Kisah Oei Tiong Ham, Raja Gula Nusantara Crazy Rich Pertama Asia Tenggara
Sabtu, 28 Oktober 2023 - 07:08 WIB
loading...
A
A
A
Pada 1889, melalui pengacaranya Baron CW van Heckeren, dia mengajukan petisi untuk diizinkan memotong taocang/kepangnya dan berpakaian menurut gaya Eropa. Petisi ini dikabulkan oleh Pemerintah Kolonial Hindia Belanda.
Dengan dikabulkannya petisi itu, Oei Tiong Ham menjadi orang China-Jawa pertama yang memakai pakaian ala Eropa di Semarang. Baru pada 1905, orang China akhirnya dibebaskan berpakaian tanpa harus meminta izin terlebih dahulu.
Namun, setahun sebelumnya pada 1904, para pegawainya di Kian Gwan telah mengikuti gaya berpakaiannya. Kebangkitan Oei Tiong Ham dalam dunia bisnis sangat cepat, bahkan sanggup melampaui prestasi yang pernah ditorehkan oleh ayahnya.
Baca Juga: Kisah Sunan Kalijaga Luruhkan Murka Sultan Agung dengan Serban Hitam
Oei Tiong Ham mulai nyempung secara total dalam dunia bisnis pada 1890, ketika usianya baru menginjak 24 tahun. Bakatnya dalam menjalankan bisnis dituruni dari ayahnya Oei Tjie Sien. Dengan tekun, Oei Tiong Ham belajar kepada ayahnya.
Keberhasilannya yang pertama dalam berdagang adalah dengan berjualan candu. Bisnis ini dijalankannya pada 1886. Saat itu, Oei Tiong Ham diangkat sebagai letnan di bawah sistem Perwira China Bhe Kwat King di Semarang.
Baru pada 1890 pangkatnya dinaikkan menjadi Mayor Tituler. Dia menduduki jabatan itu hingga 13 tahun sampai 1903. Dengan jabatan itu (Selain karena kecakapannya), Oei Tiong Ham mendapatkan banyak kemudahan dan keberhasilan menjual candu.
Pada 1900, Oei Tjie Sien meninggal dunia di Landhuis Penggiling (Distrik Simongan) pada usia 65 tahun. Sepeninggalnya Oei Tjie Sien, bisnis Kian Gwan yang berarti Sumber Semua Kebahagiaan dilanjutkan oleh anaknya Oei Tiong Ham.
Baca Juga: Kisah Laksamana Cheng Ho Menyebarkan Islam di Nusantara
Di tangan Oei Tiong Ham, bisnis Kian Gwan tumbuh sangat pesat. Bisnis utama Kian Gwan saat itu adalah gula, selain karet, kapuk randu, kopi, tepung tepioka, lada, jagung kacang tanah, buah jarak, dan minyak sereh.
Dengan bantuan uang tunai sebesar USD300.000,00 dari seorang tua berkebangsaan Jerman, bekas konsul Jerman di Hindia Belanda, Oei Tiong Ham mengirim pegawainya orang Belanda dan China ke pabrik-pabrik di Eropa.
Langkah Oei Tiong Ham mengirim para pekerjanya ke Eropa untuk mempelajari bagaimana cara menjalankan dan memperbaiki mesin-mesin baru dan metode produksi baru. Pengiriman tenaga ahli ke luar ini dia lakukan secara periodik.
Hasilnya, pabrik gula milik Kian Gwan menjadi pabrik modern pertama di Hindia Belanda. Saat itu, Oei Tiog Ham telah menjadi pengusaha paling kaya di Hindia Belanda dan Asia yang sangat disegani dunia.
Baca Juga: Kisah Duel Maut Laksamana Malahayati dengan Pemimpin Belanda di Kapal Perang
Sejumlah surat kabar yang terbit saat itu, seperti De Locomotief di Semarang, Java Bode, Nieuws van den Dag di Batavia, dan Soerabaiasch Handelsblad menulis Oei Tiong Ham sebagai The Richest man between Shanghai and Australia.
Tidak banyak yang tahu, bahwa pada 1921 Oei Tiong Ham membayar kerugian perang Belanda dari keuntungan bisnisnya hingga 35 juta gulden. Pembayaran itu dilakukan dengan menggunakan cek yang ditarik dari Javasche Bank.
Dengan dikabulkannya petisi itu, Oei Tiong Ham menjadi orang China-Jawa pertama yang memakai pakaian ala Eropa di Semarang. Baru pada 1905, orang China akhirnya dibebaskan berpakaian tanpa harus meminta izin terlebih dahulu.
Namun, setahun sebelumnya pada 1904, para pegawainya di Kian Gwan telah mengikuti gaya berpakaiannya. Kebangkitan Oei Tiong Ham dalam dunia bisnis sangat cepat, bahkan sanggup melampaui prestasi yang pernah ditorehkan oleh ayahnya.
Baca Juga: Kisah Sunan Kalijaga Luruhkan Murka Sultan Agung dengan Serban Hitam
Oei Tiong Ham mulai nyempung secara total dalam dunia bisnis pada 1890, ketika usianya baru menginjak 24 tahun. Bakatnya dalam menjalankan bisnis dituruni dari ayahnya Oei Tjie Sien. Dengan tekun, Oei Tiong Ham belajar kepada ayahnya.
Keberhasilannya yang pertama dalam berdagang adalah dengan berjualan candu. Bisnis ini dijalankannya pada 1886. Saat itu, Oei Tiong Ham diangkat sebagai letnan di bawah sistem Perwira China Bhe Kwat King di Semarang.
Baru pada 1890 pangkatnya dinaikkan menjadi Mayor Tituler. Dia menduduki jabatan itu hingga 13 tahun sampai 1903. Dengan jabatan itu (Selain karena kecakapannya), Oei Tiong Ham mendapatkan banyak kemudahan dan keberhasilan menjual candu.
Pada 1900, Oei Tjie Sien meninggal dunia di Landhuis Penggiling (Distrik Simongan) pada usia 65 tahun. Sepeninggalnya Oei Tjie Sien, bisnis Kian Gwan yang berarti Sumber Semua Kebahagiaan dilanjutkan oleh anaknya Oei Tiong Ham.
Baca Juga: Kisah Laksamana Cheng Ho Menyebarkan Islam di Nusantara
Di tangan Oei Tiong Ham, bisnis Kian Gwan tumbuh sangat pesat. Bisnis utama Kian Gwan saat itu adalah gula, selain karet, kapuk randu, kopi, tepung tepioka, lada, jagung kacang tanah, buah jarak, dan minyak sereh.
Dengan bantuan uang tunai sebesar USD300.000,00 dari seorang tua berkebangsaan Jerman, bekas konsul Jerman di Hindia Belanda, Oei Tiong Ham mengirim pegawainya orang Belanda dan China ke pabrik-pabrik di Eropa.
Langkah Oei Tiong Ham mengirim para pekerjanya ke Eropa untuk mempelajari bagaimana cara menjalankan dan memperbaiki mesin-mesin baru dan metode produksi baru. Pengiriman tenaga ahli ke luar ini dia lakukan secara periodik.
Hasilnya, pabrik gula milik Kian Gwan menjadi pabrik modern pertama di Hindia Belanda. Saat itu, Oei Tiog Ham telah menjadi pengusaha paling kaya di Hindia Belanda dan Asia yang sangat disegani dunia.
Baca Juga: Kisah Duel Maut Laksamana Malahayati dengan Pemimpin Belanda di Kapal Perang
Sejumlah surat kabar yang terbit saat itu, seperti De Locomotief di Semarang, Java Bode, Nieuws van den Dag di Batavia, dan Soerabaiasch Handelsblad menulis Oei Tiong Ham sebagai The Richest man between Shanghai and Australia.
Tidak banyak yang tahu, bahwa pada 1921 Oei Tiong Ham membayar kerugian perang Belanda dari keuntungan bisnisnya hingga 35 juta gulden. Pembayaran itu dilakukan dengan menggunakan cek yang ditarik dari Javasche Bank.
Lihat Juga :