Kemarau Baru Mulai, Warga Selatan KBB Sudah Kesulitan Air Bersih
Sabtu, 08 Agustus 2020 - 19:35 WIB
loading...
Warga Kampung Peusinggirang, mengantre air bersih di sumur bor wakaf di MTs Nurul Mukhtariyah, Kecamatan Sindangkerta, Kabupaten Bandung Barat (KBB). Foto/Dok.MTs Nurul Mukhtariyah
A
A
A
BANDUNG -
Warga di wilayah selatan Kabupaten Bandung Barat (KBB), sudah mulai merasakan sulitnya untuk mendapatkan air bersih di awal musim kemarau ini. Pasalnya air sumur warga sudah banyak yang menyusut, sehingga mereka terpaksa harus mengantre ke sumur bor di salah satu sekolahan dekat permukiman warga.
(Baca juga: Gadis Rohingnya Kabur Dari Tempat Pengungsian di Aceh )
Seperti terlihat pada puluhan warga di Kampung Peusinggirang RT 5 RW 2 Desa Sindangkerta, Kecamatan Sindangkerta, KBB. Untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari, setiap pagi dan sore warga harus mengantre mengambil air ke beberapa sumur yang masih ada airnya, salah satunya di MTs Nurul Mukhtariyah.
"Meski baru awal masuk kemarau tapi sumur-sumur di sini sudah banyak yang susut airnya. Pagi ditimba sore gak ada," kata Ketua RT 5 Kampung Peusinggirang, Rizal kepada SINDOnews, Sabtu (8/8/2020).
Anggota Badan Permusyarawatan Desa (BPD) Sindangkerta, Arif Surahman menuturkan, sumur di Kampung Peusinggirang, kebanyakan sumur gali yang hanya memiliki kedalaman sekitar 10 meter. Di saat musim penghujan air melimpah, tapi begitu masuk musim kemarau debit air cepat menyusut. Hanya warga yang punya sumur bor yang tidak merasakan dampak musim kemarau.
Warga di wilayah selatan Kabupaten Bandung Barat (KBB), sudah mulai merasakan sulitnya untuk mendapatkan air bersih di awal musim kemarau ini. Pasalnya air sumur warga sudah banyak yang menyusut, sehingga mereka terpaksa harus mengantre ke sumur bor di salah satu sekolahan dekat permukiman warga.
(Baca juga: Gadis Rohingnya Kabur Dari Tempat Pengungsian di Aceh )
Seperti terlihat pada puluhan warga di Kampung Peusinggirang RT 5 RW 2 Desa Sindangkerta, Kecamatan Sindangkerta, KBB. Untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari, setiap pagi dan sore warga harus mengantre mengambil air ke beberapa sumur yang masih ada airnya, salah satunya di MTs Nurul Mukhtariyah.
"Meski baru awal masuk kemarau tapi sumur-sumur di sini sudah banyak yang susut airnya. Pagi ditimba sore gak ada," kata Ketua RT 5 Kampung Peusinggirang, Rizal kepada SINDOnews, Sabtu (8/8/2020).
Anggota Badan Permusyarawatan Desa (BPD) Sindangkerta, Arif Surahman menuturkan, sumur di Kampung Peusinggirang, kebanyakan sumur gali yang hanya memiliki kedalaman sekitar 10 meter. Di saat musim penghujan air melimpah, tapi begitu masuk musim kemarau debit air cepat menyusut. Hanya warga yang punya sumur bor yang tidak merasakan dampak musim kemarau.
Lihat Juga :