Kisah Soetarjo, Pejuang Gerilyawan Bersenjata Peluru Uang Koin Usir Tentara Sekutu
Selasa, 20 Agustus 2024 - 09:00 WIB
loading...
A
A
A
Namun di saat ada pergolakan mempertahankan kemerdekaan pada Agresi Militer Belanda dan sekutu itu, semapt ada kejadian pemberontakan Partai Komunis Indonesia (PKI) pimpinan Musso.
“Di tengah gencatan senjata perjanjian Renville 1948 itu sempat ada kejadian PKI Musso. Tapi tentara Belanda itu masih ada di Solo, Semarang, sampai Surabaya. Kemudian perang besar gerilya lagi sampai gencatan senjata lagi karena perjanjian meja bundar tahun 1949,” jelasnya.
Soetarjo akhirnya benar-benar bisa merasakan kemerdekaan usai Agresi Militer Belanda 2 berakhir pada 5 Januari 1949. Belanda akhirnya menarik pasukannya setelah mendapat kecaman dunia. “Baru setelah itu kita merdeka sepenuhnya nggak ada yang menjajah lagi,” kata dia.
Dirinya berpesan kepada generasi muda bahwa perjuangan Indonesia saat ini bukan lagi dengan perang angkat senjata, melainkan melawan kemiskinan dan kebodohan. Maka ia berharap generasi muda sekarang belajar giat untuk memajukan Bangsa Indonesia.
“Anak pejuang bukan anaknya veteran, semua anak muda itu kita anggap anak pejuang semua. Perjuangan dulu macam-macam, tidak hanya memegang senjata, tapi petani hingga pedagang juga pejuang, kalau tidak ada nasi tidak akan kuat perang,” pungkasnya.
“Di tengah gencatan senjata perjanjian Renville 1948 itu sempat ada kejadian PKI Musso. Tapi tentara Belanda itu masih ada di Solo, Semarang, sampai Surabaya. Kemudian perang besar gerilya lagi sampai gencatan senjata lagi karena perjanjian meja bundar tahun 1949,” jelasnya.
Soetarjo akhirnya benar-benar bisa merasakan kemerdekaan usai Agresi Militer Belanda 2 berakhir pada 5 Januari 1949. Belanda akhirnya menarik pasukannya setelah mendapat kecaman dunia. “Baru setelah itu kita merdeka sepenuhnya nggak ada yang menjajah lagi,” kata dia.
Dirinya berpesan kepada generasi muda bahwa perjuangan Indonesia saat ini bukan lagi dengan perang angkat senjata, melainkan melawan kemiskinan dan kebodohan. Maka ia berharap generasi muda sekarang belajar giat untuk memajukan Bangsa Indonesia.
“Anak pejuang bukan anaknya veteran, semua anak muda itu kita anggap anak pejuang semua. Perjuangan dulu macam-macam, tidak hanya memegang senjata, tapi petani hingga pedagang juga pejuang, kalau tidak ada nasi tidak akan kuat perang,” pungkasnya.
(ams)
Lihat Juga :