Kisah Siu Ban Ci Mualaf, Selir Cantik Prabu Brawijaya yang Dipandang Sebelah Mata
Rabu, 07 Agustus 2024 - 15:15 WIB
loading...
A
A
A
Dari khazanah yang ia pelajari, misalnya seseorang tidak bisa berdiri ketika salat, hendaknya ia duduk. Jika duduk pun tak mampu, maka ia boleh menunaikan ibadah sholat sambil berbaring.
Jika berbaring pun tak kuasa, ia bisa menjalankan salat dengan mempergunakan isyarat mata. Nah, kalau isyarat mata pun tak bisa dikerjakan, maka ia akan disalatkan.
Walaupun tengah hamil besar, namun hal itu tak sampai menghalangi semangat Siu Ban Ci untuk mendapatkan penjelasan mengenai esensi agama Islam.
Suatu hari Siu Ban Ci bertanya kepada Arya Damar mengenai Nabi dan Rasul. "Apa itu Nabi dan Rasul?" tanya Dewi Kian.
"Kalau Nabi adalah orang yang mendapatkan wahyu dari Allah, tetapi untuk dirinya sendiri. Sementara Rasul adalah orang yang mendapatkan wahyu dari Allah, selain untuk dirinya sendiri juga diperuntukkan umat manusia,” jelas Arya Damar.
Siu Ban Ci pun mengangguk sembari memikirkan pertanyaan selanjutnya.
Tapi sepertinya Arya Damar tahu apa yang sedang dipikirkan Dewi Kian seraya menerangkan tentang Siddharta Gautama (Buddha) dan Nabi Muhammad SAW.
"Sidharta Gautama itu diperkirakan salah seorang Nabi di antara 124.000 orang (Nabi) di dunia, sedang Rasul berjumlah 314 orang dan hanya 25 orang Rasul saja yang disebutkan di dalam Al-Qur'an. Tapi dalam hal ini Nabi Muhammad bukan saja seorang Nabi, tetapi juga Rasul Allah yang terakhir. Artinya, setelah Nabi Muhammad, maka tidak ada lagi utusan Tuhan karena sudah disempurnakan dalam agama Islam!" terang Arya Damar.
"Kalau begitu, apakah wahyu Al-Qur'an yang diturunkan kepada Nabi Muhammad itu seperti wahyu yang diterima Sidharta Gautama dulu saat bersemadi di bawah pohon body?" tanya Siu Ban Ci denga polos.
"Ya seperti itulah kira-kira." jawab Arya Damar.
Arya Damar pun berharap setidaknya penjelasannya yang sangat singkat itu dapat membantu Siu Ban Ci untuk cepat memahami agama Islam dengan baik.
Selanjutnya, Prabu Brawijaya pun merelakan Arya Damar menikahi Siu Ban Ci, dengan syarat Siu Ban Ci tidak diapa-apakan sebelum anak dari buah cintanya lahir.
Prabu Brawijaya juga meminta agar bayi yang ada dalam kandungan Siu Ban Ci diberi nama Naraprakosa, yang berarti laki-laki perkasa.
Setelah lahir, buah cinta Prabu Brawijaya dengan Siu Ban Ca diberi nama Raden Hasan, dengan nama China Jin Bun. Ketika dewasa, Raden Hasan melakukan perjalanan ke tanah Jawa untuk menemui ayah kandungnya, Prabu Brawijaya.
Jika berbaring pun tak kuasa, ia bisa menjalankan salat dengan mempergunakan isyarat mata. Nah, kalau isyarat mata pun tak bisa dikerjakan, maka ia akan disalatkan.
Walaupun tengah hamil besar, namun hal itu tak sampai menghalangi semangat Siu Ban Ci untuk mendapatkan penjelasan mengenai esensi agama Islam.
Suatu hari Siu Ban Ci bertanya kepada Arya Damar mengenai Nabi dan Rasul. "Apa itu Nabi dan Rasul?" tanya Dewi Kian.
"Kalau Nabi adalah orang yang mendapatkan wahyu dari Allah, tetapi untuk dirinya sendiri. Sementara Rasul adalah orang yang mendapatkan wahyu dari Allah, selain untuk dirinya sendiri juga diperuntukkan umat manusia,” jelas Arya Damar.
Siu Ban Ci pun mengangguk sembari memikirkan pertanyaan selanjutnya.
Tapi sepertinya Arya Damar tahu apa yang sedang dipikirkan Dewi Kian seraya menerangkan tentang Siddharta Gautama (Buddha) dan Nabi Muhammad SAW.
"Sidharta Gautama itu diperkirakan salah seorang Nabi di antara 124.000 orang (Nabi) di dunia, sedang Rasul berjumlah 314 orang dan hanya 25 orang Rasul saja yang disebutkan di dalam Al-Qur'an. Tapi dalam hal ini Nabi Muhammad bukan saja seorang Nabi, tetapi juga Rasul Allah yang terakhir. Artinya, setelah Nabi Muhammad, maka tidak ada lagi utusan Tuhan karena sudah disempurnakan dalam agama Islam!" terang Arya Damar.
"Kalau begitu, apakah wahyu Al-Qur'an yang diturunkan kepada Nabi Muhammad itu seperti wahyu yang diterima Sidharta Gautama dulu saat bersemadi di bawah pohon body?" tanya Siu Ban Ci denga polos.
"Ya seperti itulah kira-kira." jawab Arya Damar.
Arya Damar pun berharap setidaknya penjelasannya yang sangat singkat itu dapat membantu Siu Ban Ci untuk cepat memahami agama Islam dengan baik.
Selanjutnya, Prabu Brawijaya pun merelakan Arya Damar menikahi Siu Ban Ci, dengan syarat Siu Ban Ci tidak diapa-apakan sebelum anak dari buah cintanya lahir.
Prabu Brawijaya juga meminta agar bayi yang ada dalam kandungan Siu Ban Ci diberi nama Naraprakosa, yang berarti laki-laki perkasa.
Setelah lahir, buah cinta Prabu Brawijaya dengan Siu Ban Ca diberi nama Raden Hasan, dengan nama China Jin Bun. Ketika dewasa, Raden Hasan melakukan perjalanan ke tanah Jawa untuk menemui ayah kandungnya, Prabu Brawijaya.
(shf)
Lihat Juga :