Kisah Soetarjo, Pejuang Gerilyawan Bersenjata Peluru Uang Koin Usir Tentara Sekutu
Selasa, 20 Agustus 2024 - 09:00 WIB
loading...
A
A
A
“Saya dulu itu pegang senapan bomen, dulu itu digunakan buat berburu babi hutan. Lucunya senjatanya ada tapi pelurunya gak ada, disiasati dengan menggunakan uang koin 1 sen Belanda, tapi ya ditembakkan 10 meter hilang pelurunya,” terang pria berusia 99 tahun ini.
Baca Juga: Kisah Cinta Jenderal TNI Bibit Waluyo, Terpesona Paras Cantik Gadis SMA
“Ada juga pistol yang dibawa komandan cuma satu, Bomen ada 10, senapan Jepang satu, kemudian geranat nanas buatan Jepang. Geranat nanas ini dulu dijadikan caranya dengan diikatkan sama bekas wadah cat kemudian dilempar-lempar,” sambungnya.
Soetarjo mengatakan ikut perang dua kali saat Agresi Militer Belanda 1 dan 2 di Solo, tapi ia hanya mampu melakukan perang gerilya. Pasalnya mereka kekurangan jumlah pasukan dan senjata, jika dipaksa perang terbuka sudah pasti mereka akan digilas tank dan panser milik musuh.
“Sebenarnya yang di Solo ini Belanda-nya beda, kalau di Surabaya itu benderanya merah putih biru. Tapi kalau di Solo itu bendera Inggris, orangnya kecil-kecil gak seperti orang Belanda yang besar-besar,” ungkapnya.
Soetarjo mengenang jika selama bergerilya, mereka mengincar persediaan militer milik musuh. Mereka juga akan menculik pasukan patroli musuh untuk mendapatkan informasi.
Baca Juga: Kesaktian Pangeran Puger Runtuhkan Kegarangan Komandan VOC Kapten Tack
Baca Juga: Kisah Cinta Jenderal TNI Bibit Waluyo, Terpesona Paras Cantik Gadis SMA
“Ada juga pistol yang dibawa komandan cuma satu, Bomen ada 10, senapan Jepang satu, kemudian geranat nanas buatan Jepang. Geranat nanas ini dulu dijadikan caranya dengan diikatkan sama bekas wadah cat kemudian dilempar-lempar,” sambungnya.
Soetarjo mengatakan ikut perang dua kali saat Agresi Militer Belanda 1 dan 2 di Solo, tapi ia hanya mampu melakukan perang gerilya. Pasalnya mereka kekurangan jumlah pasukan dan senjata, jika dipaksa perang terbuka sudah pasti mereka akan digilas tank dan panser milik musuh.
“Sebenarnya yang di Solo ini Belanda-nya beda, kalau di Surabaya itu benderanya merah putih biru. Tapi kalau di Solo itu bendera Inggris, orangnya kecil-kecil gak seperti orang Belanda yang besar-besar,” ungkapnya.
Soetarjo mengenang jika selama bergerilya, mereka mengincar persediaan militer milik musuh. Mereka juga akan menculik pasukan patroli musuh untuk mendapatkan informasi.
Baca Juga: Kesaktian Pangeran Puger Runtuhkan Kegarangan Komandan VOC Kapten Tack
Lihat Juga :