Kisah Soetarjo, Pejuang Gerilyawan Bersenjata Peluru Uang Koin Usir Tentara Sekutu

Selasa, 20 Agustus 2024 - 09:00 WIB
loading...
Kisah Soetarjo, Pejuang...
Soetarjo menjadi satu dari sekian pejuang gerilyawan Indonesia di Malang berumur 99 tahun. Foto: SINDOnews/Avirista Midaada
A A A
SOETARJO menjadi satu dari sekian pejuang gerilyawan Indonesia di Malang yang berumur panjang. Pria yang menghabiskan masa tuanya di Desa Mulyoagung, Kecamatan Dau, Kabupaten Malang, ini merupakan anggota pasukan gerilyawan pada tahun 1947 hingga 1949.

Soetarjo menyatakan, jika ia merupakan anak ketiga dari 6 bersaudara, kakak pertama dan keduanya merupakan pejuang gerilya. Tapi kakak keduanya gugur dalam perang di Semarang tahun 1947, membuat ia terpacu untuk ikut berjuang melawan Belanda.

“Awalnya 1945 saya pendidikan Calon Prajurit Keraton Solo. Tapi saat 1947 kakak kedua saya meninggal. Jadi saya keluar dari Calon Prajurit Keraton Solo dan ikut pasukan gerilya, kebetulan ditempatkan di Kecamatan Sidoharjo, Kabupaten Wonogiri,” ucap Soetarjo.

Baca Juga: Kisah Cinta Jenderal Kopassus AM Hendropriyono, Pinjamkan Topi untuk Taklukkan Hati Tati Mulya

Soetarjo mengenang jika kakaknya itu orang yang tidak kenal rasa takut. Kakak kedua bernama Soedijono ini memiliki punya semboyan 'Berani Membunuh, Berani Dibunuh.' Kini Soedijono dimakamkan di Taman Makam Pahlawan (TMP) Solo Nomor 25B.

“Pertama kali dinas tahun 1947 di pemerintahan militer, sekarang Koramil, waktu itu di wilayah Kecamatan Sidoharjo, Kabupaten Wonogiri, mulai tahun 1947 sampai 1949,” ucapnya.

Soetarjo mengungkapkan, jika mereka selalu kekurangan senjata, menurutnya persenjataan lengkap hanya di kota-kota besar, sementara yang di daerah menggunakan alat seadanya. Bahkan ada momen ketika ia menggunakan senjata berburu babi hutan, tapi tidak terisi peluru.

“Saya dulu itu pegang senapan bomen, dulu itu digunakan buat berburu babi hutan. Lucunya senjatanya ada tapi pelurunya gak ada, disiasati dengan menggunakan uang koin 1 sen Belanda, tapi ya ditembakkan 10 meter hilang pelurunya,” terang pria berusia 99 tahun ini.

Baca Juga: Kisah Cinta Jenderal TNI Bibit Waluyo, Terpesona Paras Cantik Gadis SMA

“Ada juga pistol yang dibawa komandan cuma satu, Bomen ada 10, senapan Jepang satu, kemudian geranat nanas buatan Jepang. Geranat nanas ini dulu dijadikan caranya dengan diikatkan sama bekas wadah cat kemudian dilempar-lempar,” sambungnya.

Soetarjo mengatakan ikut perang dua kali saat Agresi Militer Belanda 1 dan 2 di Solo, tapi ia hanya mampu melakukan perang gerilya. Pasalnya mereka kekurangan jumlah pasukan dan senjata, jika dipaksa perang terbuka sudah pasti mereka akan digilas tank dan panser milik musuh.

“Sebenarnya yang di Solo ini Belanda-nya beda, kalau di Surabaya itu benderanya merah putih biru. Tapi kalau di Solo itu bendera Inggris, orangnya kecil-kecil gak seperti orang Belanda yang besar-besar,” ungkapnya.

Soetarjo mengenang jika selama bergerilya, mereka mengincar persediaan militer milik musuh. Mereka juga akan menculik pasukan patroli musuh untuk mendapatkan informasi.

Baca Juga: Kesaktian Pangeran Puger Runtuhkan Kegarangan Komandan VOC Kapten Tack

Namun di saat ada pergolakan mempertahankan kemerdekaan pada Agresi Militer Belanda dan sekutu itu, semapt ada kejadian pemberontakan Partai Komunis Indonesia (PKI) pimpinan Musso.

