Cerita Raja Majapahit Tarik Upeti dari Rakyat untuk Bangun Istana Megah dan Pesta Besar-besaran
Selasa, 29 April 2025 - 07:31 WIB
loading...
Raja Majapahit menarik upeti dari rakyat untuk membangun Istana megah dan pesta besar-besaran untuk menunjukkan kemakmuran dan keagungan kerajaan. Foto/SindoNews
A
A
A
SEMARANG - Kerajaan Majapahit mengumpulkan pajak-pajak dari daerah ke pusat. Pajak-pajak itu dikirimkan melalui pegawai pajak khusus dan pendeta - pendeta yang dikirim Majapahit ke daerah seberang untuk menarik upeti pajak. Cara ini dijelaskan pada Kakawin Nagarakretagama Pupuh 15.
Saat menjalankan tugas itu, para pegawai dan para pendeta dilarang keras mencari untung demi kepentingannya sendiri. Maksudnya, agar jangan sampai tugas negara itu dilalaikan. Mungkin sekali perjalanan mereka ke daerah-daerah dikawal oleh angkatan laut, sehingga keamanan mereka terjamin dan pengumpulan upeti berjalan lancar, karena pembesar daerah takut kepadanya.
Di samping mengumpulkan upeti, mereka membuat laporan tentang keadaan tempat-tempat yang mereka kunjungi. Dengan jalan demikian, pemerintahan pusat mengetahui seluk-beluk keadaan daerah. Boleh dipastikan bahwa Prapanca sebagai Dharmmadyaksa Kasogatan memanfaatkan laporan-laporan para pendeta yang pernah berkunjung ke daerah-daerah, sehingga pengetahuannya tentang keadaan daerah, baik di seberang maupun di Jawa, sangat luas lagi mendalam.
Baca juga: Kekuasaan Kerajaan Majapahit Terbelah Dua Sebelum Sumpah Palapa Gajah Mada
Sejarawan Prof. Slamet Muljana, pada bukunya berjudul "Tafsir Sejarah Nagarakretagama" yang dikutip SindoNews, Selasa (29/4/2025) menuturkan, bagaimana harta benda persembahan upeti diserahkan kepada pemerintah pusat, terutama dimasukkan sebagai harta kekayaan raja untuk membiayai segala macam pengeluaran istana.
Saat menjalankan tugas itu, para pegawai dan para pendeta dilarang keras mencari untung demi kepentingannya sendiri. Maksudnya, agar jangan sampai tugas negara itu dilalaikan. Mungkin sekali perjalanan mereka ke daerah-daerah dikawal oleh angkatan laut, sehingga keamanan mereka terjamin dan pengumpulan upeti berjalan lancar, karena pembesar daerah takut kepadanya.
Di samping mengumpulkan upeti, mereka membuat laporan tentang keadaan tempat-tempat yang mereka kunjungi. Dengan jalan demikian, pemerintahan pusat mengetahui seluk-beluk keadaan daerah. Boleh dipastikan bahwa Prapanca sebagai Dharmmadyaksa Kasogatan memanfaatkan laporan-laporan para pendeta yang pernah berkunjung ke daerah-daerah, sehingga pengetahuannya tentang keadaan daerah, baik di seberang maupun di Jawa, sangat luas lagi mendalam.
Baca juga: Kekuasaan Kerajaan Majapahit Terbelah Dua Sebelum Sumpah Palapa Gajah Mada
Sejarawan Prof. Slamet Muljana, pada bukunya berjudul "Tafsir Sejarah Nagarakretagama" yang dikutip SindoNews, Selasa (29/4/2025) menuturkan, bagaimana harta benda persembahan upeti diserahkan kepada pemerintah pusat, terutama dimasukkan sebagai harta kekayaan raja untuk membiayai segala macam pengeluaran istana.
Lihat Juga :