Berkat Cak Machfud, Langgar Bersejarah KH Hasan Gipo Kembali Hidup
Selasa, 11 Agustus 2020 - 08:52 WIB
loading...
Langgar Gipo, bangunan bersejarah dan cagar budaya di Kota Surabaya, Jatim kini tampak cantik dan hidup usai direvitalisasi atas bantuan Machfud Arifin. Foto/Ist
A
A
A
SURABAYA - Langgar Gipo merupakan bangunan yang pernah menjadi saksi sejarah Kota Surabaya , Jawa Timur. Langgar ini juga pernah menjadi tempat pemberangkatan jamaah haji asal Surabaya.
Bahkan di Langgar Gipo inilah presiden pertama atau yang saat ini dikenal Ketua Dewan Tanfiziyah pertama Nahdlatul Ulama (NU) yaitu KH Hasan Gipo mengaji dan melakukan kegiatan masyarakat. Tempat bersejarah ini sudah dijadikan bangunan warisan budaya . Sayangnya, Langgar Gipo sempat seperti mati suri, luput dari perhatian pembangunan Pemkot Surabaya. (Baca juga: Langgar Gipo Surabaya Diusulkan Menjadi Cagar Budaya)
"Sejak tahun 2018 sudah diusulkan oleh pemerintah sebagai cagar budaya. Bahkan sudah disurvei juga, tapi sampai saat ini tidak ada realisasinya,” kata keluarga sekaligus ahli waris Sagipoddin, Abdul Wahid Zein, Senin (10/8/2020). (Baca juga: Aksi Penyerangan di Pasar Kliwon Solo, Begini Cerita Keluarga Korban)
Bahkan para ahli waris harus saling bahu membahu mencari bantuan kepada lembaga masyarakat dan tokoh untuk berupaya menghidupkan kembali Langgar Gipo. Kondisi bangunan dua lantai ini tampak rapuh dan kumuh. Jauh dari kesan bangunan bersejarah. "Ahli waris akhirnya berjuang mengharapkan dari para tokoh dan komunitas pemerhati sejarah untuk pemugaran," ungkap Zein yang juga Ketua Umum (Ketum) Ikatan Keluarga Sagipoddin (IKSA).
Lantai yang seharusnya bisa menjadi alas duduk sudah tidak bisa dipakai lantaran rusak dimakan zaman. Sumur yang menjadi sumber air pun tidak terpakai. Tangga yang dibangun pada tahun 1700-an masih orisinil konsep keluarga Sagipodin namun terlihat tampak rapuh.
Bahkan di Langgar Gipo inilah presiden pertama atau yang saat ini dikenal Ketua Dewan Tanfiziyah pertama Nahdlatul Ulama (NU) yaitu KH Hasan Gipo mengaji dan melakukan kegiatan masyarakat. Tempat bersejarah ini sudah dijadikan bangunan warisan budaya . Sayangnya, Langgar Gipo sempat seperti mati suri, luput dari perhatian pembangunan Pemkot Surabaya. (Baca juga: Langgar Gipo Surabaya Diusulkan Menjadi Cagar Budaya)
"Sejak tahun 2018 sudah diusulkan oleh pemerintah sebagai cagar budaya. Bahkan sudah disurvei juga, tapi sampai saat ini tidak ada realisasinya,” kata keluarga sekaligus ahli waris Sagipoddin, Abdul Wahid Zein, Senin (10/8/2020). (Baca juga: Aksi Penyerangan di Pasar Kliwon Solo, Begini Cerita Keluarga Korban)
Bahkan para ahli waris harus saling bahu membahu mencari bantuan kepada lembaga masyarakat dan tokoh untuk berupaya menghidupkan kembali Langgar Gipo. Kondisi bangunan dua lantai ini tampak rapuh dan kumuh. Jauh dari kesan bangunan bersejarah. "Ahli waris akhirnya berjuang mengharapkan dari para tokoh dan komunitas pemerhati sejarah untuk pemugaran," ungkap Zein yang juga Ketua Umum (Ketum) Ikatan Keluarga Sagipoddin (IKSA).
Lantai yang seharusnya bisa menjadi alas duduk sudah tidak bisa dipakai lantaran rusak dimakan zaman. Sumur yang menjadi sumber air pun tidak terpakai. Tangga yang dibangun pada tahun 1700-an masih orisinil konsep keluarga Sagipodin namun terlihat tampak rapuh.
Lihat Juga :