Lapangan Bubat Majapahit, Medan Perang Dahsyat dan Pesta Rakyat Besar-besaran di Era Raja Hayam Wuruk
Rabu, 09 Oktober 2024 - 08:59 WIB
loading...
A
A
A
Lokasi ini digambarkan detail oleh Mpu Prapanca dalam Kakawin Nagarakretagama, yang jadi pujasastra untuk Raja Majapahit itu. Di kitab kuno itulah terungkap fungsi dari Bubat, hingga populer menjadi medan perang dua kerajaan besar di masanya.
Bubat adalah lapangan luas lagi lebar di sebelah utara kota Majapahit, membentang ke timur sejauh setengah krosa sampai jalan raya, dan membentang ke utara setengah krosa sampai tebing sungai.
Di sekelilingnya dibangun rumah kediaman para pegawai kerajaan.
Pada awal bulan Caitra (Maret-April) selama tiga atau empat hari di lapangan Bubat diadakan pesta rakyat, berupa berbagai pertandingan dan pertunjukan yang dihadiri oleh para pembesar kerajaan, termasuk Sang Prabhu Hayam Wuruk.
Pesta rakyat itu dimulai pada hari ketiga bulan Caitra sehabis pertemuan para pembesar di Manguntur untuk mendengarkan ajaran Rajakapakapa.
Di tengah-tengah lapangan dibuatkan panggung tinggi. Di sebelah barat panggung dibangun balai witana tempat duduk Sri Baginda raja. Tempat duduk para menteri dan adhyaksa diatur dari utara ke selatan menghadap ke timur, sedangkan, para raja bawahan dan para aria diatur dari utara ke selatan menghadap ke barat.
Bubat adalah lapangan luas lagi lebar di sebelah utara kota Majapahit, membentang ke timur sejauh setengah krosa sampai jalan raya, dan membentang ke utara setengah krosa sampai tebing sungai.
Di sekelilingnya dibangun rumah kediaman para pegawai kerajaan.
Pada awal bulan Caitra (Maret-April) selama tiga atau empat hari di lapangan Bubat diadakan pesta rakyat, berupa berbagai pertandingan dan pertunjukan yang dihadiri oleh para pembesar kerajaan, termasuk Sang Prabhu Hayam Wuruk.
Pesta rakyat itu dimulai pada hari ketiga bulan Caitra sehabis pertemuan para pembesar di Manguntur untuk mendengarkan ajaran Rajakapakapa.
Di tengah-tengah lapangan dibuatkan panggung tinggi. Di sebelah barat panggung dibangun balai witana tempat duduk Sri Baginda raja. Tempat duduk para menteri dan adhyaksa diatur dari utara ke selatan menghadap ke timur, sedangkan, para raja bawahan dan para aria diatur dari utara ke selatan menghadap ke barat.
(shf)
Lihat Juga :