Kisah Mayor Sabarudin, Sosok Prajurit Bengis Berjuluk Macan Sidoarjo
Sabtu, 20 April 2024 - 08:14 WIB
loading...
A
A
A
Dari sinilah kebrutalan dan kegilaan Mayor Sabaruddin dan ratusan anak buahnya yang fanatik bermula. Sepak terjang petarung republik yang berjuluk si Macan Sidoarjo ini sungguh bikin geleng-geleng kepala.
Siapapun yang ditangkapnya dengan dugaan atau tuduhan sesuatu seperti mata-mata misalnya, bisa-bisa langsung dicabut nyawanya tanpa penyelidikan lebih lanjut. Pernah termaktub kisahnya dalam buku di atas, dia menangkap tiga pemuda asal Maluku dan dituduh mata-mata.
Kelanjutannya? Ketiga pemuda itu dibakar hidup-hidup setelah lebih dulu diguyur bensin. Mayor Sabaruddin juga gila wanita. Sabaruddin yang juga diketahui punya istri keturunan Belanda, sering mengumpulkan eks tawanan interniran wanita kulit putih untuk dijadikan budak seks.
Baca Juga: Jejak Kebengisan Amangkurat I, Bunuh Ribuan Ulama karena Takut Kehilangan Takhta
Wanita-wanita itu baru kemudian ditemukan dan diselamatkan M Jasin, Komandan Polisi Istimewa (kini Brimob) bersama Laskar Pesindo, Laskar Minyak dan Hizbullah.
“Dalam penggerebekan (di satu Harem di sekitar Trawas) itu ditemukan 8 wanita Eropa yang sedang hamil, 4 besek penuh perhiasan. Wanita dan emas itu diduga dirampas dari kamp-kamp interniran,” ungkap M Jasin dalam ‘Memoar Jasin Sang Polisi Pejuang’.
Orang-orang Belanda yang ada di perkebunan tebu dan pabrik gula di Candi, Sidoarjo juga masuk daftar korban si Macan Sidoarjo. Salah satu korbannya adalah ayah Wieteke Van Dort, penembang lagu legendaris ‘Geef Mij Maar Nasi Goreng’.
“Ayahnya dia (Wieteke van Dort)administrateurdi pabrik gula candi. Ikut jadi korbannya Sabaruddin. Dia ikut juga dibawa ke Alun-Alun Sidoarjo. Ditembak 7 orang dalam regu tembak. Tembakan terakhir diarahkan ke lehernya pakai pistol revolver,” sambung Ady.
“Selain sukanyulikwanita-wanita Belanda, kekejaman Sabaruddin juga pernah menyeret orang pakai truk dari Surabaya sampai Sidoarjo. Karena kebrutalannya itu, dia juga diburu sama TNI. Tapi sempat ditangkap, lalu dilepas lagi karena terjadi Agresi II,” lanjutnya.
Baca Juga: Mirip Sengkuni, Kelicikan dan Hasutan Mahapati Bikin Kerajaan Majapahit Perang Saudara
Meski begitu, jangan sangka Sabaruddin takut dengan sesama tentara. Apalagi polisi macam M Jasin yang pernah protes, lantaran Kepala Biro Kepolisian Surabaya Basuki, pernah jadi korban salah tangkap Sabaruddin.
Sesama tentara pun pernah dibunuhnya hanya karena berebut wanita yang juga putri Bupati Sidoarjo bernama Indriyati. Korbannya bernama Soerjo, mantan atasan Sabaruddin semasa di PETA dulu.
Soerjo juga ikut melanjutkan karier di tentara republik sebagai kepala keuangan dan perlengkapan TKR. Karena Soerjo berasal dari keluarga priyai, jelas putri bupati yang terkenal cantik itu memilih Soerjo ketimbang Sabaruddin.
Siapapun yang ditangkapnya dengan dugaan atau tuduhan sesuatu seperti mata-mata misalnya, bisa-bisa langsung dicabut nyawanya tanpa penyelidikan lebih lanjut. Pernah termaktub kisahnya dalam buku di atas, dia menangkap tiga pemuda asal Maluku dan dituduh mata-mata.
Kelanjutannya? Ketiga pemuda itu dibakar hidup-hidup setelah lebih dulu diguyur bensin. Mayor Sabaruddin juga gila wanita. Sabaruddin yang juga diketahui punya istri keturunan Belanda, sering mengumpulkan eks tawanan interniran wanita kulit putih untuk dijadikan budak seks.
Baca Juga: Jejak Kebengisan Amangkurat I, Bunuh Ribuan Ulama karena Takut Kehilangan Takhta
Wanita-wanita itu baru kemudian ditemukan dan diselamatkan M Jasin, Komandan Polisi Istimewa (kini Brimob) bersama Laskar Pesindo, Laskar Minyak dan Hizbullah.
“Dalam penggerebekan (di satu Harem di sekitar Trawas) itu ditemukan 8 wanita Eropa yang sedang hamil, 4 besek penuh perhiasan. Wanita dan emas itu diduga dirampas dari kamp-kamp interniran,” ungkap M Jasin dalam ‘Memoar Jasin Sang Polisi Pejuang’.
Orang-orang Belanda yang ada di perkebunan tebu dan pabrik gula di Candi, Sidoarjo juga masuk daftar korban si Macan Sidoarjo. Salah satu korbannya adalah ayah Wieteke Van Dort, penembang lagu legendaris ‘Geef Mij Maar Nasi Goreng’.
“Ayahnya dia (Wieteke van Dort)administrateurdi pabrik gula candi. Ikut jadi korbannya Sabaruddin. Dia ikut juga dibawa ke Alun-Alun Sidoarjo. Ditembak 7 orang dalam regu tembak. Tembakan terakhir diarahkan ke lehernya pakai pistol revolver,” sambung Ady.
“Selain sukanyulikwanita-wanita Belanda, kekejaman Sabaruddin juga pernah menyeret orang pakai truk dari Surabaya sampai Sidoarjo. Karena kebrutalannya itu, dia juga diburu sama TNI. Tapi sempat ditangkap, lalu dilepas lagi karena terjadi Agresi II,” lanjutnya.
Baca Juga: Mirip Sengkuni, Kelicikan dan Hasutan Mahapati Bikin Kerajaan Majapahit Perang Saudara
Meski begitu, jangan sangka Sabaruddin takut dengan sesama tentara. Apalagi polisi macam M Jasin yang pernah protes, lantaran Kepala Biro Kepolisian Surabaya Basuki, pernah jadi korban salah tangkap Sabaruddin.
Sesama tentara pun pernah dibunuhnya hanya karena berebut wanita yang juga putri Bupati Sidoarjo bernama Indriyati. Korbannya bernama Soerjo, mantan atasan Sabaruddin semasa di PETA dulu.
Soerjo juga ikut melanjutkan karier di tentara republik sebagai kepala keuangan dan perlengkapan TKR. Karena Soerjo berasal dari keluarga priyai, jelas putri bupati yang terkenal cantik itu memilih Soerjo ketimbang Sabaruddin.
Lihat Juga :