai kebijakan Menteri Pertanian Syahrul Yasin Limpo, strategi peningkatkan ekspor, yakni pertama harus meningkatkan produksi 7 persen.
Kedua menjaga losses di bawah 10 persen dan yang ketiga adalah melalui Gerakan Tiga Kali Ekspor (Gratieks). Yang tak kalah penting juga adalah, Kementan meminta di hulu sampai hilir pertanian perlu dibentuk korporasi.
"Arahan Mentan Syahrul Yasin Limpo, kita harus mulai menggandeng mitra perbankan dengan KUR (Kredit Usaha Rakyat). Hilirnya, bekerja sama dengan swasta sebagai avalis penjamin ketika petani butuh permodalan," kata Amiruddin.
Dia berharap petani Jabar, khususnya Kabupaten Bandung, bisa menggaet hilir untuk ekspor. Ekspor ubi jalar secara nasional pada 2020, sampai Juli 2020, sebesar 9.000 ton.
Bupati Bandung Dadang M Naser menuturkan, petani Kabupaten Bandung bertani ubi jalar Cileumbu. Hampir di 8 kecamatan, petani membudidayakan umbi Cileumbu.
Hongkong, sebagai salah satu tujuan ekspor kali ini memang memiliki gaya hidup konsumsi ubi dan talas. "Di luar negeri, sumber konsumsi karbohidrat sudah bergeser pada ubi dan talas, diolah jadi berbagai masakan dan tepung. Ke depan ekspor tidak hanya gelondongan tapi kami siapkan dalam bentuk tepung," tutur Dadang.
Sementara itu, Direktur Aneka Kacang dan Umbi Kementan Amirudin Pohan mengatakan, di tengah pandemi COVID-19, ekspor pertanian masih bisa tumbuh 14 persen. Sesuai kebijakan Menteri Pertanian Syahrul Yasin Limpo, strategi peningkatkan ekspor, yakni pertama harus meningkatkan produksi 7 persen.
Kedua menjaga losses di bawah 10 persen dan yang ketiga adalah melalui Gerakan Tiga Kali Ekspor (Gratieks). Yang tak kalah penting juga adalah, Kementan meminta di hulu sampai hilir pertanian perlu dibentuk korporasi.
"Arahan Mentan Syahrul Yasin Limpo, kita harus mulai menggandeng mitra perbankan dengan KUR (Kredit Usaha Rakyat). Hilirnya, bekerja sama dengan swasta sebagai avalis penjamin ketika petani butuh permodalan," kata Amiruddin.
Dia berharap petani Jabar, khususnya Kabupaten Bandung, bisa menggaet hilir untuk ekspor. Ekspor ubi jalar secara nasional pada 2020, sampai Juli 2020, sebesar 9.000 ton.
Lihat Juga :