Misteri Kitab Pararaton Kisahkan Perjalanan Raja Singasari dan Majapahit
Selasa, 06 Agustus 2024 - 09:20 WIB
loading...
A
A
A
Tapi kedua versi Pararaton yang bertahun Saka 1535, maupun yang bertahun Saka 1522 sama-sama ditutup dengan peristiwa gunung meletus pada wuku Watugunung tahun Śaka 1403 (1481 Masehi).
Peristiwa ini berselang tiga tahun setelah kematian seorang raja di istana Majapahit pada Saka 1400 (1478 Masehi).
Raja yang meninggal itu bukanlah raja terakhir Dinasti Rajasa karena masih ada Sri Girindrawardhana Dyah Ranawijaya yang namanya tertulis dalam Prasasti Pețak bertahun Saka 1408 (1486 Mase- hi). Anehnya, nama raja ini tidak disebutkan dalam Pararaton.
Dengan demikian, dapat diperkirakan bahwa Pararaton disusun sesudah tahun 1481 dan sebelum tahun 1486.
Kemungkinan kedua, penulis Pararaton sengaja tidak mengisahkan Sri Girindrawardhana Dyah Ranawijaya, karena saat itu pusat pemerintahan Dinasti Rajasa sudah pindah ke Keling, tidak lagi di Majapahit.
Peristiwa ini berselang tiga tahun setelah kematian seorang raja di istana Majapahit pada Saka 1400 (1478 Masehi).
Raja yang meninggal itu bukanlah raja terakhir Dinasti Rajasa karena masih ada Sri Girindrawardhana Dyah Ranawijaya yang namanya tertulis dalam Prasasti Pețak bertahun Saka 1408 (1486 Mase- hi). Anehnya, nama raja ini tidak disebutkan dalam Pararaton.
Dengan demikian, dapat diperkirakan bahwa Pararaton disusun sesudah tahun 1481 dan sebelum tahun 1486.
Kemungkinan kedua, penulis Pararaton sengaja tidak mengisahkan Sri Girindrawardhana Dyah Ranawijaya, karena saat itu pusat pemerintahan Dinasti Rajasa sudah pindah ke Keling, tidak lagi di Majapahit.
(ams)
Lihat Juga :