Marak Kasus Stunting, Jawa Tengah Waspadai Konsumsi Kental Manis
Rabu, 15 November 2023 - 18:25 WIB
loading...
A
A
A
Baca juga: Perangi Stunting, Pangkas Obesitas
Kader posyandu bertugas untuk melakukan intervensi pemberian makanan tambahan (PMT) dan edukasi mengenai stunting di masyarakat. Dengan langkah tersebut diharapkan angka stunting di Jawa Tengah dapat turun setidaknya 3 point pada tahun 2024 dari angka saat ini yaitu 20,8%.
“Kami berharap target provinsi Jawa Tengah pada tahun 2024 tercapai atau setidaknya angka prevalensi stunting pada tahun 2024 turun sebanyak tiga poin di 2024,” ujar Yuni.
Dalam kesempatan itu, PP Aisyiyah dan YAICI juga berkesempatan memaparkan hasil temuan lapangan terhadap keluarga dengan anak stunting yang dilakukan di Kelurahan Randusari, Kecamatan Semarang Selatan, Kota Semarang.
Pada umumnya anak balita yang terindikasi stunting memiliki kebiasaan jajan sembarangan serta pola asuh orang tua yang tidak paham akan gizi yang baik untuk anak.
Pada beberapa kasus temuan, orang tua lebih memilih untuk membiarkan anak jajan pangan instan tinggi kandungan garam, gula, dan lemak (GGL) di warung terdekat seperti kental manis, es teh dan snack-snack murah karena anggapan “yang penting makan” dari orang tua. Akibatnya, anak memiliki perilaku makan yang buruk.
Koordinator Divisi Pemberdayaan Masyarakat Majelis Kesehatan PP Aisyiyah, Dr Ekorini Listiowati menekankan bahwa sebagai organisasi perempuan terbesar di Indonesia siap ikut andil dan turut berkontribusi bersama pemerintah Jawa Tengah untuk memperkuat edukasi pengentasan stunting dan kental manis.
Kader posyandu bertugas untuk melakukan intervensi pemberian makanan tambahan (PMT) dan edukasi mengenai stunting di masyarakat. Dengan langkah tersebut diharapkan angka stunting di Jawa Tengah dapat turun setidaknya 3 point pada tahun 2024 dari angka saat ini yaitu 20,8%.
“Kami berharap target provinsi Jawa Tengah pada tahun 2024 tercapai atau setidaknya angka prevalensi stunting pada tahun 2024 turun sebanyak tiga poin di 2024,” ujar Yuni.
Dalam kesempatan itu, PP Aisyiyah dan YAICI juga berkesempatan memaparkan hasil temuan lapangan terhadap keluarga dengan anak stunting yang dilakukan di Kelurahan Randusari, Kecamatan Semarang Selatan, Kota Semarang.
Pada umumnya anak balita yang terindikasi stunting memiliki kebiasaan jajan sembarangan serta pola asuh orang tua yang tidak paham akan gizi yang baik untuk anak.
Pada beberapa kasus temuan, orang tua lebih memilih untuk membiarkan anak jajan pangan instan tinggi kandungan garam, gula, dan lemak (GGL) di warung terdekat seperti kental manis, es teh dan snack-snack murah karena anggapan “yang penting makan” dari orang tua. Akibatnya, anak memiliki perilaku makan yang buruk.
Koordinator Divisi Pemberdayaan Masyarakat Majelis Kesehatan PP Aisyiyah, Dr Ekorini Listiowati menekankan bahwa sebagai organisasi perempuan terbesar di Indonesia siap ikut andil dan turut berkontribusi bersama pemerintah Jawa Tengah untuk memperkuat edukasi pengentasan stunting dan kental manis.
Lihat Juga :