“Di tengah gencatan senjata perjanjian Renville 1948 itu sempat ada kejadian PKI Musso. Tapi tentara Belanda itu masih ada di Solo, Semarang, sampai Surabaya. Kemudian perang besar gerilya lagi sampai gencatan senjata lagi karena perjanjian meja bundar tahun 1949,” jelasnya.

Soetarjo akhirnya benar-benar bisa merasakan kemerdekaan usai Agresi Militer Belanda 2 berakhir pada 5 Januari 1949. Belanda akhirnya menarik pasukannya setelah mendapat kecaman dunia. “Baru setelah itu kita merdeka sepenuhnya nggak ada yang menjajah lagi,” kata dia.

Dirinya berpesan kepada generasi muda bahwa perjuangan Indonesia saat ini bukan lagi dengan perang angkat senjata, melainkan melawan kemiskinan dan kebodohan. Maka ia berharap generasi muda sekarang belajar giat untuk memajukan Bangsa Indonesia.

“Anak pejuang bukan anaknya veteran, semua anak muda itu kita anggap anak pejuang semua. Perjuangan dulu macam-macam, tidak hanya memegang senjata, tapi petani hingga pedagang juga pejuang, kalau tidak ada nasi tidak akan kuat perang,” pungkasnya.
(ams)
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!
Lanjut Baca Berita Terkait Lainnya
Berita Terkait
Kisah Cinta Sutan Sjahrir...
Kisah Cinta Sutan Sjahrir dan Maria Mieske, Dipisahkan Penjara hingga Politik Kolonial Belanda
196 Tahun Keris Kanjeng...
196 Tahun Keris Kanjeng Kiai Nogo Siluman, Pusaka Pangeran Diponegoro Simbol Kepemimpinan Tanah Jawa
Kisah Jenderal Kopassus...
Kisah Jenderal Kopassus Soegito Pertaruhkan Nyawa saat Hadapi Pemberontak Fretilin
Kisah Pasukan Legiun...
Kisah Pasukan Legiun Mangkunegaran Mampu Menandingi Kekuatan Militer Eropa
Kisah Jenderal Sjafrie...
Kisah Jenderal Sjafrie Kawal Soeharto yang Tolak Pakai Rompi Anti Peluru saat Kunjungan ke Bosnia
Sepak Terjang Matah...
Sepak Terjang Matah Ati, Istri Pangeran Sambernyawa yang Jadi Panglima Pasukan Khusus Wanita Mangkunegaran
Mengapa Proyek Tank...
Mengapa Proyek Tank MGCS Eropa Berisiko Gagal?
Senapan Pasukan Khusus...
Senapan Pasukan Khusus AS Bukan Hanya Sekadar Senjata, Ini 3 Keunggulannya
7 Senjata yang Mengubah...
7 Senjata yang Mengubah Dunia pada Perang Dunia II, dari Supersonik hingga Bom Nuklir
Rekomendasi
Dorong Bioenergi, PLN...
Dorong Bioenergi, PLN EPI Siap Serap 10 Juta Ton Biomassa di 2030
Sony Sonjaya Ungkap...
Sony Sonjaya Ungkap 41 Nama Diduga Minta Titik SPPG, Sahroni Khawatir untuk Mengelabui Penyidik
Boni Hargens Minta Hilangkan...
Boni Hargens Minta Hilangkan Prasangka Buruk terhadap Polri
Berita Terkini
BPDP Dorong UMKM Perkebunan...
BPDP Dorong UMKM Perkebunan Naik Kelas lewat Inovasi Produk
Jelang Hari Bhayangkara,...
Jelang Hari Bhayangkara, Kapolri Ziarah ke Makam Gus Dur
Sambut 5 Abad Jakarta,...
Sambut 5 Abad Jakarta, Pramono Anung Siapkan 500 Ondel-ondel Karya Desainer Top
Warga Rawa Buaya Bersyukur...
Warga Rawa Buaya Bersyukur Terima Bantuan Kursi Roda dari Dina Masyusin dan Dinsos
Kisah Cinta Sutan Sjahrir...
Kisah Cinta Sutan Sjahrir dan Maria Mieske, Dipisahkan Penjara hingga Politik Kolonial Belanda
Almamater Lima Soroti...
Almamater Lima Soroti Dugaan Penyusutan Lahan Taman Potret Tangerang
Infografis
Serangan Drone Pejuang...
Serangan Drone Pejuang Irak, 26 Tentara Israel Mati dan Cedera
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved