Kisah Siu Ban Ci Mualaf, Selir Cantik Prabu Brawijaya yang Dipandang Sebelah Mata
Rabu, 07 Agustus 2024 - 15:15 WIB
loading...
A
A
A
Prabu Brawijaya V merasa lega atas kelapangan hati Siu Ban Ci, ia berharap suatu saat nanti calon putra yang sedang dikandung oleh Dewi Kian akan menjadi pemimpin besar.
Siu Ban Ci akhirnya dikirim ke Palembang dalam kondisi hamil tiga bulan. Siu Ban Cai dititipkan kepada Adipati Palembang, Arya Damar.
Palembang pada saat itu masih berada di bawah kekuasaan Majapahit dan banyak penduduknya berasal dari China. Dengan menitipkan Siu Ban Cai kepada Arya Damar, Prabu Brawijaya berharap Siu Ban Cai akan lebih betah hidup di Palembang.
Arya Damar, yang merupakan putra Raja Majapahit Bathara Prabu Wikramawardhana dengan seorang selir berdarah China, memiliki nama asli Swan Liong. Arya Damar adalah paman dari Prabu Brawijaya.
Saat dititipkan ke Arya Damar, Siu Ban Ci akhirnya memutuskan untuk mualaf. Keputusan pindah agam ini menjadi momen puncak dari proses pembelajaran agama Islam oleh Siu Ban Ci yang diarahkan langsung oleh Arya Damar.
"Raden, bimbinglah saya untuk memeluk agama Islam, saya merasa cocok dengan Islam, seperti yang Raden Arya Damar dan Dewi Dilah lakukan," tutur Siu Ban Ci di hadapan Arya Damar dikutip dari buku Brawijaya Moksa Detik-Detik Akhir Perjalanan Hidup Prabu Majapahit.
Siu Ban Ci benar benar menyatakan keislamannya dengan tulus kepada Raden Arya Damar.
"Alhamdulillah akhirnya Tuan Putri mendapatkan hidayah juga," ujar Raden Arya Damar menyukuri karunia hidayah bagi Siu Ban Ci.
Begitulah, akhirnya Dewi Kian secara tulus menyatakan syahadat di depan para ulama Kadipaten Palembang, terutama disaksikan langsung oleh Arya Damar.
Siu Ban Ci berpindah agama dari Buddha ke agama Islam tanpa paksaan dari siapa pun.
Dengan demikian, seiring dengan semakin dekatnya Siu Ban Ci akan melahirkan, ia semakin intens mendalami risalah ajaran Islam, terutama menelaah kandungan Al-Qu'ran.
Siu Ban Ci yang dikenal tidak hanya cantik tapi pintar ini pun hanya mempelajari beberapa bulan saja tentang Islam, namun dia sudah menunjukkan tanda-tanda kemajuan yang sangat pesat.
Bukan saja belajar membaca dengan ilmu tajwid, tetapi juga memperdalam kandungan isi Al-Quran dari para ulama Palembang, dan terutama Raden Arya Damar.
Siu Ban Ci merenungkan dalam-dalam pernyataan Arya Damar bahwa janin yang dibacakan Al-Quran akan menjadi cerdas.
Istri selir Prabu Brawijaya V yang baru tergolong mu'alaf itu menyadari terhadap kemurahan ajaran Islam, misalnya terkait dengan menjalankan ibadah salat.
Siu Ban Ci akhirnya dikirim ke Palembang dalam kondisi hamil tiga bulan. Siu Ban Cai dititipkan kepada Adipati Palembang, Arya Damar.
Palembang pada saat itu masih berada di bawah kekuasaan Majapahit dan banyak penduduknya berasal dari China. Dengan menitipkan Siu Ban Cai kepada Arya Damar, Prabu Brawijaya berharap Siu Ban Cai akan lebih betah hidup di Palembang.
Arya Damar, yang merupakan putra Raja Majapahit Bathara Prabu Wikramawardhana dengan seorang selir berdarah China, memiliki nama asli Swan Liong. Arya Damar adalah paman dari Prabu Brawijaya.
Saat dititipkan ke Arya Damar, Siu Ban Ci akhirnya memutuskan untuk mualaf. Keputusan pindah agam ini menjadi momen puncak dari proses pembelajaran agama Islam oleh Siu Ban Ci yang diarahkan langsung oleh Arya Damar.
"Raden, bimbinglah saya untuk memeluk agama Islam, saya merasa cocok dengan Islam, seperti yang Raden Arya Damar dan Dewi Dilah lakukan," tutur Siu Ban Ci di hadapan Arya Damar dikutip dari buku Brawijaya Moksa Detik-Detik Akhir Perjalanan Hidup Prabu Majapahit.
Siu Ban Ci benar benar menyatakan keislamannya dengan tulus kepada Raden Arya Damar.
"Alhamdulillah akhirnya Tuan Putri mendapatkan hidayah juga," ujar Raden Arya Damar menyukuri karunia hidayah bagi Siu Ban Ci.
Begitulah, akhirnya Dewi Kian secara tulus menyatakan syahadat di depan para ulama Kadipaten Palembang, terutama disaksikan langsung oleh Arya Damar.
Siu Ban Ci berpindah agama dari Buddha ke agama Islam tanpa paksaan dari siapa pun.
Dengan demikian, seiring dengan semakin dekatnya Siu Ban Ci akan melahirkan, ia semakin intens mendalami risalah ajaran Islam, terutama menelaah kandungan Al-Qu'ran.
Siu Ban Ci yang dikenal tidak hanya cantik tapi pintar ini pun hanya mempelajari beberapa bulan saja tentang Islam, namun dia sudah menunjukkan tanda-tanda kemajuan yang sangat pesat.
Bukan saja belajar membaca dengan ilmu tajwid, tetapi juga memperdalam kandungan isi Al-Quran dari para ulama Palembang, dan terutama Raden Arya Damar.
Siu Ban Ci merenungkan dalam-dalam pernyataan Arya Damar bahwa janin yang dibacakan Al-Quran akan menjadi cerdas.
Istri selir Prabu Brawijaya V yang baru tergolong mu'alaf itu menyadari terhadap kemurahan ajaran Islam, misalnya terkait dengan menjalankan ibadah salat.
Lihat Juga :